0

Memaksimalkan Kinerja BKK (+2)

Muji Sasmito June 5, 2015

SAAT-saat yang paling dinanti setelah para peserta didik menempuh Ujian Nasional (UN) selama kurang lebih tiga hari adalah pengumuman kelulusan. Dua pekan yang lalu, tepatnya Jumat (15/5), peserta didik tingkat SMA sederajat menerima keputusan yang menjadi penentu hidup mereka selanjutnya, yakni lulus atau tidak lulus.

Bagi mereka yang lulus tentu akan menjadi kegembiraan tersendiri setelah tiga tahun belajar. Sayangnya, pengumuman kelulusan sering (bahkan bisa dikatakan pasti) diakhiri dengan pesta kelulusan yang berlebihan dan salah arah.

Mereka meluapkan kegembiraan mereka dengan corat-coret baju seragam, konvoi, dan sedihnya ada yang merayakan dengan pesta bikini atau seks bebas. Para peserta didik itu tak menyadari bahwa langkah yang harus mereka tempuh masih jauh untuk menggapai kesuksesan. Langkah tersebut bisa bekerja atau melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.

Bagi mereka yang ekonomi orang tuanya dari kalangan atas (beberapa dari kalangan menengah) sudah tentu memilih langkah kedua, masuk universitas. Adapun bagi kalangan bawah kemungkinan besar memilih bekerja.

Meski tak jarang yang tetap melanjutkan kuliah dengan mengandalkan beasiswa, baik prestasi atau kurang mampu. Namun, seperti yang sudah umum diketahui, mencari kerja di zaman sekarang tidaklah mudah. Apalagi hanya mengandalkan ijazah setingkat SMAatau sederajat.

Para lulusan yang pencari kerja tentu membutuhkan hal lain selain ijazah. Di sinilah peran Bursa Kerja Khusus (BKK) diperlukan untuk membantu para lulusan itu. BKK merupakan sebuah lembaga yang berdiri di bawah naungan sekolah menengah kejuruan (SMK).

BKK didirikan berdasarkan SK Direktur Jenderal Pembinaan, Pelatihan dan Penempatan Tenaga Kerja Dalam Negeri Nomor: 94/D.P3 TKDN/- 2001 tanggal 29 November 2001. Dengan SK tersebut, semua SMK di Indonesia dapat menyelenggarakan penempatan atau penyaluran tenaga kerja bagi tamatan sekolah sendiri maupun dari sekolah-sekolah lain.

Menjadi Mediator

Peran BKK sebagai penyelenggara penempatan atau penyaluran kerja adalah menjadi mediator antara perusahaan, yang lazim disebut DU/DI (Dunia Usaha- /Dunia Industri) dengan para alumni. Hal itu diperlukan karena pada kenyataan di lapangan, para alumni masih “buta” dengan informasi atau lowongan pekerjaan yang sesuai dengan standar atau kualifikasi pendidikan mereka. Selain memberi pengetahuan tentang dunia kerja, peran BKK lainnya adalah memberi bimbingan karier bagi peserta didik yang belum lulus.

Agar nantinya sebelum mereka lulus, para peserta didik itu sudah mempunyai bekal atau pandangan akan bekerja di di mana dan menempati posisi apa. Itulah kenapa, ketua atau paling tidak salah satu anggota dalam BKK biasanya berlatar belakang guru BK atau yang mempunyai bekal disiplin ilmu psikologi.

Selain guru BK, sumber daya manusia (SDM) lain yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja BKK bisa diambil dari wakil kepala bidang hubungan masyarakat (humas). Mengingat peran BKK lainnya, yaitu menjalin kerja sama atau memorandum of understanding (MoU) dengan DU/DI demi lancarnya penyaluran dan penempatan lulusan di perusahaan terkait.

Jika BKK dan DU/DI sudah menjalin kerja sama, tentunya hal itu akan menguntungkan kedua belah pihak. Di mana SMK tempat BKK bernaung akan mendapat kepercayaan dari masyarakat sekitar tentang lulusan yang mendapat kepastian bekerja, adapun perusahaan terkait setiap tahunnya akan mendapat jaminan ketersediaan tenaga kerja yang berkualitas.

Meski BKK sudah dicanangkan oleh dinas tenaga kerja sejak lama, kebanyakan SMK di Indonesia belum atau tidak memaksimalkan kinerja BKK di sekolahnya. BKK hanya menjadi lembaga formalitas untuk mendukung penilaian dari pusat, semisal akreditasi dan ISO.

Hanya ada beberapa SMK yang berhasil memaksimalkan BKK. Contoh saja di Kabupaten Pati. SMK yang bisa dikatakan berhasil memaksimalkan BKK di antaranya SMK Tunas Harapan dan SMK Bina Tunas Bhakti. Keduanya memiliki BKK yang solid. Setiap tahun kedua SMK tersebut pasti mengadakan perekrutan tenaga kerja. Tidak hanya lulusan dari sekolah mereka sendiri.

Mereka juga mengundang lulusan sekolah lain melalui BKK masing-masing untuk mengikuti seleksi perekrutan tenaga kerja. Keduanya bekerja sama dengan perusahaan otomotif Astra. SMK Tunas Harapan bekerja sama dengan Astra Honda Motor, adapun SMK Bina Tunas Bhakti bekerja sama dengan Astra Daihatsu Motor.

Memang untuk dapat bekerja sama dengan perusahaan besar dan sesuai dengan kompetensi keahlian yang diajarkan membutuhkan waktu yang tidak singkat. Perlu manajemen dan konsistensi untuk terus menghasilkan lulusan-lulusan berkualitas dan berkompeten dan dana yang tidak sedikit.

*) Tulisan ini dimuat Suara Merdeka, 23 Mei 2015 dalam rubrik Suara Guru.

Tagged with: , , , ,

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar