2

Mengenal Program Langit Biru (0)

Supadilah S.Si March 31, 2021

Di satu sisi perubahan ini membawa kemajuan bagi kami. Akses ke kota atau ke daerah-daerah manapun semakin lancar. Orang dengan mudah bepergian ke mana pun. Tansportasi semakin maju dan mobilitas masyarakat makin lancar. 

Tapi di sisi lain terjadi perubahan lingkungan. Udara semakin panas dan gersang. Bisa jadi karena hutan semakin habis atau karena banyaknya kendaraan juga. Tentu saja. Sebab semakin banyak kendaraan, akan semakin besar pula pencemaran udara.

Dulu memang tidak banyak yang menyadarinya bahwa asap kendaraan ini bisa membuat pencemaran udara.

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan KBR mengadakan Diskusi Publik Penggunaan BBM Ramah Lingkungan 25 Maret 2021 dengan tema Penggunaan BBM Ramah Lingkungan Guna Mewujudkan Program Langit Biru. Dari webinar itu kita tahu bahwa penggunaan BBM ramah lingkungan tidak mudah. Padahal program ini sangat penting sekali.

Nah, beberapa manfaat menggunakan BBM ramah lingkungan, bisa Anda baca di link berikut ini.

Sementara itu, kalau bicara dampak negatifnya, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menegaskan tentang dampak penggunaan bahan bakar bermutu rendah. “Kalau mobil tidak menggunakan BBM sesuai jenis mesinnya, akan ada knocking. Jika ini terjadi, pabrikan mobil biasanya tidak mau menanggung garansi lagi.”

Jadi, penggunaan BBM bukan hanya urusan mobil saja. Implikasinya luas. Penggunaan BBM berkualitas rendah menyebabkan berkontribusi pencemaran udara. Biaya ekonomi-sosial pencemaran udara jauh lebih mahal daripada penghematan yang diraih individu dengan menggunakan BBM berkualitas jauh lebih rendah.

Tidak dimungkiri kebijakan pengurangan atau penghapusan BBM berkualitas rendah dipengaruhi kebijakan pemerintah. Jadi, perlu ada keseriusan pemerintah tegas untuk mengurangi atau bahkan menghapus distribusi BBM ini. Nah, sebetulnya negara kita sudah mengarah ke sana.

Perpres No 191 tahun 2014 mengatakan bahwa premium akan ditiadakan, tertentu, dan diawasi. Bahkan di 2015, premium tidak didistribusikan lagi di Jawa dan Bali. Tetapi di 2019 Perpres ini diganti kembali diubah, akhirnya Jawa dan Bali didistribusikan kembali.

Premium memiliki Research Octane Number (RON) 88. Padahal, BBM standar dipasaran harus sudah ber-RON 90. Semakin tinggi nilai oktannya, semakin sedikit residu pada mesin. Sehingga, kendaraan yang masih menggunakan premium lebih rawan mengalami kerusakan mesin karena pembakaran yang tidak sempurna pada mesinnya.

Apalagi untuk kendaraan dengan kompresi mesin yang tinggi, maka wajib hukumnya menggunakan BBM dengan nilai oktan tinggi. Setiap pabrikan mobil mengeluarkan produk dengan nilai minimum RON.

Saat ini mobil-mobil sudah menggunakan kompresi tinggi. Jadi kalau memilih BBM lebih rendah dari standar yang ditentukan akan menimbulkan residu pada mesin karena pembakaran yang tidak sempurna. Akibatnya, mesin akan cepat rusak. Pengennya menghemat BBM tapi malah membuat rusak mesin.

Emisi kendaraan bermotor mengandung gas karbonmonoksida (CO), nitrogen oksida (N)x), hidrokarbon (HC), dan partikulat lain (particulatte matter/PM) yang bisa berdampak negatif bagi jika melebihi ambang konsentrasi tertentu. 

Pasar negara ASEAN rata-rata sudah menerapkan Euro 4. Sementara, di Indonesia, penerapan standar Emisi Euro 4 Indonesia masih sedikit sekali. Bahkan secara nasional diundur ke April 2022 lantaran pandemi.

About Author

Supadilah S.Si

Seorang guru di SMA Terpadu Al Qudwah, Lebak, Banten. Selalu berusaha menjadi guru yang baik untuk murid-muridnya. Suka belajar apapun. Hobi menulis di blog atau media sosial. Pengen dapat banyak ilmu dan pengalaman di www.guraru.org. Ayo saling berbagi

View all posts by Supadilah S.Si →

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar