0

Menanggulangi Masalah Disiplin Siswa (0)

Ramlan Effendi April 4, 2022

Sebelum pandemic covid-19, kita sering mendengar berita tentang kenakalan siswa terhadap gurunya di ruang kelas. Seakan guru tak ada wibawa lagi dihadapan siswanya.

Profesi guru kadang membuat serba salah, jika terlalu lemah dan akrab dengan siswa membuat siswa tidak menghargainya, jika terlalu keras akan membuat jarak dengan siswa dan bahkan di beberapa tempat siswa dan orang tuanya melaporkan guru ke polisi. Pelaporan tersebut dipicu karena orang tua siswa yang tidak terima dengan tindakan guru yang dianggap melampaui batas dan merendahkan siswa. Kejadiannya bermacam-macam, ada karena guru mencubit siswa yang melakukan suatu kesalahan, di tempat lain guru memotong rambut siswa yang dianggap terlalu panjang, ada pula guru yang memukul siswa menggunakan penggaris kayu, ataupun karena guru yang memarahi siswa dengan kata-kata yang sedikit kasar. Akibatnya niat baik guru untuk mendisplinkan siswa justru berujung di penjara dan menjalani proses hukum.

Masyarakat pun terlibat perdebatan sengit dengan kejadian pelaporan guru ke polisi. Di satu pihak, masyarakat setuju dengan pelaporan tersebut karena menganggap guru telah melanggar pasal-pasal yang ada dalam undang-undang perlindungan anak, sehingga guru tersebut layak menerima sanksi hukum yang berlaku. Di pihak lain, masyarakat juga berpendapat jika apa yang dilakukan guru merupakan langkah terakhir dalam rangka menegakkan disiplin di sekolahnya, guru tidak mungkin berniat untuk mencederai ataupun melukai siswanya. Sehingga melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisisan dianggap berlebihan.

Terjadinya protes dan pelaporan guru ke polisi oleh orang tua siswa menunjukkan adanya kesenjangan komunikasi di sekolah antara orang tua, siswa dan pihak sekolah. di satu sisi sekolah dalam hal ini guru ingin menegakkan disiplin sesuai peraturan yang telah disepakati bersama dalam tata tertib sekolah. Disisi lain, oang tua siswa merasa hukuman yang diberikan kepada anaknya sangat berlebihan.

Lalu bagaimanakah sebaiknya menyikapi hal tersebut? Dan bagaimanakah sebaiknya cara guru mendisplinkan siswanya? Jangan sampai maraknya pelaporan guru ke polisi menjadi preseden buruk sehingga guru menjadi cuek terhadap muridnya, dan berefek murid semakin nakal dan tidak bisa diatur.

Ruang Lingkup Tugas guru

Dalam peraturan pemerintah (PP) no 74 tahun 2008 tentang guru disebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Dalam tugasnya melaksanakan pembelajaran dikelas gurupun harus memiliki keterampilan dasar, diantaranya keterampilan membuka dan menutup pelajaran (Set Induction and Closure Skills). keterampilan memberikan penguatan (reinforcement), serta pemberian sanksi dan hukuman (reward and punishment). Memperhatikan uraian diatas, maka dapat dikatakan sebenarnya guru memiliki hak untuk memberikan hukuman kepada siswa yang melakukan pelanggaran disiplin.

PP no 74 tahun 2008 pun mengatur kebebasan guru dalam memberikan sanksi kepada peserta didiknya yang melanggar norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan, peraturan tertulis maupun tidak tertulis yang ditetapkan Guru, peraturan tingkat satuan pendidikan, dan peraturan perundang-undangan dalam proses pembelajaran yang berada di bawah kewenangannya.

Hanya saja, agar tidak terjadi bias dalam memberikan sanksi terhadap pelanggaran tata tertib yang dilakukan siswa, maka saaat pihak sekolah membuat tata tertib/peraturan sekolah, sebaiknya melibatkan orang tua siswa dan disosialisasikan dengan jelas, diketahui dan disepakati bersama. Sanksi yang diberikan kepada siswa pun sebaiknya bukanlah hukuman fisik, seperti menampar, memukul, menjewer, mencubit ataupun berlari keliling lapangan.

Semua harus kembali berpedoman pada landasan pedagogis pendidikan yaitu mengedepankan kasih sayang. Sanksi yang diberikan sebaiknya berupa pemberian tugas yang bersifat mendidik misalnya membuat ringkasan materi buku tertentu, ataupun membuat karya/ keterampilan yang berhubungan dengan pelajaran. Beberapa sanksi yang dapat diberikan kepada siswa secara bertahap dari yang paling ringan sampai yang berat misalnya:

  1. Memberikan teguran secara lisan atau pun tertulis bagi siswa yang melakukan pelanggaran terthadap ketentuan sekolah.
  2. Memberikan tugas yang bersifat mendidik seperti merangkum buku mata pelajaran, membuat alat keterampilan yang digunakan dalam belajar.
  3. Melaporkan secara tertulis kepada orang tua siswa tentang pelanggaran yang dilakukan oleh putera puterinya.
  4. Membuat surat perjanjian tidak akan mengulangi pelanggaran
  5. Memberikan skorsing
  6. Mengembalikan kepada orang tua.

Suatu hal yang penting adalah guru harus memahami secara mendalam sebelum memberikan sanksi, dan menentukan sanksi yang tepat atas pelanggaran yang dilakukan siswa. Siswa harus dilindungi dari kekerasan. Bukan hanya agar mereka tidak terluka, namun agar mereka tidak meniru kekerasan tersebut dan kemudian menjadi pelakunya. Sanksi yang baik bukanlah sanksi berupa hukuman fisik ataupun hal hal yang akan mempermalukan siswa. Sanksi yang baik adalah sanksi yang bisa menimbulkan efek jera kepada pelakunya, serta menjadi contoh bagi siswa lain agar tidak meniru pelanggaran yang serupa.

Empati Pada Guru

Disi lain, orang tua sebagai bagian dari masyarakat, hendaknya dapat menimbang secara jernih kesalahan yang dilakukan oleh guru. Jangan sampai karena guru yang emosi sesaat sehingga mencubit siswa langsung di laporkan ke polisi, sementara siswa yang tawuran saja, hanya dikembalikan kepada orang tuanya untuk dibina. Kita jangan sampai  melupakan jasa guru dan hanya menilai keburukan seorang guru pada hari itu. Kita jangan melupakan hari yang lain ketika seorang guru, terutama guru honorer yang dibayar secukupnya, dengan susah payah harus menempuh jarak yang jauh sambil menerobos hujan atau menahan lapar demi melaksanakan tugasnya mencerdaskan anak bangsa.

Guru yang keras, galak dan senantiasa memberikan hukuman fisik dan kekerasaan kepada siswanya bukanlah guru yang profesional, justru menunjukkannya sebagai guru yang lemah, guru seperti ini mungkin akan di takuti, namun itu hanya sementara waktu saja. Lama kelamaan  kekerasa tersebut akan membuat dirinya kehilangan wibawa di hadapan siswanya. Sebagaimana telah dikemukan sebelumnya, guru yang profesional haruslah menguasai empat kompetensi guru, yang menyadari Jika guru menguasai dan menerapkan keempat kompetensinya itu, maka tidak akan ada guru yang galak dan mengedepankan kekerasan. Guru harus meninggalkan kekerasan dalam kegiatan pembelajaran.

Sudah saatnya guru melaksanakan tugassya dengan profesional dan elegan.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar