21

Mengapa Integritas Guru Begitu Lemah? (+2)

Sri Sugiastuti January 4, 2014

Seseorang dapat dikatakan berkarakter jika telah berhasil menyerap nilai dan keyakinan yang dikehendaki masyarakat serta digunakan sebagai kekuatan moral dalam hidupnya. Yang dilandasi hakekat dan tujuan pendidikan. Berarti ia memiliki kepribadian yang ditinjau dari titik tolak etis atau moral, seperti sifat kejujuran, amanah, keteladanan , atau pun sifat-sifat lain yang melekat pada diri pendidik.

Kenyataan, betapa lemahnya integritas guru terhadap pekerjaannya, betapa lemahnya amanah yang diemban oleh guru, dan belum bisa dijadikan teladan. Tiap tahun ada berbagai bentuk kecurangan dan pelanggaran pada saat pelaksanaan UN. Sehingga system pendidikan jadi rusak. Dan masih banyak lagi hal yang memalukan dilakukan oleh oknum guru. Hal ini menambah keprihatinan keluarga besar guru tentunya. Maka pendidikan berkarakter itu amatlah penting.

UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang system Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 3 menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa , berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Karakter bisa diubah melalui pendidikan.

Hal ini sesuai dengan ayat yang berbunyi “:…. Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri sendiri….. (Ar Ra’d/13;11) Platform pendidikan berkarakter bangsa Indonesia dipelopori oleh Ki Hajar Dewantoto, walaupun belum sepenuhnya dapat diterapkan oleh bangsa ini. Yang berbunyi: Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mbangun karsa, Tut wuri handayani. Di depan memberikan teladan, di tengah membangun kehendak, dan dibelakang memberikan dorongan.

Selain itu guru juga memiliki makna “digugu dan ditiru” (dipercaya dan dicontoh) Hal ini secara tidak langsung memberikan pendidikan karakter kepada peserta didiknya. Oleh karena itu profil dan penampilan guru harus menjadi teladan bagi peserta didiknya. Gambaran pendidikan berkarakter bisa dilihat pada syair tembang Dhondhong apa Salak Tembang tersebut mempunyai filosofi dan nilai yang tinggi dan bermakna.

Buah kedondong kulitnya halus tapi dalamnya berduri, buah salak, kulitnya kasar tapi dalamnya halus. Keduanya tidak dipilih, yang dipilih buah duku yang kecil, kulitnya halus, dalamnya juga halus. Naik bendi tidak dipilih karena menyakiti hewan, naik becak tidak dipilih karena memeras tenaga manusia. Yang dipilih berjalan pelan-pelan. Jadi betapa indahnya jika nilai pendidikan berkarakter yang ada pada tembang tersebut melekat pada diri insan yang hidup di dunia ini. Di sisi lain juga menggambarkan betapa pentingnya mengarungi aktivitas kehidupan didasarkan kemampuan sendiri tanpa harus memberatkan , merugikan, menyusahkan atau menyengsarakan pihak lain.

Selain itu Kita dapat belajar dari kisah nabi Musa AS dengan Khidir. Khidir sebagai guru dalam mendidik Musa( muridnya) ingin membangun landasan yang kokoh , yaitu membentuk karakter yang kuat pada murid, sehingga ujian mental,terutama kesabaran, kedisiplinan, keuletan yang ditanamkan oleh guru kepada muridnya. Disini terlihat bahwa dalam membangun karakter yang kuat membutuhkan suatu proses tertantu sehingga nilai-nilai yang ditanamkan dapat mengakar. Dari pernyataan tersebut tampak relevan jika tenaga pendidik atau guru harus memiliki karakter yang kuat dalam menjalankan tugasnya di bidang pendidikan . Guru harus memiliki kepribadian khusus yang menjadi ciri khas atau yang membedakan dengan profesi yang lain.

Sumber buku koleksi pribadi dari Guru Sejati: Membangun Insan Berkarakter Kuat & Cerdas M. Furqon Hidayatullah.

Sila mampir di http://astutianamudjono.blogspot.com/2013/12/mengapa-integritas-guru-begitu-lemah.html

Comments (21)

  1. Kritiknya perlu diperhatikan rekan-rekan guru lainnya, Bu Sri. Ini namanya mengingatkan kembali bahwa setiap guru tidak bisa setengah-setengah dalam profesinya. Harus utuh dan dapat diteladani. Bu Sri, sekalian mengingatkan, Undang-undang Sisdiknas tuh No 20 Th 2003 kan? Yang No 14 Th 2005 tuh kan undang-undang Guru dan Dosen, hehe.

  2. Pak Rudy saya suka dengan pertanyaan Bapak. Menurut difinisi yang saya intip dan saya pahami Integritas adalah; suatu konsep yang menunjuk konsistensi antara tindakan dengan nilai dan prinsip. Dalam etika, integritas diartikan sebagai kejujuran dan kebenaran dari tindakan seseorang. . Nah sikap dikatakan “mempunyai integritas” apabila tindakannya sesuai dengan nilai, keyakinan, dan prinsip yang dipegangnya (Wikipedia). Kira-kira begitu Pak . Sila lihat disini http://definisimu.blogspot.com/2012/09/definisi-integritas.html

  3. Konsistensi antara tindakan dan nilai serta prinsip keguruan yang saya tunggu-tunggu dikupas 😀

    Sejurus pengertian kejujuran dan kebenaran memandang ke tulisan terdahulu dari Pak Namin AB tentang UN, juga pendapat rekan-rekan guru lain rasanya semakin berat integrasi guru ini karena akan menghadapi multifaktor pengganggu dengan definisi kejujuran dan kebenaran dari tindakan seseorang (guru) – karena saya menunggu puncak tulisan Ibu tentang kendala tersebut dan bukan berarti kita mengalah atau sementara mengalah atau tidak melakukan apa-apa dan membenamkan diri dalam ranah filosofis semata?

    Mudah-mudahan saran ini mendapat riset dari Ibu Sri yang produktif menulis sejak TWC-3 berakhir hehehe
    Jangan patah semangat ya bu

  4. Terima kasih Pak Rudy untuk infus semangatnya. Jujur tulisan itu saya adopsi dari awal tulisan saya membuat blog di tahun 2009. Meringkas atau menulis kembali pemahaman saya ketika membaca dan mempostingan ya di Blog sederhana saya. Saya rasa untuk mefleksi diri sangat penting. Kalau solusi ke arah yang lebih baik bagaimana kita bisa menggempur multifaktor pengganggu itu yang bak mengurai benang kusut ya Pak.

  5. Pak Rudy. Terima kasih untuk apresiasinya. Semoga ilmu saya bisa bertambah dan warna warni kehidupan akan membawa makna tersendiri di hati kita masing-masing. Dan yang terpenting saya bisa menyampaikan walau hanya satu ayat dan itu hukumnya wajib
    Salam

  6. Thx sharingnya bu Sri. Diskusi ini dapat disimpulkan bahwa seseorang yg memiliki integritas pribadi akan tampil dengan kewibawaannya, apa yg dikatakan sama dg apa yg dilakukan, selalu positif di manapun, kapanpun, dg siapapun. Insya Allah Guraru bisa. Salam Integritas.

  7. Salam selalu buat Bu Sri, yang dengan kepiawaian dan kesederhanaannya tetap bisa berkarya dan telah menyelesaikan buku cuma-cuma dari Dompet Dhuafa. Buku yang sama masih teronggok rapi di atas meja kerja saya di samping layar monitor dan belum rela dibuka dari plastiknya (saya rasa hahaha).
    Saya masih menjalankan mimpi semalam suntuk dan bersilat kata dengan diri saya sendiri di hadapan meja kerja sambil mempelajari dan membentuk formulasi integritas guru dalam diri, (yang mudah-mudahan) bisa menggiring saya seiring sejalan dengan tapak langkah yang telah Ibu Sri rintis dan terbitkan.
    Saya pun turut merasa masih kalah jauh dengan Ibu yang telah mempersiapkan enam episode tulisan lanjutan yang akan “diterbitkan” tidak beberapa lama lagi.
    Di samping pencerahan dari Ustadz Jusuf Wonosobo yang telah menjadi frontier penulisan buku juga menjadi referensi menarik, belajar jarak jauh melalui tulisan Ibu Sri membangkitkan semangat dalam diri untuk menerbangkan deretan kata menjadi kalimat bermakna yang moga-moga tetap dalam niatan berbagi pengetahuan melalui tulisan.
    Mohon doanya bu, agar bisa menyamai langkah yang telah Anda tempuh dan Pak Ustadz lalui.
    Juga salut kepada Bu Etna yang hadir sebagai silent reader serta tayang di belakangan posting sana, hehehe … semoga tidak lelah dan bosan mengimbangi tulisan “liar” saya dari tengah hutan Borneo yang lebat dan kelam ini.

    Salam Berjuang (mencari sinyal)

  8. Pak Rudy, hmm jadi terharu membacanya ternyata perlahan tapi pasti langkah saya mengisi sisa hidup saya dengan berbagi di sosmed atau media tulisan membawa berkah bagi hati saya dan mungkin juga bagi yang membaca tulisan ini. Saat ini saya masih betah berada disini karena penasaran dengan penampakan saya di guraru yang masih burek. Tadi sempat muncul penampakan sepertiga wajah saya dengan baju PGRI tapi saya utak-atik lagi malah rontok semua termasuk foto2 sahabat saya yang berhubungan dengan Mr. Avatar. Mungkin lebih baik rehat dulu ya.
    Sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada Pak. Rudy yang sudah mengapresisi tulisan saya, terutama blog saya yang masih acak adul.

    Tentunya tercurah doa di setiap helaan nafas agar kita bisa maju bersama membangun Indonesia jaya.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar