0

Membangun Budaya Literasi Dengan Konsep “Baca, Renungkan, Simpulkan” Awal Pembelajaran (0)

oloan February 11, 2021

Istilah Literasi sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Kata yang memiliki arti kemampuan membaca dan menulis (7th Edition Oxford Advanced Learner’s Dictionary, 2005:898), kini sudah memiliki makna yang sangat luas dan lebih dari sekedar kemampuan baca-tulis. Makna literasi sudah mengalami perkembangan pesat dan menyentuh pada praktik kultural yang berkaitan dengan persoalan sosial dan politik, sehingga para pakar pendidikan mengharuskan gerakan literasi lebih dikembangkan bagi warga sekolah, tidak terkecuali di Indonesia. Literasi komputer, literasi digital, literasi virtual, literasi matematika dan literasi lainnya adalah hasil dari transformasi pengertian literasi oleh karena perkembangan zaman.

Peran literasi telah dikelompokkan kedalam lima verba, yaitu: Memahami, Melibati, Menggunakan, Menganalisis dan Mentransformasikan Teks (Rekayasa Literasi : 160) telah mengubah paradigma ataupun pola pikir akan pemanfaatan literasi dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis, dapat menghitung, memecahkan masalah, cara untuk mencapai tujuan, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan potensi diri seseorang adalah fungsi literasi di era kekinian. Menyadari betapa lemahnya budaya literasi di Indonesia, terbukti sejak 15 tahun yang silam Indonesia telah ikut dalam sebuah program bernama PISA (Programme for International Student Assessment) yang dilakukan oleh OECD (the Organization for Economic Cooperation and Development) dengan tujuan untuk mengetahui prestasi literasi dalam hal membaca, matematika, dan sains siswa sekolah berusia 15 tahun.

Dari hasil penelitian PISA, tahun 2015 peringkat Indonesia ada diurutan 69 dari 76 negara peserta, yang artinya dari populasi anak-anak di Indonesia usia 15 tahun hanya 1,5 persen yang mencapai level empat, sisanya berada pada level tiga ke bawah dari tujuh level penjenjangan oleh program PISA (Sumber: Litbang.Kemdikbud). Terlihat jelas bahwa Indonesia memang Negara yang kurang daya bacanya dalam literacy purpose. Kebanyakan orang Indonesia membaca atas dasar information purpose, sehingga tidak heran apabila Negara kita kurang mengalami perkembangan yang pesat disebabkan oleh tingkat pendidikan yang masih rendah. Padahal, Pendidikan adalah kunci dalam keberhasilan budaya literasi, alias pendidikan adalah ujung tombak keberhasilan budaya literasi dan sekolah adalah etalase yang tepat untuk membudayakan literasi di kalangan siswa dan guru serta seluruh warga sekolah.

Menyadari ketertinggalan kita dibandingkan dengan Negara-negara tetangga, maka Pemerintah lewat Kemendikbud mulai tahun ajaran 2015/2016 menggalakkan gerakan budaya literasi, sehingga nantinya akan terbangun kebiasaan yang baik untuk menulis yang baik dari budaya membaca yang sudah terbangun dalam masyarakat Indonesia. Wajib membaca selama 15 menit sebelum awal atau pertengahan pembelajaran dengan membaca buku selain buku mata pelajaran sesuai seperti yang tertuang dalam lampiran Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 Tahun 2016 tentang Penumbuhan Budi Pekerti adalah ide yang diharapkan dapat diimplementasikan oleh setiap sekolah di tanah air.

Selain itu, Gerakan Literasi Nasional (GLN) telah ditelurkan oleh Kemendikbud yang tujuannya agar literasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dikalangan masyarakat tanah air. SMAN 13 Medan adalah salah satu sekolah yang menerapkan kebijakan GLN dengan tajuk Gerakan Literasi Sekolah (GLS) serta wajib membaca buku selain buku mata pelajaran 15 menit sesudah jam istirahat pertama. Kegiatan ini telah berlangsung selama dua tahun lebih, diawali di tahun ajaran 2016/2017.

GLS SMAN 13 Medan, Tumbuhkan Karakter Baik dan Budayakan Gemar Baca
Gerakan Literasi Sekolah di SMAN 13 Medan awalnya kurang mendapat perhatian dari para peserta didik, karena ini dianggap menambah beban mereka. Padahal, tujuan dari program ini sungguh mulia, dimana disamping memberikan tanggung jawab baru untuk menyelesaikan sebuah buku bacaan diluar buku mata pelajaran, juga nanti mereka diharapkan mampu berpikir kritis serta menyimpulkan dan menuangkan hasil bacaan selama 15 menit tersebut ke dalam buku harian yang nantinya dapat dibuat menjadi buku.

Juga tentunya untuk membentuk Ekosistem yang menyenangkan sehingga menumbuhkan semangat belajar karena waktu untuk bermain-main dipupus.

Juga program ini mampu menunjukkan emosi, peduli dan menghargai sesama, menumbuhkan semangat ingin tahu dan cinta pengetahuan, serta mampu menambah kemampuan berkomunikasi dan dapat berkontribusi bagi lingkungan sekitar untuk meningkatkan geliat Gerakan Literasi Nasional. Perlahan tapi pasti, GLS mampu diterima oleh siswa dengan kesadaran sendiri, mereka membawa buku yang bebas mereka baca ke sekolah. Dibantu kerjasama Guru yang masuk di les-4 tersebut, siswa dengan semangat menunjukkan kemampuan mereka untuk memahami teks secara analitis, kritis, dan reflektif yang dituangkan dalam buku catatan mereka.

Catatan harian itu nantinya akan dibuatkan dalam buku dengan cara saat mata pelajaran TIK atau Komputer berlangsung, saya sebagai guru mata pelajaran TIK akan menyediakan waktu saat di Laboratorium Komputer untuk mengetikkan hasil kesimpulan dari buku bacaan yang mereka minati. Dikumpulkan dalam satu file yang nantinya akan dibuatkan menjadi satu buku per tingkatan atau per kelas. Inti dari Literasi di SMAN 13 Medan adalah untuk menumbuhkan minat dan ketertarikan siswa akan buku bacaan yang diminati dan menumbuhkembangkan budaya literasi di Sekolah yang akan dia bawa dalam kehidupan sehari-hari.

Budaya Literasi di SMAN 13 Medan ini nantinya akan sangat membantu mereka dalam meningkatkan kemampuan membaca, berpikir, menyimpulkan dan menuangkan hasil pemikiran mereka ke dalam kehidupan sehari-hari sebagai modal dalam menyongsong Indonesia menjadi negara maju ke depannya. Semoga dengan Gerakan Literasi Sekolah ini memberikan sumbangsih nyata demi terwujudnya Revolusi Mental.

Sebab, untuk tingkatan siswa SMA, mereka sudah harus dapat memiliki kemampuan untuk memahami teks dengan mengaitkannya dengan pengalaman pribadi sehingga tumbuh kemampuan berpikir kritis.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar