0

Memaknai Pendidikan Masa Kini, Adaptasi dan Perilaku Baru Mendidik Terapkan 5M + 3T (0)

oloan October 24, 2021

Tidak terasa, masih seperti mimpi tapi sudah hampir dua tahun kita berkutat dengan pandemi Covid-19 yang belum tuntas sampai sekarang. Masih seperti mimpi anak-anak melakukan pembelajaran dari rumah. Disrupsi pendidikan terasa, kegiatan belajar mengajar tidak maksimal dan optimal selama kegiatan belajar dari rumah.

Tidak ada yang disalahkan, karena keadaan membuat pemerintah harus membuat pilihan pembelajaran daring tanpa tatap muka. Sejumlah dampak negatif bermunculan pasca setahun lebih kegiatan belajar mengajar dari rumah saja. Anak-anak kehilangan ruh belajarnya, beban orang tua bertambah ketika harus menjadi guru sekaligus pemenuhan kebutuhan hidup rumah tangga, disiplin dan tanggung jawab belajar anak-anak kendor, karena diambil alih oleh orang tua mereka, hingga akhirnya guru mengalami kesulitan dalam mengukur tingkat keberhasilan belajar anak-anak.

Seperti dikutip dari kompaspedia.kompas.id, dari hasil kajian Kemendikbud tentang kebiasaan belajar masa pandemi ini, diketahui bahwa anak-anak hanya belajar 1-2 jam saja, bahan yang ada kurang dari 2 jam setiap harinya.

Memang peserta didik selama BDR (Belajar Dari Rumah), mengerjakan soal-soal dari guru, tapi intensitas pertemuan antara guru dan murid semakin menurun. Setelah pertemuan lewat google meet maupun zoom meeting 1 jam, siswa selesai mengerjakan PR lalu apa yang terjadi setelahnya?

Siswa Sekolah Dasar yang belajar tiap hari 60 persen, tetapi ditingkat SMP, SMA dan SMK hanya berkisar 31-36 persen. Selain itu interaksi antara guru dan siswa menurun, di tingkat SD 1-2 jam perminggu, SMP 8-9 perminggu, dan SMA/SMK 9-10 jam perminggu.

Nah, resiko learning loss didepan mata jika Pemerintah tetap mempertahankan pola belajar BDR. Akan tercipta generasi yang tidak berpendidikan apabila pembelajaran tatap muka tidak diwujudkan, walau harus menghadapi resiko besar.

Untuk itulah Pemerintah menggenjot vaksinasi untuk anak Indonesia yang berumur 12 tahun ke atas.

Vaksinasi sangat penting dalam persiapan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas agar kasus Covid-19 tetap melandai sembari mempersiapkan langkah-langkah bijak nan penuh pengetatan protokol kesehatan untuk menghadapi perubahan pola dari pandemi menuju endemi.

Sinergi orang tua dan guru serta pembiasaan baru harus diterapkan kepada peserta didik agar keselamatan, keamanan dan kesehatan warga sekolah tetap terjaga dari serangan virus Covid-19.

Mulai dari sebelum berangkat ke sekolah, peserta didik harus sudah dibekali dengan protokol kesehatan. Sudah sarapan dari rumah, mengenakan masker, orang tua menyiapkan hand sanitizer. Dalam perjalanan, selama di sekolah hingga selesainya pembelajaran tatap muka terbatas, peserta didik dan guru harus tetap ketat menjaga protokol kesehatan.

Banyak kebiasaan baru harus kita terapkan agar pembelajaran tatap muka terbatas ini sukses terlaksana. Keberanian dan pola penanganan ketat harus diterapkan agar nasib pendidikan kita ke depannya tidak menghasilkan generasi yang learning loss atau kehilangan keterampilan belajarnya.

Lantas apa yang harus kita siapkan menghadapi era pendidikan baru di masa pandemi ini? Menurut saya ada beberapa hal yang harus kita persiapkan agar Pembelajaran Tatap Muka Terbatas ini sukses sembari penunggu pergerakan pandemi menjadi endemi ini benar-benar sukses agar dunia pendidikan kita kembali normal, diantaranya:

Pertama, ketatkan Protokol Kesehatan 5M. Memakai Masker, Menjaga Jarak, Mencuci Tangan, Menghindari Kerumunan dan Mengurangi Mobilitas.

Kedua, saat mengajar bulatkan semangat 3T, Tekad Kuat Memberikan Materi dengan baik, Tangguh dan Terampil Saat Mengajar.

Semoga Dunia Pendidikan Kita Kembali Bergairah…

#KompetisiArtikelGuraru
#HariGuruSedunia

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar