11

MEMPRODUKSI PUISI KONTEMPORER UNTUK MENGASAH DAYA KRITIK SISWA (+4)

Rosiana Febriyanti May 22, 2015

Puisi kontemporer adalah jenis puisi yang tidak mengikuti pakem-pakem penulisan secara konvensional. Sutardji C. Bachri, Danarto, dan Remy Sylado adalah tokoh-tokoh penting dalam melahirkan jenis puisi ini. Di Kelas 12 yang masih menggunakan KTSP, pelajaran ini masih ada, kendati tahun ini tidak keluar di UN, tapi sempat keluar di soal UN tahun 2014.

Menurut saya, puisi ini tidak untuk dikeluarkan dalam soal UN yang berbentuk pilihan ganda, karena akan menimbulkan multitafsir untuk memaknainya. Saya memandang jenis pusi ini cukup relevan dengan semangat pemuda yang ingin bebas mengkritik apa saja yang tidak sesuai dengan pemikirannya. Kemudian saya memberi mereka tugas memproduksi puisi kontemporer menurut versi mereka. Hasilnya, mereka dapat membuat produk puisi yang cukup kreatif .

 

PK 10

Tiga bagian dalam puisi yang berjudul Polisi tersebut dimaknai oleh penulisnya, Nadiyatu Silmi sebagai berikut.

Polisi tidur maknanya adalah gambaran bahwa penegakkan hukum di negeri ini begitu miris dan mengenaskan hingga ”polisi” nya tidur di jalan sedangkan maling/penjahatnya bisa tidur lelap di perhotelan.

Polisi tidur di jalan mengandung makna penegak hukum yang buta dalam melihat kebenara, yang pada akhirnya justru diinjak-injak oleh suap.

Maling lelap di perhotelan mengandung makna koruptor, teroris, dan orang-orang jahat yang bisa dengan lancar menjalankan aksinya tanpa perlu takut dengan hukum yang telah lemah.

 

PK 13

 

Puisi yang berjudul KutangΒ dimaknai oleh penulisnya, Naufal Muti, sebagai berikut.

Jangan malu untuk bertanya karena jika kita malu maka tidak akan mendapatkan apa pun. Kalau kita mempunyai menangguhkan malu untuk berani bertanya, kita akan tahu. Semakin kita tahu semakin mudah memahami pelajaran, tidak terkurung dalam kebisuan, dan semakin mudah menangkap cita-cita.

Menariknya lagi, saat saya temukan puisi unik karya santri yang religius seperti berikut.

PK 18

 

Penulis mengingatkan kepada kita semua untuk selalu mengucapkan kalimat “Bismillah” pada setiap pekerjaan yang akan dilakukan agar kita senantiasa mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.

Puisi lainnya mengajak kita untuk merenungi kehidupan seperti berikut.

PK 12.2

 

Puisi ini ibarat roda kehidupan, jika diputar lingkaran rodanya, akan tampak tulisan di kotak yang dilubangi (yang di samping tanda panah) dan pasangan katanya yang akan muncul.

Puisi ini bermakna pada saat posisi kita di roda kehidupan sedang dalam kondisi naik, kita gembira, hura-hura, terlena, dan lupa kan segalanya. Pada saat kita dalam kondisi turun, kita sedih, perih, letih, dan tertatih. Kondisi kita pasti naik-turun, tidak selalu di atas, tidak selalu di bawah. Terkadang kita ingat, terkadang kita lupa.

Selain itu, masih tentang sifat manusia.

PK 7

 

 

Puisi di atas berbunyi, pagi kuhapus/ malam muncul// malam kuhapus/ pagi muncul// hapus/hapus/ hapus/ takkan pernah luput/ hingga ajal menjemput// lalu di sebelah kanannya terdapat maksud puisi tersebut. Krayon dan penghapus yang dibuat santri dari sterofoam itu juga menggambarkan maksud puisinya.

Adapun maksud puisi tersebut ialah gambaran sifat manusia yang tak lepas dari kesalahan. Walaupun sudah bertaubat pasti akan melakukan kesalahan kembali. Oleh karena itu, jangan sampai manusia meninggalkan tumpukan dosa ketika ajal tiba.

Kritik yang disampaikan santri terungkap melalui karya-karyanya. Semoga daya kritis mereka tidak hilang saat esok menjadi mahasiswa yang turut mewarnai dunia dengan nilai-nilai kebaikan yang sudah ditanamkan di pesantren.

 

 

Comments (11)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar