8

Menanamkan Kecintaan Kepada A-Qur’an Sejak Dini (+4)

Ramdhan Hamdani November 18, 2013

Dijadikannya Indonesia sebagai tuan rumah pelaksanaan Mutsabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat internasional pada tanggal 11 – 15 September yang lalu sejatinya mampu dijadikan momentum bagi dunia pendidikan kita untuk menanamkan kecintaan anak-anak kita kepada Al-Qur’an sejak dini. Kegiatan yang  diawali oleh Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) di kabupaten Bangka Tengah pada akhir agustus yang lalu tersebut mengambil tema “’MTQ Internasional Jembatan Ukhuwah dan Kerja Sama Dunia Islam untuk Persahabatan, Perdamaian, dan Kerja Sama Antar-Bangsa.

            Seperti kita ketahui, salah satu persoalan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah semakin memudarnya nilai-nilai persudaraan dikalangan umat Islam, baik di dalam negeri maupun dengan umat Islam dinegara lain. Di dalam negeri kita sering melihat pemandangan yang sangat memprihatinkan dimana umat Islam yang tergabung dalam kelompok-kelompok tertentu seolah berlomba menyalahkan saudaranya dari kelompok lainnya dan menganggap kelompoknya lah yang paling benar. Pada akhirnya hari demi hari umat Islam pun semakin tercerai berai. Hanya karena perbedaan pendapat dalam menentukan awal Ramadhan, mereka pun rela melepaskan ikatan-ikatan persudaraan diantara sesama.

            Sementara itu umat Islam yang tinggal di negara lain saat ini sedang mengalami situasi yang memilukan dimana setiap hari korban terus berjatuhan. Kondisi Mesir yang memanas sejak beberapa waktu yang lalu mengakibatkan mesjid-mesjid yang seharusnya menjadi tempat beribadah berubah fungsi menjadi ladang pembantaian umat Islam oleh pihak militer. Mulai dari orang tua, anak-anak dan juga para wanita tak luput dari kekejaman pihak militer yang didukung oleh amerika dan yahudi tersebut. Namun yang lebih memprihatinkan lagi adalah sikap pemerintah Indonesia yang terkesan tidak peduli terhadap kondisi umat Islam disana dan menganggap bahwa itu urusan dalam negeri mereka dan karenanya kita tidak boleh ikut campur.

            Padahal sejarah mencatat bahwa negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia 68 tahun yang lalu adalah Mesir. Bahkan atas nama Ukhuwah Islamiyah perwakilan negara mesir sengaja datang langsung ke Indonesia untuk menyampaikan dukungannya kala itu. Tak hanya itu, ketika terjadi bencana Tsunami di Aceh presiden terguling Mesir, Muhammad Mursi datang langsung ke Aceh untuk memberikan bantuan sebagai bentuk kepedulian warga mesir kepada umat Islam di Indonesia.

            Kecintaan rakyat mesir yang begitu kuat kepada umat Islam di Indonesia tentu tidak datang begitu saja. Ikatan persaudaraan atas dasar keimanan sejatinya adalah buah manis dari sebuah proses interaksi dengan Al-Qur’an yang  mereka tanamkan kepada anak – anak mereka sejak dini. Banyaknya anak-anak yang belum lulus sekolah dasar namun sudah hafal Al-Qur’an 30 Juz menunjukkan bahwa Al-Qur’an telah mendarah daging dalam diri mereka dan dijadikan pedoman hidupnya.

                Oleh karena itu sudah saatnya bagi kita untuk mendorong anak-anak kita untuk senantiasa mencintai Al-Qur’an sejak dini. Jangan biarkan mereka menjadi korban media yang tak henti-hentinya meracuni pikirannya dengan menampilkan berbagai tayangan yang sebenarnya tidak mendidik, bahkan menjerumuskan. Adapun bagi pihak sekolah, mengadakan mata pelajaran Tahfidz, Tahsin Qur’an (TTQ) seperti yang telah diterapkan oleh beberapa sekolah islam terpadu diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai ajaran Islam sejak dini. Dengan begitu kedepan diharapkan  akan muncul generasi unggul yang rahmatan lil ‘alamiin.

Ramdhan Hamdani

www.pancingkehidupan.com

About Author

Ramdhan Hamdani

Lahir di Bandung 30 tahun yang lalu, pria yang bernama lengkap Ramdhan Hamdani ini menghabiskan masa kecilnya dikota kelahirannya. Setelah menempuh pendidikan SMU, pria yang akrab disapa Kang Dadan ini pun melanjutkan studynya pada tahun 2000 ke Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Jurusan Pendidikan Bahasa Jerman. Kesulitan ekonomi yang saat itu dialaminya tak sedikit pun mengurangi semangatnya untuk tetap melanjutkan kuliahnya. Berbagai profesi sudah pernah dijalaninya. Mulai dari penjual koran, guru privat sampai dengan tukang becak pernah dilakoninya demi keberlangsungan kuliahnya. Ketertarikannya pada dunia komputer mendorongnya untuk mengambil kuliah jurusan Tehnik Informatika ditempat lain disaat kuliah di jurusan Bahasa nya masih berjalan. Kuliah mengambil dua jurusan sekaligus dan ditempat yang berbeda memang tidak mudah, tapi itulah yang dilakukannya. Pada tahun 2003, pria yang dikaruniai seorang istri ini pun berhasil meraih beasiswa pertukaran mahasiswa dari DAAD untuk menikmati perkuliahan di negara Jerman selama satu tahun. Sekembalinya dari sana, dia pun melanjutkan studinya di UPI dan berhasil menjadi wisudawan terbaik tingkat Fakultas pada tahun 2008. Kecintaannya terhadap dunia pendidikan menjadikan profesi pendidik menjadi jalan hidupnya. Berprofesi sebagai guru TIK di SDIT Alamy Subang dilakoninya sejak 4 tahun yang lalu. Selain aktif sebagai pengajar, pria yang beristri seorang guru Matematika SMA IT Assyifa Boardingschool Subang ini juga sangat produktif dalam membuat software-software untuk keperluan sekolahnya. Mulai dari software keuangan, absensi guru dan siswa, perpustakaan, pengolahan nilai dan software lainnya dibuat dengan tangannya sendiri dan dipersembahkan kepada lembaga sebagai bentuk pengabdiannya. Selain itu pria yang mempunyai hoby memancing ini pun aktif di berbagai media, baik cetak maupun media sosial dalam mengkampanyekan pendidikan yang berkualitas dan aktif dalam upaya untuk menciptakan penggunaan teknologi informasi untuk keperluan pendidikan. Adapun beberapa tulisannya yang pernah dipublikasikan oleh media cetak antara lain : 1. Ironi Pendidikan Agama Islam ( Republika, 07 Januari 2013 ) Baca 2. Hitam Putih SNMPTN 2013 ( Pikiran Rakyat, 16 Februari 2013 ) Baca 3. Antara Tim Sukses dan "Tim Sukses" ( Pikiran Rakyat, 28 Februari 2013 ) Baca 4. Sertifikasi Tanpa Isi ( Pikiran Rakyat, 16 Maret 2013 ) 5. Mengubah Paradigma Kegagalan ( Republika, 20 Mei 2013) Baca 6. Ironi Tenaga Kependidikan ( Republika, 29 Mei 2013 ) Baca 7. Pelajar dan Tembakau ( Pikiran Rakyat, 1 Juni 2013 ) Baca 8. Reinkarnasi RSBI ( Pikiran Rakyat, 5 Juni 2013 ) 9. Pentingnya Orientasi untuk Orang Tua ( Republika, 22 Juli 2013 ) Baca 10. Politisi dan Ijazah Palsu ( Pikiran Rakyat, 03 September 2013) Baca

View all posts by Ramdhan Hamdani →

Comments (8)

  1. Sudah menjadi suatu keharusan bagi orang tua muslim untuk menanamkan anaknya cinta membaca Al Qur’an sejak dini. Kalau anakku sendiri sudah diperkenalkan membaca Al Qur’an di Taman Baca Al Qur’an dimulai dengan IQRO dan menghafal doa-doa. Sehabis shalat magrib saya dan istri mengajak anak untuk membaca Al Qur;an. Minimalnya ia hafal huruf hijaiyah. Wah, anakku senang sekali belajarnya. he..he..he…salam perjuangan.

  2. Terima kasih pak Ramdhan. Cucuku yg serumah semua sekolah di TK dan SD Islam, mereka rajin mengaji, karena pelajaran agamanya banyak macamnya dan jauh dibanding sekolah umum. Alhamdulillah. T V hampir tak pernah disetel, hanya sore film kartoon. Salam perjuangan.

  3. Mesir dulu juga sering mengirim bantuan al-quran ke masjid2 di indonesia
    Mari kita mulai cinta Al-Quran dengan membiasakan diri membacanya di rumah, di sekolah, di manapun kita berada. Selalu bawa al-quran (dalam tas)
    meja kelas beri Al-Quran
    meja kantor beri Al-Quran
    semoga bisa kita sebarkan ….

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar