2

Memantik Gairah Belajar Masa Pandemi (0)

oloan November 24, 2020

Menurut Thursan Hakim dalam bukunya Belajar secara efektif (2000) mengatakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti peningkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dan lain-lain kemampuan. Belajar dapat dilakukan dalam dua macam, belajar formal, seperti dilakukan pada lembaga pendidikan, seperti di Sekolah, Perguruan Tinggi dan bimbingan belajar. Lalu belajar informal, dilakukan di lingkungan masyarakat dengan cara bersosialisasi dengan masyarakat.

Seperti kita ketahui dengan dikeluarkannya kurikulum darurat pada masa pandemi covid-19, kita melaksanakan pembelajaran dan pendidikan jarak jauh. Belajar dari rumah menjadi pilihan agar pendidikan di Indonesia tetap berjalan. Walau terkesan baru, pembelajaran jarak jauh harus menelurkan inovasi-inovasi baru agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan dan bagi guru di Indonesia harus membiasakan pembelajaran jarak jauh agar guru Indonesia bisa menjadi pendidik profesional yang tangguh dengan mendedikasikan dirinya untuk menjadi pahlawan tanpa tanda jasa.

Menjadi guru yang beradaptasi dengan keadaan dan berinovasi agar gairah belajar peserta didik dapat terjaga, tidak malas-malasan dan menganggap ini libur sekolah, tetapi guru mampu memantik gairah belajar peserta didik walau kita menghadapi pandemi dengan belajar dari rumah saja.

Lantas bagaimana caranya agar guru mampu memantik gairah belajar peserta didik di masa pandemi?

Hal utama dilakukan oleh seorang pendidik adalah mengetahui masalah peserta didiknya, dalam diklat guru belajar yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menyebutkan bahwa perlunya melakukan awal non kognitif. Maksudnya ialah proses yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana keadaan, situasi yang dialami peserta didik sebelum melakukan pembelajaran.

Jika dalam pembelajaran tatap muka, peserta didik ada di depan pendidik sehingga memudahkan untuk melakukan asesmen diagnostik awal, semisalnya pendidik melakukan apersepsi dengan bertanya tentang keadaan siswa? Namun, saat pembelajaran jarak jauh ini, bagaimana kita melakukan asesmen diagnostik yang sangat penting ini?

Dalam melakukan pembelajaran pada masa pandemi ini membutuhkan waktu untuk mengetahui kemampuan peserta didik secara kognitif maupun non kognitif. Maka inovasi yang perlu dilakukan adalah membuat group Whatsapp, Facebook maupun Twitter atau Instagram. Group media sosial ini tentunya yang telah disepakati bersama yang mana gampangnya digunakan, bermanfaat untuk mengetahui perkembangan kognitif maupun non kognitif peserta didik serta kabar baik peserta didik.

Lantas upaya selanjutnya untuk memantik gairah belajar jarak jauh tentunya guru harus tetap mempertahankan perfomanya dengan membentuk kelas-kelas maya dalam bentuk ClassRoom atau Whatsapp Group sebagai medium komunikasi atau kegiatan belajar mengajar antara pendidik dengan peserta didik.

Tugas selanjutnya, tentunya update dan rajin memposting materi-materi pembelajaran, terutama yang bersingungan atau menyentuh dengan upaya-upaya pencegahan pandemi covid-19 merupakan sebuah usaha baik guru dalam menciptakan suasan belajar yang menyenangkan.

Lalu merencanakan kegiatan pembelajaran tatap muka lewat pembelajaran jarak jauh. Tatap muka atau meet room ini dapat dilakukan juga dengan memanfaatkan berbagai aplikasi, seperti Google Meet, Zoom Meeting hingga Microsoft Teams yang menyajikan tatap muka dalam jaringan, sehingga interaksi antara pendidik dan peserta didik dapat terjalin dengna baik.

Presentasi adalah hal terbaik dalam pembelajaran jarak jauh. Guru harus mampu membuat presentasi materi pembelajaran dengan baik, memuat penjelasan tujuan-tujuan khusus bagi masing-masing pembelajaran, sehingga peserta didik mengerti untuk apa mereka mengetahui pembelajaran yang dimaksud. Presentasi tersebut juga dapat menggunakan musik, video atau gambar yang berkaitan dengan topik sehingga presentasi tidak terlihat kaku, tetapi menarik.

Yang perlu diingat saat belajar di masa pandemi ini adalah pendidik mampu menampilkan ilustrasi-ilustrasi yang mampu membangun kemampuan imajinasi berpikir peserta didik dan yang perlu diingat bahwa belajar di masa kini bukan seberapa luas materi yang diajarkan, melainkan seberapa dalam penguasaan peserta didik terhadap materi belajar yang disampaikan oleh guru, itu saja sudah cukup.

Lalu peran orang tua dalam memantik dan meningkatkan gairah belajar anak adalah kunci belajar di masa pandemi ini. Kolaborasi orang tua dan pendidik sangat penting, sebab tidak dapat dipungkiri, peran guru sebagai pendidik setengah sudah dialihkan kepada orang tua. Orang tua sebagai pendidik di rumah menggantikan peran guru, harus bisa mendampingi, mengarahkan dan membantu kesulitan peserta didik dalam memahami pelajaran.

Orang tua sebagai pendidik harus mampu membagi waktu antara mendampingi anak belajar dengan mencari nafkah, memberikan suasana nyaman, senang, dan bergairah dalam belajar. Gairah belajar anak akan tumbuh ketika anak tidak disudutkan dengan situasi dan ketidaktahuannya. Orang tua dapat memberikan motivasi agar anak dapat menumbuhkan rasa ingin tahunya, untuk belajar dari kesalahannya.

Sebaik dan sebanyak apapun metode, cara dan teknik mengajar yang dilakukan oleh pendidik, jika peserta didiknya tidak mau belajar? Maka semuanya itu sia-sia belaka. Untuk itu kita sebagai orang tua dan pendidik harus terus menanamkan kepada peserta didik bahwa belajar dapat dilakukan dimana saja, kapan saja dan bersama siapa saja. Semuanya kita di masa pandemi ini adalah pendidik.

Long Life Education, harus ditanamkan dan menjadi pemantik bagi peserta didik agar mereka mengerti bahwa belajar itu sepanjang hidup, bukan hanya saat ini saja. Belajar juga bukan tentang hal-hal yang sulit dan ribet, tetapi mulailah dari hal-hal yang paling kecil dalam diri dan tempat sekitar kita. Mulailah dari hal-hal yang mudah, terutama jujurlah terhadap diri kita dan mampu berdamai dengan hati kita.

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar