1

MENGAJARI A I U E O DI TENGAH PANDEMI (0)

Mia Cisadani October 18, 2020


	Mewabahnya covid 19 memberikan dampak besar. Sektor ekonomi ambruk. Dampak terbesar dialami oleh pekerja di sektor informal, seperti buruh bangunan, pedagang kaki lima, atau pedagang pasar. Pihak yang berempati tergerak untuk membantu warga terdampak covid 19. Pak Badrun adalah salah satu warga yang menerima bantuan itu. Sehari-hari ia bekerja sebagai buruh harian lepas. Sejak covid 19 mewabah, ia terpaksa menganggur. Padahal, harus menghidupi istri dan empat anaknya. Bantuan berupa sembako dan sedikit uang, cukup meringankan bebannya kala itu.
	Jika tidak ada pendataan warga terdampak covid 19, mungkin keluarga Pak Badrun tidak terdeteksi keberadaannya. Pasalnya, keluarga yang sekarang sedang mengadu nasib di Kalimantan ini adalah perantau dari Jawa. Rumahnya tersembunyi di tengah ladang jagung milik orang lain. Dindingnya terbuat dari papan dan seng bekas. Lantainya masih tanah. Rumah itu hanya memiliki sebuah kamar. Kamar mandinya dibuat terpisah dari rumah. Berjarak 20 meter dan mendekati mata air. Itupun hanya terbuat dari kayu dan spanduk bekas. Kondisi rumah yang jauh dari kata layak.
	Pak Badrun sengaja menarik diri dari lingkungan karena sang istri adalah penyandang tuna rungu sekaligus tuna wicara. Ia khawatir jika kekurangan istrinya tersebut akan mengganggu kenyamanan tetangga.
	Yang membuat saya tercengang adalah ketika seorang teman menceritakan tentang anak-anak Pak Badrun yang sama sekali belum pernah mengenyam pendidikan. Padahal tiga diantaranya seharusnya sudah memasuki usia sekolah. Yakni 10 tahun, 9 tahun, dan 8 tahun.
	Bagaimanakah nasib anak-anak itu 10 atau 20 tahun mendatang? Ketika Pak Badrun sudah menua. Dan giliran anak-anak yang menjadi tulang punggung keluarga. Mampukah mereka bersaing? Zaman sekarang saja orang yang memiliki ijazah sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Apalagi yang tidak sekolah. Harapan untuk memperbaiki kesejahteraan hidup mereka adalah dengan pendidikan. Meskipun prosesnya tidak instan. Tapi manfaatnya akan terasa dalam jangka panjang.
	Saya dan teman-teman berusaha mencarikan sekolah untuk ketiga anak tersebut. Beruntung, kegiatan kami mendapat perhatian dari Dinas Pendidikan Kabupaten. Hingga akhirnya, mereka diterima di sebuah SD Negeri dekat tempat tinggalnya.
	Yang menjadi persoalan berikutnya adalah, mereka sama sekali belum bisa baca tulis. Bahkan memegang buku dan pensil saja baru-baru ini, ketika orang-orang datang memberi bantuan. Apakah mereka akan bisa mengikuti pelajaran dengan baik?
	Jika pembelajaran dilakukan dengan tatap muka, mereka pasti akan menemui banyak hambatan. Merasa minder karena tingkat ekonomi orangtua yang pas-pasan, usia mereka yang tergolong terlambat sekolah, ditambah lagi dengan ketidakmampuan mereka untuk baca tulis. 
	Meskipun saya hanya seorang guru les, bukan guru di sekolah formal, saya merasa tergugah untuk membantu. Dua hal yang jadi prioritas saat itu adalah meningkatkan rasa percaya diri mereka dan melatih keterampilan membaca.
	Ketika pertama kali bertemu mereka di akhir bulan Juni 2020, anak-anak itu ketakutan jika bertemu orang banyak. Bahkan masih sering tantrum. Hal itu karena sebelumnya tidak pernah berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Jika bersekolah dalam keadaan psikologis yang belum stabil, tentunya akan rawan menjadi korban pembully-an. Jangan sampai kemungkinan buruk itu terjadi.
	Dua minggu sebelum tahun ajaran baru dimulai, saya berusaha ekstra mengajari membaca. Mulai dari A, I, U, E, O. Dengan harapan, jika sudah lancar membaca, mereka dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Karena menurut saya, buku teks pelajaran kelas 1 SD itu cukup sulit. Baik dari segi materi maupun pemilihan bahasanya.
	Sedangkan untuk memperbaiki psikologisnya, saya membacakan cerita yang sesuai untuk pengembangan karakter. Juga mengajak melihat dunia luar dan berkenalan dengan banyak orang.
	Tetapi hingga tahun ajaran baru dimulai, pandemi masih belum berakhir. Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang sistem pembelajaran jarak jauh. Saya pun ditunjuk menjadi wali murid mereka.			Selama proses pembelajaran jarak jauh, saya harus memastikan mereka bisa mengikuti pelajaran dengan baik.
Mereka tidak punya ponsel. Sehingga, ketika ada tugas dari guru, saya yang menyampaikannya ke mereka. Ingin rasanya mengabaikan tugas dari sekolah, dan fokus mengajari baca tulis terlebih dahulu. Tetapi, saya ingin mengajari bahwa mengerjakan tugas adalah salah satu bentuk latihan bertanggung jawab. Meskipun kesulitan, mereka akhirnya mengerjakan juga.
	Di sela-sela kesibukan memberikan les privat, saya sempatkan untuk mengajari mereka baca tulis, menjelaskan materi yang sedang dipelajari, dan membimbing mengerjakan tugas. Seminggu bisa empat kali. Bahkan untuk hari Minggu, bisa seharian mendampingi mereka belajar. Banyak yang bertanya, mengapa saya bersedia repot bolak-balik untuk mengajari mereka? Mengingat rumah mereka cukup jauh. Ya, karena saya menyadari bahwa ketika pembelajaran dilakukan dengan sistem daring, maka kualitas pendidikan sangat tergantung dari kualitas siapa yang mendampingi saat mereka belajar. Sedangkan ibu mereka yang seorang penyandang tuna wicara dan tuna rungu tentunya tidak dapat mengajari mereka yang masih dalam tahap awal membaca.
Saya sudah pernah menceritakan tentang latar belakang keluarga ini kepada guru di sekolah mereka. Besar harapan ada suatu kebijakan yang untuk murid-murid istimewa seperti mereka. Mungkin gurunya bisa berbagi tugas dengan mengunjungi rumah mereka.
	Dari sekian banyak guru, hanya guru agama saja yang bersedia mengajar dengan mengunjungi rumah mereka. Sedangkan guru yang lain merasa sudah menunaikan tugasnya jika sudah memberikan soal melalui pesan elektronik. Itu saja. Tanpa berusaha menemukan cara agar murid-muridnya dapat menyerap ilmu dengan baik. Bahkan yang saya amati dari murid les selama belajar di rumah, jika ada tugas dari sekolah, kebanyakan yang mengerjakan adalah orangtuanya. Terutama untuk anak yang masih SD.
	Menurut saya, pembelajaran dengan sistem daring tidak semuanya efektif. Terutama bagi murid yang masih duduk di kelas rendah. Terlebih untuk anak kelas 1 SD. Apakah bisa mengajari membaca dilakukan dengan sistem daring? Anak-anak yang belum pernah merasakan sistem pembelajaran tatap muka, pasti akan kesulitan. Murid-murid tidak merasa dekat dengan gurunya. Tidak bisa berinteraksi dengan teman-temannya. Orang tua pun tidak semuanya bisa mendampingi belajar di rumah. Ada yang terikat dengan pekerjaan. Ada pula yang memiliki keterbatasan seperti Bu Badrun tadi.
	Selama situasi masih belum kondusif dan harus dilakukan pembelajaran jarak jauh, besar harapan saya agar guru bisa lebih mengajar dengan hati. Karena apa yang keluar dari hati, akan dapat menyentuh hati. Sesekali melakukan kunjungan ke rumah murid. Sehingga murid akan merasa dekat dengan guru. Bukan semata-mata hanya memberikan tugas dan menilai di atas kertas. Tetapi juga membentuk karakter dan generasi gemar belajar.
	Semoga pandemi segera berakhir. Dan sektor pendidikan bisa dengan cepat memperbaiki kekurangan yang terjadi selama masa pandemi ini. Karena masa depan bangsa bergantung dari kualitas pendidikan kita hari ini.

#WritingCompetition

#NewNormalTeachingExperience

Comments (1)

  1. Selamat Malam 🙂
    terima kasih banyak atas partisipasi pada Guraru Writing Competition 2020.

    Semoga #sharing pengalaman dan ilmu diatas dapat bermanfaat bagi rekan guru lainnya dan semoga beruntung untuk memenangkan salah satu hadiah dari Guraru!

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar