0

Memaknai Pembelajaran Sejarah (0)

Thurneysen Simanjuntak March 24, 2021

Bagi sebagian anak didik belajar sejarah mungkin membosankan. Tapi bagi sebagian lainnya, ternyata belajar sejarah tersebut menyenangkan. Hanya kalau dilihat fakta di kelas pembelajaran, bisa dibilang yang senang belajar sejarah tersebut cukup minoritas.

Belajar sejarah memang tidak populer bagi sebagian oranganak didik. Alasannya cukup beragam. Mungkin ada yang merasa bosan karena belajar masa lalu saja, atau tidak dapat merasakan relevansinya dengan masa kini.

Kalau melihat hakikat sejarah tersebut, sesungguhnya belajar sejarah sangat penting.

Arti penting belajar sejarah tersebut dapat saya analogikan dengan mobil yang memiliki kaca depan ( kaca besar ) dan kaca samping ( spion ). Kaca depan adalah masa depan, sementara kaca samping adalah masa lalu.

Artinya, dalam perjalanan kehidupan sesungguhnya kita sama dengan mobil tersebut. Kita memiliki masa depan dan masa lalu. Pertanyaannya apakah yang penting hanya masa depan? Atau masa lalu saja? Atau bahkan kedua-duanya, masa depan dan masa lalu?

Kalau merujuk pada analogi tersebut maka kedua-duanya sebenarnya penting. Ibarat mobil tadi, untuk bergerak maju ke depan, kita akan selalu melihat kaca depan ( kaca besar ) dan sesekali melihat ke belakang dengan kaca samping ( spion). Tujuannya agar kita ( penumpang ) selamat. Untuk melaju ke depan, tentu kita harus memperhatikan keamanan di belakang mobil.

Begitu pula dengan kehidupan. Kita harus melihat masa lalu, menjadikannya pedoman dan pembelajaran. Sehingga kita ketika berjalan menuju masa depan, tidak mengulangi hal yang sama. Kita belajar dari pengalaman masa lalu. Sebab masa lalu tersebut adalah guru yang baik.

Menanamkan arti pentingnya pembelajaran sejarah di dalam kelas tentu jauh sangat penting, daripada hanya menuntaskan materi semata. Bukan berarti materi tidak penting. Tetapi materi pembelajaran sejarah yang ‘bejibun’ bila anak didik tidak melihat arti pentingnya, maka akan berlalu begitu saja.

Artinya, menumbuhkan kesadaran pembelajaran sejarah harus menjadi dasar dari pelajaran sejarah tersebut. Sehingga ketika materi disampaikan oleh guru, dapat dimaknai dan dinikmati oleh siswa.

Dengan demikian, apa yang menjadi harapan Bung Karno, yang kita kenal dengan “Jasmerah”, jangan sekali-kali melupakan sejarah menjadi sesuatu yang benar – benar dihayati oleh anak didik.

Sehingga anak didik yang menjadi generasi penerus bangsa, yang akan memimpin kelak di negeri kita, tetap menjadikan sejarah sebagai identitas bangsa. Tetap menjadikan sejarah bangsa sebagai pedoman dalam menambil berbagai keputusan dan pedoman dalam pembangunan.

Bagi yang pernah membaca buku Architects of Deception yang ditulis oleh Juri Lina, di sana tertulis ada tiga cara untuk melemahkan, menjajah, atau bahkan menghancurkan suatu bangsa.

Pertama, kaburkan sejarahnya. Kedua, menghilangkan atau hancurkan bukti-bukti sejarah bangsa itu sehingga tidak bisa diteliti dan dibuktikan kebenarannya. Dan yang ketiga, putuskan hubungan mereka dengan leluhurnya dengan mengatakan bahwa leluhurnya itu bodoh dan primitif. (Baca: Attoriolong)

Nah, dengan ketiga hal tersebut, sesungguhnya cukup menjadi makna penting kenapa anak didik (generasi penerus bangsa harus belajar sejarah).

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar