0

Mengapa Kita Berharap Orang Lain Gagal? (+1)

Kusnandar Putra February 21, 2014

بسم – الله – الرحمن – الرحيم

Kadang kita memiliki perasaan iri hati atau cemburu terhadap orang lain. Dan tanpa kita sadari kita sering merasakan kegirangan besar atas kegagalan yang menimpa orang lain. Kemalangan yang menimpa orang lain membuat hidup kita terasa lebih baik. Banyak di antara kita yang mengukur kesuksesan dari kehidupan orang lain, kegagalan orang lain menjadi sebuah kesuksesan bagi kita. Astagfirulloh…..

Ketahuilah, hidup bukanlah permainan
menang-kalah ‘atas orang lain’. Jangan jadikan kegagalan orang lain sebagai pijakan kesuksesan kita. Orang yang bangkrut, kita malah bersyukur, pihak yang kendarannya hilang, kita malah tertawa. Astagfirulloh….

Bayangkan bila keadaan berbalik arah dan kitalah yang ada dalam posisi kemalangan.

Perlu diketahui bahwa iri, dengki atau hasad – istilah yang hampir sama- adalah menginginkan hilangnya nikmat dari orang lain. Asal sekedar benci orang lain mendapatkan nikmat, itu sudah dinamakan hasad, itulah iri. Hasad seperti inilah yang tercela.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,
“Hasad adalah sekedar benci dan tidak suka terhadap kebaikan yang ada pada orang lain yang ia lihat .”

Maka dari itu, apa solusi agar hasad ini hilang?

Al-Ustadz Luqman Jamal, Lc. memberi solusi:

1. Orang memandang lebih baik strata
kehidupannya, itu dari sisi dia. Artinya kalau melihat orang punya mobil, dia selalu memandang yang punya mobil lebih baik kehidupannya. Padahal belum tentu! Yang punya mobil setengah mati memikirkan bagaimana cicilannya. Jadi, itu hanya prasangka kebanyakannya, sehingga membuat ia iri hati, yang membuat ia susah, yang seharusnya ia tidak susah.

Padahal kalau ia melihat apa yang Alloh
subhanahu wa ta’ala berikan kepadanya, bisa saja dia lebih baik. Artinya itu relatif sekali, tidak ada ukurannya, kebanyakannya hanya meraba-raba.

Makanya orang yang boleh kita hasad ada 2:

A. Orang yang punya harta dan harta itu digunakan dalam kebaikan. Bukan karena banyak hartanya, tetapi ketika digunakan dalam kebaikan. Bukan karena banyaknya saja, tapi penggunaannya.

B. Orang yang diberi ilmu: al-Quran dan Sunnah dan mengamalkannya. Karena ilmu saja tidak cukup, harus diamalkan.

2. Yang mengatur adalah Alloh, bukan kita. Jadi, hakikatnya orang yang ir hati, hakekatnya dia iri hati kepada Alloh subhanahu wa ta’ala. Itulah orang rugi. Karena ia tidak bisa mengatur Alloh,
tapi ia yang diatur. Alloh yang menentukan rezki masing-masing. Ada yang diluaskan dan ada yang disempitkan.

3. Alloh kadang menjadikan seseorang itu kaya karena ia nanti baik hidupnya jika dia kaya. Karena ketika ia miskin, dia futur. Dan sebaliknya, ada orang yang baik ketika ia miskin daripasa dia kaya. Ketika miskin, rajin ke masjid, rajin tahajjud, rajin membaca Quran, rajin taklim. Ketika kaya, dia lupa. Jadi apa yang Alloh takdirkan, itulah lebih baik.

Makanya kita hanya dituntut mengambil sebab- sebab. Hasilnya bukan urusan kita, tapi mengaturnya Alloh subhanahu wa ta’ala.

Semoga Alloh subhanahu wa ta’ala menjauhkan kita dari sifat hasad ini….[]

–Minasa Upa, 13 Rabiul Akhir 1435 H

Tagged with:

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar