5

MENGAJAR DENGAN HATI dan “HATI-HATI” DALAM MENGAJAR (0)

Ar-Rofi' an-Nabhany October 3, 2020

Anugerah terbesar bagi seorang hamba yaitu dengan adanya akal pikiran dan hati nurani sebagai wujud sempurnanya penciptaan Sang Kholiq kepada manusia, hal ini merujuk pada ayat ke-4 surah at-Tiin, dan pada ayat 70 surah al Isra :

Dan Kami telah ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik baiknya
Dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna

inilah yang menjadi pembeda dengan makhluq ciptaan Nya yang lain. Fungsi akal sebagai media untuk berpikir, menganalisis sesuatu yang kemampuannya sangat tergantung pada pengalaman dan tingkat pendidikan seseorang baik formal maupun informal. Sementara hati nurani berfungsi sebagai pegangan, pedoman, atau norma untuk menilai suatu tindakan, apakah tindakan itu baik atau buruk. Melalui akal, manusia menciptakan karya. sementara hati menuntun jalan hidup manusia menciptakan rasa dan cinta

Peran akal bagi seorang pendidik akan membentuk sebuah keahlian dan kompetensi di bidangnya masing2. Kiprah seorang guru untuk mengajar jg harus bersumber dari hati. keduanya bersinergi menjadi satu kekuatan besar untuk membimbing umat menuju jalan maslahat. Lakukanlah agenda : MENGAJAR DENGAN HATI dan “HATI-HATI” DALAM MENGAJAR. Sehingga tak cukup mengejar kecerdasan Intelektual semata namun harus punya target pada sisi yang lebih krusial yaitu Cerdas Spiritual dan Cerdas Emosional. sehingga akan melahirkan generasi intelek yang religius, yang hebat dan bermartabat.

Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain

Mengajar sama artinya dengan transpormasi ilmu, mengajar harus berbekal : rasa, cinta dan asa. Rasa untuk berlemah lembut dan penuh kasih sayang, Cinta yang mendalam untuk melindungi dan mengayomi, Asa itu harapan, yakni do’a seorang guru dengan harapan agar anak didik memperoleh keberkahan dan kemanfaatan ilmu. Kehati-hatian dalam mendidik pun harus senantiasa menjadi priotitas khusus, jangan sampai menimbulkan efek negatif pada diri siswa. Mengolok olok, merendahkan, berbuat kekerasan apalagi menanam kebencian. Bentuk-lah mereka menjadi jiwa-jiwa yang tangguh, memiliki daya inovasi yang tinggi dan membanggakan, keimanan yang kokoh melekat di hatinya, memiliki dedikasi yang menuntun jalan hidupnya kelak, sehingga menjadi teladan, berguna bagi orang lain dan alam semesta .

Salaam ta’dzim : Sang Petualang Kebajikan

Tagged with: ,

Comments (5)

  1. Betul.
    Dan sekarang juga cukup banyak guru yang lupa akan sebuah keteladanan. Guru harus mampu menjadi teladan bagi murid2nya. Dan itu bukan hanya di lingkungan sekolah, tapi juga diluar lingkungan sekolah, dalam bermasyarakat, dll.

    Salam Ukhuwah dan ta’zim kembali.

  2. Selamat malam Bapak Ar-rofi 🙂

    Terima kasih atas sharingnya pak! kami sangat setuju dari kutipan bapak “jangan mengejar kecerdasan Intelektual semata namun harus punya target pada sisi yang lebih krusial yaitu Cerdas Spiritual dan Cerdas Emosional”. Semoga tulisan bapak kali ini bisa makin menginspirasi rekan Guraru-ers.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar