3

Mengajarkan Anak Senang Menabung (0)

Thurneysen Simanjuntak March 29, 2021

Kata menabung tentu sudah sering kali kita dengar, bahkan barangkali sahabat pembaca adalah orang memiliki kesadaran tinggi dalam hal ini.

Sejak kecil, saya sendiri telah dididik ayah untuk bijaksana menggunakan uang, dari setiap jajan yang saya terima, saya harus belajar menyisihkannya dengan cara ditabung. Saya tidak akan lupa, kalau masa kecil saya masih menggunakan tabungan yang terbuat dari bambu atau kaleng susu.

Tentu berbeda dengan zaman sekarang, seorang anak ternyata sudah dapat memiliki rekening tabungan sendiri di bank. Walau memang masih menggunakan identitas orang tua. Tidak seperti zaman dulu.

Oh iya, Kembali kepada cerita pengalaman saya menabung.

Ketika masih SMP, kebiasaan menabung telah menjadi kebiasaan baik saya. Bahkan saya bisa merasakan manfaat menabung tersebut. Salah satunya saya pernah membeli sepeda sendiri dan mengajak ibu dan saudara saya berlibur ke Jakarta dan Jawa Tengah. Saat itu, hasil tabungan saya setidaknya cukup untuk membiaya transportasi pulang pergi tiga orang dari Sibolga menuju Pulau Jawa.

Memang hasil tabungan saya lumayan banyak untuk ukuran anak remaja saat itu. Soalnya, selain jajan dari orang tua, saya juga memiliki penghasilan (honorarium) setiap bulan dari sebuah majalah, karena saat itu sudah mengisi sebuah kolom di majalah tersebut. Rutin sekali sebulan.

Kebiasaan menabung memang adalah sesuatu yang sangat bermakna diajarkan bagi anak. Alasannya, ketika anak diajarkan sejak kecil, niscaya akan menjadi kebiasaan sampai anak tersebut dewasa.

Selain menjadi kebiasaan, menabung akan mengajarkan hidup hemat. Mengajarkan bahwa harus mengutamakan kebutuhan daripada keinginan atau harus ada prioritas keuangan.

Menabung juga mengajarkan seorang anak untuk peduli dengan masa depan. Mereka harus diingatkan bahwa tidak seorang pun yang tahun akan masa depan, termasuk dalam hal keuangan. Untuk itu perlu mempersiapkan diri di saat kita masih memiliki uang. Sehingga, ketika ada kondisi membutuhkan dana darurat, orang tersebut masih memiliki dana cadangan, sehingga tidak harus melakukan peminjaman uang ke mana-mana.

Untuk membuat si anak tertantang menabung, perlu diberikan target yang ingin di capai atau untuk apa uang tersebut di tabung. Anak perlu juga ditanamkan untuk menyisihkan uang jajan untuk ditabung, bukan ditabung berdasarkan sisa-sisa uang jajan.

Sekarang, saya pun mencoba menanamkan hal baik ini kepada anak saya. Tapi berbeda dengan zaman saya dulu. Anak saya sudah memiliki rekening sendiri, di bank. Bukan di bambu dan kaleng susu lagi.

Saya dan anak juga membuat target dari uang tabungan tersebut. Tabungan tersebut baru boleh diambil nanti tiga tahun lagi ketika akan memasuki perkuliahan. Biar anak saya bersemangat dan hasilnya lebih terlihat, saya pun ikut berkomitmen setiap bulan mengisi tabungannya. Berharap dalam tiga tahun ini, anak saya tetap disiplin dan berkoitmen.

Selamat menularkan menabung bagi anak-anak kiat.

Comments (3)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar