2

MEMBACA ADALAH PERINTAH ALLAH YANG PERTAMA (0)

Dyna Rukmi Harjanti Soeharto March 10, 2021

            Beberapa tahun ini kita dibuat mengelus dada mengetahui skor PISA membaca rata-rata siswa di Indonesia yang berada pada sepuluh besar dari bawah, dan semakin menurun setiap tahunnya. Bahkan pada tahun 2019 Indonesia berada pada peringkat 72 dari 78 negara. Sungguh memalukan. Padahal tahun 80an Indonesia menjadi salah satu negara tujuan belajar bagi mahasiswa dari negara tetangga di Asia Tenggara, tapi kini di saat negara-negara tetangga semakin melesat pendidikannya, Indonesia malah semakin terpuruk.

            Belum lagi terdengar ada kemajuan tentang skor PISA siswa Indonesia, kita sudah dibuat terhenyak lagi oleh berita dari Microsoft yang mengatakan bahwa netizen Indonesia paling tidak sopan se-Asia Tenggara. Seakan membenarkan polling Microsoft itu, keesokan harinya kolom komentar akun Microsoft sampai harus ditutup karena mendapat serbuan dari netizen Indonesia yang tidak merasa terima dengan hasil polling tersebut.

            Masih hangat berita tentang Microsoft, muncul lagi kabar terbaru dari TNI yang menyatakan bahwa mantan atlet bola voli nasional, Aprilia Manganang, adalah seorang laki-laki. Sontak akun instagram sang atlet diserbu dengan komentar-komentar negatif yang sangat tidak enak dibaca. Padahal semua ini bukanlah kesalahan sang atlet, melainkan karena kelainan bawaan yang dideritanya sejak lahir. Tidakkah para netizen itu berpikir, bagaimana jika dirinya atau anaknya menderita kelainan seperti yang dialami Aprilia?

            Mengapa perilaku netizen Indonesia bisa mengerikan seperti itu? Tentu ini sangat berkaitan erat dengan hal yang saya sebut pertama tadi, yakni kemampuan membaca, atau sekarang terkenal dengan istilah literasi. Ya, masyarakat Indonesia secara umum memang malas membaca. Baru membaca judul saja sudah terbakar hatinya, sehingga komentar yang keluar tidak terkendali. Padahal belum tentu isi kabarnya seperti yang ada di pikirannya. Saya sering membaca komentar-komentar di postingan Bapak CEO Mohammad Ihsan yang jauh dari isi artikel beliau, menandakan bahwa si komentator tidak membaca keseluruhan artikel. Begitu juga pada kasus sang atlet tadi. Belum membaca artikel resmi dari TNI, netizen sudah ramai berkomentar yang menyakitkan, mengatakan bahwa sang atlet transgender lah, dan sejenisnya. Bahkan yang jauh lebih kejam dari itu juga banyak.

            Sampai kapankah kita akan seperti ini? Tidak malukah kita dengan Negara-negara tetangga? Mereka sudah melesat jauh meninggalkan kita, sedangkan kita masih saja berkutat pada kesenangan berdebat yang tidak berujung pangkal. Sikap kita yang seperti inilah yang menyebabkan Indonesia menjadi surganya penyebar hoax.

            Semua ini menurut saya tidak perlu terjadi jika kita terbiasa membaca setiap informasi dengan lengkap dan jelas. Sehingga tidak akan terjadi ‘misinformasi’. Sebelum berpendapat dan berkomentar, kita akan berhati-hati dan mencari informasi selengkapnya dulu agar tidak salah. Bukankah wahyu pertama yang diterima Rasulullah adalah perintah untuk membaca? Allah  pun mengatakan bahwa membaca itu sangatlah penting, sehingga diperintahkan untuk pertama kalinya.

            Nah, ujung tombak kebiasaan membaca itu salah satunya ada di pundak kita, para guru. Dengan pengaruh kita kepada siswa, kita bisa mengajarkan dan membiasakan mereka untuk menyukai dan kemudian cinta membaca. Ya, kita bertanggungjawab atas nasib generasi muda kita di masa depan. Dengan cinta membaca, generasi muda itu akan lebih banyak mendapatkan informasi, yang membuat mereka semakin terbuka wawasannya dan tidak sembarangan berkomentar negatif di media sosial. Dengan begitu, pelan-pelan kita akan bisa mengharumkan lagi nama Indonesia lewat prestasi, bukan lagi terkenal lewat citra buruk. Semoga.

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar