17

Membangkitkan Keberanian Berbicara Pada Siswa SD (+7)

Yuli Suharyanti May 20, 2015

Mungkin kesulitanku ini juga merupakan kesulitan yang dialami beberapa guru lain. Setelah selesai menjelaskan materi saya sering bertanya kepada siswa, “Ada yang mau bertanya?” Semua siswa diam, paling-paling hanya tersenyum. “Sudah jelas?” Beberapa siswa menjawab tidak yakin,”Dah…” Tetapi ketika saya memberi pertanyaan tentang materi yang baru selesai diterangkan, tak satupun yang berani menjawab. Saya sudah berjanji untuk tidak akan marah sekalipun jawaban siswa salah. Tetap saja tidak ada yang berani bersuara.

Demikian juga ketika pelajaran Bahasa Indonesia kompetensi berbicara. Sulit sekali ketika mereka harus menceritakan kembali sebuah bacaan yang mereka baca dengan bahasa atau kalimat mereka sendiri.

Saya sering memberi motivasi bahwa kemampuan berbicara, kemampuan berkomunikasi sangat penting untuk bergaul dengan orang lain baik yang sudah kenal lama maupun yang baru kenal. Kemampuan berkomunikasi sangat bermanfaat dalam membangun relasi ketika mereka masuk dunia kerja kelak.

Tetapi penjelasanku yang sampai berbuih-buih itu belum membuat mereka bergeming dari zona kenyamanan “diam”.

Saya yakin bahwa siswa-siswa kelas 6 yang saya ajar ini adalah siswa-siswa yang berpotensi. Karena 6 tahun yang lalu sayalah yang mengajar mereka sewaktu kelas satu. Saya masih punya rekaman bagaimana mereka maju menyanyi sambil menari, berpuisi, berdiskusi kecil, bahkan presentasi sederhana. Kemanakah potensi mereka 6 tahun yang lalu?

Tak mau menyalahkan keadaan, dan tak mau menyalahkan siapapun, yang penting adalah apa yang bisa saya lakukan. Itu yang ada dalam pikiran saya.

Saya mulai merancang pembelajaran yang akan “memaksa” mereka “berbicara” di depan kelas. Agar suara mereka dapat terdengar oleh seluruh siswa, siswa yang maju harus menggunakan mikropon. Mulanya mereka menolak karena malu, tapi setelah saya memberi contoh dan membujuk bahwa dengan mikropon suara akan menjadi lebih merdu, merekapun setuju.

Sebagai langkah awal saya menggunakan pelajaran Bahasa Indonesia kompetensi berbicara menyampaikan laporan peristiwa. Mereka harus berperan sebagai reporter yang menyampaikan berita sebuah bencana dari lokasi atau sebagai penyiar radio yang membacakan sebuah berita. Setiap siswa maju ke depan dan setiap siswa saya rekam. Hasil dari rekaman itu saya tayangkan. Semua siswa senang, walaupun banyak kelucuan yang terjadi saat mereka maju. Yang sangat suprise adalah ada seorang siswa yang sangat pendiam ternyata suaranya sangat merdu, pantas sekali sebagai seorang penyiar radio.

Selanjutnya, saya berusaha untuk memadukan dengan pelajaran lain seperti PKn. Saya menjelaskan tentang organisasi PBB, peran PBB untuk Indonesia dan peran Indonesia dalam PBB. Siswa satu persatu maju ke depan menjelaskan ala seorang guru yang sedang menerangkan kepada siswa-siswanya. Ternyata mereka bisa!

IMG_20150216_102800

Saya mulai ketagihan dengan cara ini. Ketika materi membaca puisi, saya mencoba menyuruh siswa untuk maju boleh membaca hasil karya sendiri atau orang lain. Luar biasa, saya berhasil mengeksplorasi kemampuan terpendam mereka. Beberapa puisi karya siswa sangat bagus, dan dibaca dengan penghayatan yang luar biasa, sehingga mampu membuat orang yang mendengar merinding. Dan saya sangat takjub ketika salah satu siswa membaca karyanya sambil menangis.

Mungkin apa yang saya lakukan bagi guru-guru yang lain bukan hal yang istimewa, tapi buat saya ini sesuatu yang luar biasa. Karena biasanya saya mengajar hanya biasa-biasa saja.

โ€œArtikel ini diikutkan dalam lomba menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10โ€.

Comments (17)

  1. udah sy VOTE UP juga untuk tips yang menarik ini …. di SD emang anak-anak agak sulit untuk berani bicara bun … kendala beragam … kalau boleh nambah tips … bicara boleh menggunakan bahasa daerah …. baru ke bahasa indonesia …. ๐Ÿ™‚

  2. Terimakasih Pak Susantochimi, maaf kemarin saya sudah baca dan sudah vote tanpa permisi hehe,,, saya dah nyoba tapi pake “kelase”nya Pak Winastwan Gora, tp kendalanya siswa ga da yang punya laptop dan masih sedikit yang punya android. maklum dari ekonomi bawah, Pak.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar