2

Menebus Rindu ( 3 ) (0)

Supadilah S.Si December 19, 2020

Hanya Mamaknya kini yang dia punya. Tak ingin dia mengabaikan satu-satunya yang dia punya. Meskipun, ada Mbaknya, tapi sudah berkeluarga, dan berumah jauh dari Mamak. Tak bisa berharap banyak.

Selain itu, sudah waktunya pula dia berbakti pada Mamak. Dari cerita Iwan dia tahu Mamak begitu merindukannya. Berharap anak laki-lakinya kembali ke rumah setelah sekian lama merantau.

Dari Iwan pula, tak banyak yang Mamak inginkan. Tak gaji atau pun oleh-oleh. Juga pangkat atau kekayaan. Kedatangan. Yah, kedatangannya itulah yang sangat Mamak harapkan.

Tapi yang terpenting juga, kepulangannya adalah untuk menebus rindunya. Tak kepalang rindunya pada Mamak. Jangan sangka tak pulang itu tak rindu. Justru semakin jauh merantau semakin kuat pula rindu itu mendera. Itu mengapa orang merantau pada tempat-tempat dekat akan sering pulang karena tak terhalang rindu. Sepandai-pandainya bangau terbang tinggi, kembali juga ke sarangnya. Dan saat ini, Kasmin menjadi bangau itu.

Ada satu hal yang membuat Kasmin tak pulang setiap tahun. Rindu. Tak tahan terbayang wajah tua Mamak. Wajah tua dengan segenap kesedihan yang sering menderanya jika terus berada di kampung yang pasti penuh kenangan masa hidup.

 Dia ingin pula membawa Mamak untuk tinggal bersamanya. Tapi belum mungkin. Dan tidak mungkin. Kampung itu terlalu banyak membuat dan menyimpan kenangan. Jika Kasmin ingin menghapus dan melupakan kenangan itu, Mamak lebih memilih merawat kenangan itu.

***

Itulah kekuatan rindu. Yang mengherankan dan menggerakkan. Pak Burhan tersenyum lebar dan tergopoh-gopoh menyiapkan amplop. Menambahi sangu di perjalanan.

“Sampaikan salamku pada keluargamu di sana. Mudah-mudahan semua sehat.”

Malahan Pak Burhan menambahi pesan aneh,

“Tak perlu cepat kembali ke sini. Puaskan berbakti pada orang tuamu. Pekerjaan gampang dicari. Di sana pun pasti banyak pekerjaan. Di mana pun pasti ada rezekinya.”

Kekuatan rindu itu pula yang membuatnya mengajukan pengunduran diri ke perusahaan. Mendadak. Pimpinannya pun kaget. Tapi menerima surat pengunduran itu. Berjanji akan mengurus pesangon. Diusahakan bisa. Pimpinannya merasa berhutang Budi karena kinerja Kasmin yang selalu membaik tiap mendapat tugas.

Pak Burhan pun tak diberitahu. Dia akan mengabari jika sudah di kampung kelak. Hanya satu yang dikhawatirkan, pak Burhan akan memberikan semakin sangu. Itu yang tak diinginkannya.

Sewa kapal yang lebih mahal dari biasanya tak menjadi soal. Asal segera menyeberang. Segera menginjak tanah Andalas. Kasmin yakin setelah berada di pelabuhan Bakauheni, perjalanan semakin mudah dengan berbagai alternatif kendaraan.

Perjalanan sekitar setengah jam. Kapal kemudian merapat di pelabuhan Bakauheni. Sesampainya di sana tak sulit mencari mobil sewaan. Bawaannya hanya satu tas saja mempermudah berjalannya.  Semesta seperti sedang mendukungnya. Dia menemukan mobil yang hampir penuh. Tak menunggu lama, mobil bergerak membelah tol Lampung-Pekan Baru.

About Author

Supadilah S.Si

Seorang guru di SMA Terpadu Al Qudwah, Lebak, Banten. Selalu berusaha menjadi guru yang baik untuk murid-muridnya. Suka belajar apapun. Hobi menulis di blog atau media sosial. Pengen dapat banyak ilmu dan pengalaman di www.guraru.org. Ayo saling berbagi

View all posts by Supadilah S.Si →

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar