13

Menangani anak yang super malas (+6)

Bu Etna @gurutematik February 8, 2014

Selamat Sore Guraru. Saat membuka catatan harian, saya terhenti pada tulisan tentang ‘Anak Super Malas. Saya teringat pada siswa yang sangat malas dan hampir membuat saya kehilangan kesabaran. Ketika pembelajaran kimia berlangsung dan para siswa sedang mengerjakan soal di bangku masing-masing, saya datangi dia. Namanya Gundi (nama samaran), pakaiannya lusuh, rambut tak terawat, bajunya sering dikeluarkan, tidak memakai kaos kaki, sepatu diinjak, dan kakinya diseret kalau berjalan.

images (12)

“Gun, mana pekerjaanmu?”

“Belum Bu.”

“Mana bukumu, ibu ingin melihatnya.”

“Saya belum mengerjakan, apa yang mau ibu lihat?”

“Kemarikan buku tugasmu itu, ibu mau melihat catatanmu sebelumnya.”

“Belum Bu.’

“Buku yang kau pegang itu berikan ibu.”

Dengan malas dan wajah cemberut Gundi memberikan bukunya. Sampulnya lusuh tanpa nama. Halaman pertama Fisika, halaman berikutnya Kimia. Diket.: …. Ditanya: …. Jawab: Kosong. Catatannya amburadul sekali. Halaman berikutnya Fisika lagi. Ya ampun, sabar … sabar, saya harus sabar.

“Dimana buku catatan kimiamu?”

“Ya yang ibu pegang itu, masih campur dengan Fisika.”

Saya  bingung harus bagaimana. Ehmm … semua guru mengatakan bahwa anak ini sulit sekali dibina. Sudah hampir satu semester belajar di kelas X namun catatan saja seperti itu. Dari 3 kelas yang saya bina, dialah yang paling menjengkelkan. Saya belum menemukan titik terang untuk membuatnya sadar. Saya pandang wajahnya, dia segera menunduk. Kalau saya bicara lagi, tentu akan emosi. Ya …  sudahlah mendingan biar saja untuk sementara. Akhirnya saya melangkah pergi dan melihat kelompok lain. Hampir semua siswa bekerja dengan baik, saling menjelaskan, pekerjaannya tampak rapi dan sistematis. Ya ada sih beberapa siswa yang lambat bekerja dan selalu dibantu teman. Namun siswa yang satu ini sungguh berbeda. Apa yang harus hamba lakukan ya Allah?

Dua hari setelah kejadian itu, saya masuk lagi ke kelas Gundi. Pada waktu berdoa, saya lirik dia, ya ampun … dia memegang HP seperti sedang sms. Ehmm … saya melanjutkan berdoa. Setelah selesai doa, saya mengoreksi PR siswa dan membahas dua soal yang sulit. Gundi tampak acuh sekali. Sementara saya tak memperhatikannya dulu, sebab harus segera masuk ke kegiatan inti. Alhasil proses pembelajaran ini lancar. Diskusi kelompok dan diskusi kelas telah selesai. Selagi siswa mencatat pembahasan dari papan tulis, saya dekati Gundi.

“Mana buku pekerjaanmu?”

“Ini Bu.”

“Kau mengerjakan sendiri?”

“Tidak Bu, nyontoh anak-anak.”

“Sudah kau pelajari?”

“Sudah Bu, sambil menulis tadi.”

“Apakah kau sudah mengerti?”

“Mungkin.”

“OK silakan kerjakan di papan. Ingat bahwa siapapun yang bersedia mengerjakan soal di papan, berarti bisa. Kalau belum paham benar, sebaiknya belajar dulu sampai paham.”

“Ya.”

Namun dengan malas dia berdiri dan berjalan menuju papan tulis.

“Berhenti dahulu. Masukkan bajumu, kaki jangan diseret dan betulkan sepatumu. Mulai sekarang sepatu itu jangan diinjak lagi.”

Setelah baju dimasukkan, eh … dia berjalan dengan langkah tegap menuju papan. Berjalannya aneh dan lucu,  setiap melangkah kakinya diangkatnya tinggi-tinggi. Teman-temannya takĝ ada yang tertawa, sebab semua anak tak menyukainya. Sampai di papan Gundi terus menulis.

“Stop, letakkan bukumu di meja ibu dan lanjutkan lagi. Ingat peraturannya.”

Diketahui dan ditanyakan sudah ditulis, maka jawaban harus dapat dikerjakan tanpa melihat buku. Gundi terdiam sesaat, kemudian ditulisnya suatu rumus dan dihapus kembali. Dia mulai tampak resah dan malu. Tak lama dia mengambil bukunya dan duduk.

“Mengapa tak jadi kau jawab soalnya?”

“Tidak bisa Bu.”

Apa yang harus saya lakukan? Inilah sebenar-benarnya tantangan bagi guru. Insya Allah saya bisa, ya harus bisa membina karakternya. Malas adalah salah satu karakter yang harus dirubah. Kalau hal ini terbawa sampai tua, tentulah dia akan kecewa di belakang hari. Malasnya Gundi ini tergolong parah; bayangkan … berpakaian rapi saja malas. Pakai sepatu dengan benar, malas. Eh berjalan juga malas, seperti ingin terbang saja. Allah SWT sudah memberi kita kaki untuk berjalan, eh … dia malas menggunakan kakinya dengan baik. Malasnya bukan main, rambutpun seperti tidak pernah disisir. Astaqfirullah.

“Mengapa kau tadi maju ke papan kalau tak bisa?”

“Tadi saya merasa bisa.”

“Ehm … apa?”

“Saya sudah berusaha lho bu.”

“OK. Apa yang akan kau lakukan nanti?”

“Saya masih pusing Bu, malu selalu tidak bisa.”

“MaLU? Baguslah kalau kau merasa malu. Kau sudah mulai menyadari kekuranganmu. Sebenarnya tidak ada sesuatu yang sulit, asalkan kau mau menyadari bahwa malas itu sangat menghambat kemajuanmu. Ibu mau bertanya, akibat dari malasmu itu apa?”

“Banyak Bu, hampir semua tugas tidak kukerjakan. Sampai cara berpakaian, cara berjalan dll juga menunjukkan bahwa saya malas. Saya malu sekali Bu, semoga mulai detik ini saya dapat berubah. Ibu benar, makin lama teman-teman makin acuh karena saya juga acuh pada diri sendiri.”

“Kuncinya ada pada diri sendiri sayang, ibu merasa gembira kau dapat menyadari hal itu. Tentu saja kau menjadi malu sekali. Coba lihat seluruh penampilanmu, sebenarnya sudah lama ibu berpikir, mengapa kau bisa seperti ini? Kau sungguh anak yang malas. Mulai detik ini ubahlah sikapmu nak, perjuangkan hidupmu, lakukan yang terbaik untuk masa depanmu. Ibu setuju sekali, lakukan sekarang juga, jangan ditunda dan senyumlah sayang.”

Dia memaksakan dirinya untuk tersenyum. Seperti ada sesuatu dalam hidupnya yang membuatnya malas. Semoga kejadian ini tidak terulang lagi. Lusa saya harus menemuinya lagi dan harus rutin membinanya. Titik terang mulai muncul, saya tak boleh menyia-nyiakan hal ini.

To be continued.

About Author

Bu Etna @gurutematik

Saya guru kimia di SMAN 16 Surabaya sejak tahun 1973 hingga Desember 2011. Saya sudah purna tugas sebagai PNS, namun Insya Allah saya tetap mengajar untuk melayani bangsa hingga akhir hayat. Pembelajaran yang saya lakukan dapat melalui blog, sms, email, atau yang lain. Saya selalu berupaya untuk mengajar kepada siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Sebagian dari pengalaman ini sudah saya tulis di blog saya. Insya Allah saya dapat menulis secara rutin, termasuk permintaan pengguna blog.

View all posts by Bu Etna @gurutematik →

Comments (13)

  1. Ya itu gambaran keadaan sekarang pada umumnya. Namun Gundi ini lain pak. Dia super malas. Merawat diri sendiri saja malas. Hampir tak sanggup saya pak. Karena saya melihat adanya sesuatu dlm dirinya, maka saya ingin membantunya. Thx responnya pak Tri. Salam.

  2. Itulah kelanjutannya pak Bakri. Namun perlu bapak ketahui, banyak contoh yang sholatnya bagus, terutama orang dewasa, eh perilakunya memalukan. Bahkan ustadz kok seperti itu, astaqrifullah, maaf pak kesadaran diri itu tak mudah, namun sebenarnya tak sulit. Terima kasih responnya. Salam perjuangan.

  3. Saya juga seringkali Bunda Etna, mengalami hal serupa. Upaya Yang saya lakukan adalah terus memotivasi anak tersebut dan tetap berfikir positif anak tersebut bisa lebih baik lain. Selain itu, saya sisipkan dalam doa-doa saya agar Allah membimbing hatinya untuk menjadi lebih baik. Karena hanya Allah yg mampu membolak balikkan hati setiap hamba Nya. Semoga bermanfaat..:)

  4. Alhamdulillah, benar bu Fitria. Segalanya hanya Allah SWT semata. Keimanan adalah hal yang utama. Insya Allah kita bisa. Berdoa dan berjuang harus seimbang. Walau tak mudah, harus melalui berbagai cara, namun Insya Allah tak ada sesuatupun yang sulit, iya kan bu? Marilah kita secara rutin bersilahturahmi di sini, saling respon. Insya Allah layanan terhadap anak bangsa makin lancar. Saya tak suka diam ibu, hari inipun saya bersama dhuafa, home schooling pembinaan karakter, kemudian juga bimbingan privat kimia. Tadi diantar suami, nanti di jemput, hehehe. Salam perjuangan.

  5. Iya pak Sukani harus berkesinambungan dan tak hanya BK saja yg berperan. Seperti kasus Gundi ini, biasanya wali kelas atau bisa meminta bantuan guru yg bisa dekat dengan anak itu atau dengan anak-anak. Bahkan pendampingan itu bisa selama 3 tahun dia sekolah. Kadang orang tuanya yg menitipkan ke kita. OK thx responnya pak, maaf baru balas. namun gak ada kata terlambat ya, hehehe. Salam perjuangan.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar