9

Menata Kembali Pendidikan di Indonesia (+5)

gardenia augusta May 21, 2015

Dewasa ini tren home schooling semakin berkembang, begitu pula dengan sekolah alam. Bahkan baru-baru ini ramai di internet beredar sebuah artikel yang membandingkan antara guru ngaji dengan guru mata pelajaran (mapel). Mereka semua mempertanyakan apa saja kerja guru dan sekolah selama ini. Sebagai pendukungnya mereka juga kerapkali membandingkan sekolah-sekolah di Indonesia dengan sekolah-sekolah di luar negeri, termasuk Finlandia. Kenyataan ini diperburuk dengan adanya pro-kontra UNAS dengan segala kecurangan dan ketidakefektifannya menurut mereka. Banyak ketidakjujuran yang masih dilakukan dan diajarkan oleh sekolah kepada muridnya, padahal sekolah sendiri adalah institusi pendidikan. Ketidakjujuran ini juga bisa dilihat dari program kantin kejujuran yang gagal, lalu munculnya tren online yang menggantikan manual (komputerisasi yang dipandang minim kecurangan), serta pemasangan CCTV pada beberapa sekolah. Ini bukti bahwa banyak sekolah masih gagal dalam menanamkan dan memberikan contoh kejujuran kepada muridnya.
Tahun ini Indonesia mendapat predikat borongan, darurat zina (pornografi) dan darurat narkoba, padahal pengguna terbesarnya adalah remaja. Hal ini tidak baik bagi Indonesia karena Indonesia akan mendapat bonus demografi di mana jumlah usia produktif lebih besar daripada usia non produktif. Lagi-lagi sekolah akan disorot.
Hal pertama yang harus dilakukan untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia adalah membersihkan dunia pendidikan / memperbaiki akhlaknya, dimulai dari guru, sekolah, dinas pendidikan, dan semua yang terlibat. Selanjutnya perlu ditanamkan kesadaran bahwa murid adalah tanggung jawab bersama antara sekolah dan orang tua (pendidikan integratif). Yang sering terjadi di lapangan orang tua menyerahkan murid sepenuhnya kepada sekolah sementara mereka hanya sibuk bekerja. Di sini perlu adanya edukasi terhadap wali murid / orang tua baik ketika mereka akan menikah maupun ketika akan memasukkan murid ke sekolah dan di saat-saat lain.
Saya berpendapat bahwa materi pelajaran sebaiknya lebih disederhanakan, kemudian buku pegangan dan LKS seragam (masing-masing 1 buah saja-dibeli) sedangkan buku pendamping juga 1 macam dan itu bisa dipinjam / dibaca di perpustakaan. Soal-soal yang keluar saat ujian berasal dari sumber itu saja. Jadi, tidak ada buku lain dari penerbit. Ini menghindari keluhan murid dan orang tuanya akan beratnya beban dalam tas sekolah mereka sekaligus biaya buku.
Mengingat tidak semua materi pelajaran kita butuhkan dalam kehidupan kita sehari-hari nantinya, maka murid langsung diarahkan sesuai dengan minat dan bakatnya. Di tahap-tahap awal pembelajaran akan dilakukan pemantapan agama dan akhlak sekaligus stimulasi seluruh otaknya, kemudian dievaluasi minat dan bakatnya di mana. Setelah itu mereka disalurkan ke sekolah-sekolah yang sudah terspesifikasi sesuai dengan minat dan bakatnya (bukan IPA, IPS, dan bahasa) tetapi menjurus pada keahlian kerja. Untuk orang dengan minat / bakat X maka akan disekolahkan ke sekolah A dengan berbagai pilihan kemungkinan pekerjaan yang bisa dilakukan, lalu semakin ke tingkat atas semakin mengerucut. Di sana mereka dikenalkan pada mapel dan profesi atau pekerjaan yang membutuhkannya lalu diarahkan ke pekerjaan yang sesuai dan ilmu-ilmu terapan yang dibutuhkan secara praktis saja.
Langkah lain adalah dengan penetapan jam belajar dan acara TV wajib tonton bagi murid, tentang edukasi narkoba, pelajaran, akhlak, lagu dan film yang baik, dan lain-lain sesuai usianya.
Untuk menghindari kemacetan dan keterlambatan, sekaligus untuk pemerataan maka murid diwajibkan untuk sekolah di sekolah terdekat dari rumahnya, atau sekolah di sekolah lain tetapi harus pindah rumah di sekolah itu.
Mengenai sekolah-sekolah pelosok yang belum terlalu terjangkau teknologi / aksesnya sulit, maka lebih tepat jika pengajaran dilakukan secara homeschooling atau sekolah alam. Jadi, menurut saya hal ini saling melengkapi.
Dari sisi keteladanan juga tidak boleh diremehkan, sekolah dan orang tua harus mau terjun memberi contoh nyata bagi murid-murid.
Dengan diterapkannya hal-hal di atas Insyaa Allah ke depannya pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik.

Comments (9)

    • Saya perempuan Pak.

      Artikel ini tidak termasuk dalam 2 tema yang DL sampai tanggal 21 Pak, karena tidak termasuk dalam
      o Pengalaman menyenangkan dari menjadi seorang guru, dan
      o Pengalaman belajar dan mengajar di luar kelas

      Maksud saya mau saya ikutkan evennya Om Jay yang DL-nya tanggal 20, tapi telat. Saya baru tahu 2 lomba ini beberapa hari yang lalu. Sempat ikut 1 lalu sakit perut parah. Kemarin mau saya buru eh jamnya sudah 00.15.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar