6

Mengapa Pendidikan Multikultural Itu Penting ? (+4)

Mushlihin October 4, 2013

Sebenarnya, pendidikan multikultural merupakan sebuah istilah yang sudah lama muncul dalam dunia pendidikan. Hanya saja, gaung dan peranannya kurang begitu meyakinkan bagi masyarakat yang seharusnya mengapresiasi secara maksimal terhadap diskursus ini. Masyarakat yang harus mengapresiasi pendidikan multikultural adalah masyarakat yang secara obyektif memiliki anggota yang heterogenitas dan pluralitas. Paling tidak pluralitas dan heterogenitas anggota masyrakat tersebut bias dilihat pada eksistensi keragaman suku, ras, agama dan budaya.

Istilah Multikultural itu sendiri berakar dari kata kultur yang berarti budaya atau peradaban. Dalam wacana pendidikan multikultural muncul keyword yakni pluralitas dan kultural. Sebab, pemahaman terhadap pluralitas mencakup segala peradaban dan keragaman. Sedang kultur itu sendiri tidak bisa terlepas dari empat tema penting yaitu agama, ras, suku dan budaya.

Dalam implementasi pendidikan multikultural dalam kehidupan bermasyarakat, paling tidak ada beberapa jalur yang kita tempuh diantaranya adalah pendidikan. Pendidikan yang selama ini dipercaya masyarakat adalah mampu mengadakan perubahan baik dari fiscal ataupun pola fikir manusia. Dengan berasumsi bahwa pendidikan akan mampu membawa perubahan pada diri manusia, maka wacana multikultural dapat dianalogkan dengan pendidikan itu sendiri.

PICT0196

Kemunculan pendidikan multikultural merupakan celah yang membawa nilai tersendiri. Karena selain memiliki cita-cita luhur, pendidikan multikultural juga mengorientasikan pendidikan dengan pendidikan untuk semua. Artinya, Pendidikan multikultural menolak sebuah sistem bisnis dalam dunia pendidikan.

Atas dasar inilah maka pendidikan multikultural sangat menekankan orientasi pendidikan pada siswa atau komunitas tertentu, yang memungkinkan seorang guru memahami keyakinan serta nilai-nilai sosio-budaya siswa dalam konteks kurikulum dan kebudayaan masyarakat ketika merancang subuah model pembelajarannya. Dalam hal ini para pendidik diharapkan mampu untuk mengakumulasikan metode-metode secara antropologis untuk mengidentifikasi kelompok sosio-budaya, nilai-nilai serta praktiknya yang mempengaruhi proses keberlangsungan sistem tersebut.

Dengan ini paling tidak peminat pendidikan akan mencari alternatif yang dianggap paling mampu untuk menjawab kegelisahan-kegelisahan sistem yang dianggap perlu dimarginalkan. Pendidikan multikultural adalah strategi pendidikan yang yang diaplikasikan pada semua jenis mata pelajaran dengan cara menggunakan perbedaan-perbedaan cultural yang ada pada peserta didik seperti perbedaan etnis, agama, bahasa, bahasa, gender, kelas sosial, ras, kemampuan dan umur agar proses belajar menjadi efektif dan mudah.

Bertolak dari sebuah pengalaman bahwa sistem pendidikan akan menjadi boomerang bagi setiap pelaku sistem, jika sistem tersebut hanya mementingkan pada golongan tertentu, atau memihak pada sisi-sisi tertentu. Seharusnya pendidikan multikultural dipersepsikan sebagai jembatan untuk mencapai kehidupan bersama dari umat manusia di dalam era globalisasi yang penuh dengan tantangan-tantangan baru.

Maka, sekaranglah waktunya muka pendidikan kita membutuhkan pendidikan yang dirancang untuk mendorong munculnya kemanusiaan yang sama diantara sesama manusia, yang memungkinkan komunikasi, ketimbang berkubang dalam individualitas masing-masing. Perbedaan-perbedaan antarperorangan berarti bahwa perkembangan masing-masing manusia berlainan. Sekalipun kita semua berjuang keras agar segenap daya kemanusiaan individualnya mencapai puncak, tetap saja hasil-hasilnya tidak akan sama, karena daya individualitasnyapun berbeda.

Metode yang diterapkan dalam pendidikan multikultural adalah dengan menggunakan model komunikatif dengan menjadikan aspek perbedaan tersebut sebagai titik tekan. Metode dialog ini sangat efektif, apalagi dalam proses belajar mengajaryang sifatnya kajian perbandingan agama dan budaya. Sebab dengan wacana dialogis akan memungkinkan setiap komunitas yang notabenenya memiliki latar belakang yang berbeda dapat mengemukakan pendapat secara argumentatif. Dalam proses inilah diharapkan nantinya memungkinkan adanya sikap lending dan borrowing serta saling mengenal diantara berbagai perbedaan yang ada. Sehingga bentuk-bentuk diskriminatif dapat diminimalisir.

Salam Celoteh

Tagged with:

Comments (6)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar