1

Memaknai setiap peristiwa menjadi proses belajar (0)

Elga Surya Andika October 18, 2020

Tahun 2020 merupakan tahun yang istimewa. Tahun ini terjadi sebuah pandemi yang hebat yakni Covid-19 atau juga biasa disebut dengan pandemi Corona. Corona merubah segala aspek kehidupan masyarakat. Corona membuat berbagai sektor harus ditutup demi keselamatan bersama. Corona juga membuat semua orang harus belajar untuk dapat beradaptasi dengannya. Salah satu akibat yang ditimbulkan corona adalah adanya perombakan yang hebat dalam proses pendidikan. Sejak bulan Maret 2020 pendidikan di Indonesia dialihkan dari yang biasanya dilakukan di sekolah sekarang dilakukan di rumah. Sampai saat ini juga masih banyak sekolah yang belum dibuka demi keselamatan bersama.

Perubahan ruang belajar juga beriringan dengan sistem belajar yang dilakukan. Pembelajaran saat ini dilakukan secara daring (dalam jaringan) dengan memanfaatkan alat komunikasi. Hal ini juga sama seperti yang dilakukan di sekolahku Sanggar Anak Alam. Sedikit mengenal tentang Sanggar Anak Alam yakni sekolah non formal berbentuk PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) yang berada di Bantul, Yogyakarta. Sekolah kami memiliki kebebasan untuk mengelola proses belajar terutama pada masa pandemi ini. 

Sebelum adanya pandemi corona, meida belajar yang kami gunakan adalah riset. Setiap anak bebas memilih tema riset untuk bahan belajar selama satu semester. Melalui riset tersebut maka akan ditarik banyak ilmu dan pengetahuan baru yang memang diperlukan oleh anak. Jadi, kami tidak menggunakan sistem mata pelajaran sebagaimana sekolah pada umumnya. Pada saat corona, kami tetap menggunakan metode riset, hanya saja tema yang dipilih anak lebih spesifik yakni tema riset yang berada di sekitar rumah dan prosesnya juga bisa dilakukan di rumah dengan pendampingan orang tua.

Tidak seperti sekolah pada umumnya yang memanggil dengan sebutan guru. Kami lebih nyaman dipanggil dengan sebutan fasilitator, karena tugas kami adalah memfasilitasi dan mendampingi anak dalam proses belajar. Adanya perubahan dalam sistem belajar dimana anak lebih banyak berproses di rumah, menjadikan tidak hanya kami yang berperan sebagai fasilitator namun orang tua dirumah juga berperan sebagai fasilitator untuk memfasilitasi proses belajar anak. Kerjasama antara fasilitator di sekolah dan fasilitator di rumah harus dibangun dengan baik. Para fasilitator saling berkomunikasi untuk melaporkan perkembangan belajar anak dari proses riset yang sudah ditentukan. 

Semester ini saya diberi tanggung jawab untuk menjadi fasilitator kelas 4. Siswa kelas 4 berjumlah 18 anak dengan 3 fasilitator, jadi setiap fasilitator mendampingi 6 anak. Kebetulan saya mendapat bagian untuk mendampingi 6 anak. Proses awal semester digunakan untuk membuat kesepakatan proses belajar selama satu semester. Hasil dari kesepakatan yang sudah dibuat oleh fasilitator orangtua dan siswa adalah sebagai berikut: 1) Adanya kelas luring yang akan dilakukan pada hari Jumat (tempat bisa dilakukan di rumah siswa atau di sekolah); 2) Adanya kelas daring yang akan dilakukan antara siswa dan fasilitator setiap hari kamis malam; 3) Akan ada pertemuan dengan kelas 4 secara keseluruhan setiap satu bulan sekali. Kesepakatan yang dibuat tidak harus dilakukan secara mutlak namun bisa berubah seiring dengan kebutuhan anak. Sedangkan komunikasi dengan orangtua bisa dilakukan kapan saja melalui chatting

Setiap anak memiliki judul riset yang berbeda. Salah satunya memilih riset tentang “Menyulam”. Cia memilih riset menyulam karena pernah diberi “pembidang sulam” dan Cia penasaran bagaimana menggunakannya, sebelumnya dia tidak pernah membuat sulam sama sekali. Sungguh alasan yang sangat sederhana dari seorang anak kelas 4 SD. Ketika anak sudah memilih tema riset yang akan dilakukan, anak kemudian menentukan tujuan dan target proses belajarnya. Proses ini dilakukan bersama dengan orangtua di rumah dan didiskusikan juga dengan fasilitator baik ketika proses luring maupun daring. Setelah tujuan dan target riset sudah ditentukan anak akan membuat tahap riset yang akan dilakukan. Tahap yang akan dilakukan Cia adalah 

  1. merencanakan judul riset sulam
  2. mencari narasumber
  3. membuat daftar pertanyaan
  4. membuat janji dengan narasumber
  5. wawancara
  6. mencatat penjelasan dari narasumber
  7. mempersiapkan alat dan bahan
  8. membuat berbagai produk sulam sampai jadi

Cia juga sudah merencanakan untuk membuat produk pouch sulam, kaos sulam dan tas sulam. Cia bersama dengan orang tua mampu melakukan setiap tahap yang telah direncanakan. Sedikit berbelok dari rencana yang telah dibuat, Cia memilih untuk membuat masker sulam. Ternyata masker sulam yang dibuat Cia banyak diminati oleh orang lain. Fasilitator, orangtua dan Cia kemudian berdiskusi untuk membuka pemesanan masker sulam. Hingga saat ini Cia sudah mampu menjual 30 masker dan 15 masker lagi sedang dalam proses pembuatan. Selama proses penjualan masker Cia bisa merasakan pengalaman baru yakni pengalaman mengirimkan paket karena ada beberapa teman dari luar kota yang juga ingin memiliki masker buatan Cia. Selain itu juga juga mendapatkan pengalaman mengambil uang ke ATM karena teman yang berada di luar kota hanya bisa membayar dengan cara mentransfer uang. 

Berbagai peristiwa yang dialami oleh Cia membuatnya dapat belajar banyak hal. Melalui catatan yang dibuat, Cia memperlancar menulis dan membaca. Ketika melakukan wawancara, Cia belajar berani untuk berkomunikasi dengan orang lain. Tidak semua anak dapat melakukan hal ini sehingga perlu untuk dilatih terutama ketika membicarakan hal-hal yang agak serius. Ketika membuat masker sulam, Cia belajar untuk mengukur dan menghitung. Sebagai fasilitator, saya harus mampu untuk peka dalam memproses belajar Cia begitu juga fasilitator di rumah yakni orangtuanya. Kerjasama antara fasilitator dan orangtua harus berjalan dengan lancar untuk saling mendiskusikan proses dan perkembangan anak.

Proses belajar yang dilakukan di Sanggar Anak Alam terutama pada masa pandemi saat ini sepertinya banyak membawa berkah solusi terhadap masalah-masalah yang semasa sebelum pandemi seakan bias dari pandangan setiap orang , seperti: setiap keluarga akan terlibat lebih aktif pada proses perkembangan belajar anak, anak lebih aktif menerapkan konsep belajar mandiri, dokumentasi data yang lebih terstuktur dan dapat lebih peka dalam memaknai setiap peristiwa menjadi proses belajar untuk menemukan pengetahuan. Sekolah seharusnya tidak hanya berubah dari segi teknis saja namun juga berubah dari segi strategi. Pembelajaran yang lebih bermakna dengan memahami lingkungan sekitarnya akan memberikan solusi bagi lingkungan tersebut. Selain itu orang tua dan guru juga tidak akan merasa terbebani dengan proses daring yang secara teknis cukup rumit. 

 #WritingCompetition #NewNormalTeachingExperience

Comments (1)

  1. Selamat Sore 🙂
    terima kasih banyak atas partisipasi pada Guraru Writing Competition 2020.

    Semoga #sharing pengalaman dan ilmu diatas dapat bermanfaat bagi rekan guru lainnya dan semoga beruntung untuk memenangkan salah satu hadiah dari Guraru!

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar