7

Menelikung ‘Preman Kelas’ dengan Blog (+1)

Botaksakti May 18, 2012

Sebut saja Denis. Anaknya tidak terlalu besar, bahkan boleh dibilang kecil di antara teman-temannya. Hanya saja, ukurannya ternyata tidak menunjukkan kapasitas potensi kecerdasannya. Mulutnya mengisi hampir seluruh kelas ketika pelajaran berlangsung.


Anak itu memang gemar sekali bicara. Apapun, sepertinya bisa menjadi bahan omongannya. Kadang mengesalkan, seperti kata guru-guru yang lain, namun kadang juga mengagumkan. Namun, tingkahnya kadang membuat teman lainnya seakan tidak memiliki ruang untuk bersuara. Apalagi, pendapatnya kadang begitu tajam sehingga membuat teman lainnya tiarap.
Melihat kelakuan Denis, saya mencium ada sesuatu yang luar biasa.


“Kamu pengen jadi apa nanti?”, tanya saya suatu ketika.


“jadi pengacara, Pak!”


Saya mengangguk-angguk. Cocok sepertinya. Ia berani mengeluarkan pendapat walau kadang terkesan asal berpendapat. Membiarkannya hanya beradu pendapat dengan teman sekelasnya hanya menimbulkan rasa iba saja. Iba bagi kedua belah pihak. Bagi Denis sendiri maupun bagi teman-temannya. Denis seolah tidak mendapat lawan setara, dan kawan-kawannya menjadi tertekan oleh ‘kebuasan’nya.


Untunglah, saya bergabung ke dalam salah satu blog keroyokan yang sangat luar biasa. Penghuninya bisa dengan sangat objektif beradu gagasan. Tak segan pula mereka mengritik dan mengoreksi dengan habis-habisan member lain. Sepertinya ini bisa menjadi jalan keluar bagi Denis. Maka saya kenalkan Denis dengan blog tersebut.


Seiring berjalannya waktu, Denis pun bergabung dengan blog tersebut. Dengan penuh keberanian, Denis menuliskan gagasan-gagasannya. Perlahan-lahan, ia mulai dikenal di komunitas tersebut. Gagasan-gagasan segar tipikal anak SMA cukup menarik anggota komunitas.


“Wah, luar biasa, Pak! Saya dihajar ramai-ramai!”, katanya suatu hari tentang kegiatan barunya.


“Kamu takut?”


“Tidaklah, Pak! Justru saya bersyukur karena dari situ saya bisa belajar untuk lebih mengenal kemampuan saya. Keren lho, Pak, saya jadi belajar banyak dari teman-teman!”


Dan memang, apa yang dikatakannya bukanlah omong kosong. Saya perhatikan, omongan Denis semakin berisi. Ia mulai berbicara dengan landasan teori yang lumayan. Pun, ia menjadi berkesan tidak asal bicara. Dan senangnya, teman-temannya rupanya belajar dari Denis. Mereka ikut-ikutan berbicara tidak asal bicara. Ketika diminta mengeluarkan pendapat, mereka berusaha keras mencari landasan teorinya untuk pendapatnya tersebut.


Namun, ternyata kegemaran baru mereka berimbas juga kepada saya. Tak jarang saya harus melayani mereka lewat ‘chatting’ untuk mendiskusikan suatu masalah. Kami berdebat, adu teori, adu solusi. Tak pelak, kami juga saling ‘bantai’. Dan itu menyenangkan. Meski paginya, di sekolah kami kadang ‘melek’ dengan mata yang dipaksakan, tapi senyum mereka sangat membahagiakan.


Saya bersyukur, ternyata keputusan saya mengajak Denis bergabung ke dalam blog keroyokan itu bisa mengubah kelakuannya. Ia sekarang bisa belajar menghargai. Ia sekarang bisa memuji orang lain, dan itu tidak harus dengan kata-kata pujian secara langsung. Dan yang paling penting, ia sekarang bisa menggunakan ‘mulut’nya dengan cara yang jauh lebih bijaksana.


 

Comments (7)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar