1

Melayani dan Bukan untuk Dilayani (0)

Sovia Asi Simbolon November 23, 2020

Datang untuk melayani bukan untuk dilayani. Itulah makna guru sebenarnya. Dia melayaniku tanpa melihat rupa, ras, dan agama. Sampai hari ini masih kurasakan cara guruku melayaniku. Selalu memberi vitamin ilmu, dan menyuapi makanan bergizi, yaitu didikan. Dia tak pernah berhenti membentuk karakterku untuk lebih bertanggung jawab, jujur, mandiri, dan berjiwa nasionalisme. Dia juga mengubah pola pikirku untuk lebih maju dan berpikir positif. Semua dilakukannya penuh ikhlas.

Dia tetap memberi ilmu dan mendidikku meski rasa lelah memeluknya. Tak ada kata lelah di benaknya. Meski banyak masalah yang dihadapinya, dia berusaha untuk tetap segar. Terkadang masalah yang dialaminya kadang datang dari keluarganya, atasannya, orang tua siswa, bahkan siswanya sendiri. Kadang datang juga dari masyarakat, dan tuntutan dari berbagai pihak. Semua itu membuat dia lupa untuk mengurus dirinya.

Masalah yang dihadapinya pun beragam rasa. Kadang rasa manis, asam, asin, kecut, dan pahit. Namun, dia selalu tersenyum untukku dan teman-temanku. Dia berusaha bersinar di hadapanku. Dia juga pandai untuk menutupi rasa jenuhnya. Pandai juga menyelimuti masalahnya di hadapanku dan teman-temanku. Tapi, kutahu dia menyimpannya dengan rapi. Karena di hati dan pikirannya, hanya memikirkan bagaimana caranya agar aku dan teman-temanku harus berhasil di masa depan. Harus berkarakter, berkarya, bermakna, dan berkontribusi di masa depan. Itulah harapannya.

Di masa itu, kadang kulupa menyapanya saat belajar bersamanya, kadang kulupa membalas senyumnya saat dia tersenyum kepada kami, dan kulupa mengucapkan terima kasih saat kuminum vitamin ilmunya. Selain itu, kulupa mengatakan bahwa didikannya adalah makanan bergizi yang sangat lezat. Kadang kulupa minta maaf karena melukai hatinya saat aku mengabaikan tugasnya, sarannya, dan aturannya. Ternyata dia adalah guru yang memberi pengaruh besar untuk membentuk hidupku.

Inilah menjadi alasanku kenapa menjadi guru. Melayani dan bukan untuk dilayani, serta memberi pengaruh positif kepada siswa. Alasan tersebut adalah solusi ketika kita menghadapi siswa yang mengabaikan tujuan pembelajaran di masa daring, malas masuk kelas daring, malas mengerjakan tugas demi bermain game online, menganggap belajar daring membosankan, sibuk bermain daripada belajar, mengikuti pergaulan bebas, narkoba, dll.

Oleh karena itu, sebagai guru, saya harus ikhlas melayani siswa. Karena guru itu, sang motivator yang handal, sang inspirator, dan pembawa pengaruh yang besar kepada siswanya.

Foto kebersamaan sebelum pandemi

Ternyata guru pendahuluku adalah pemberi mahakarya yang hebat. Dan pelayanannya sangat tajam dan bermakna. Dan sekarang masih kurasakan mahakarya guru-guru terdahulu. Tak dapat kutandingi mereka. Tak dapat juga kubayar ilmu dan didikan mereka, sejak 6 tahun di SD, 3 tahun di SMP, 3 tahun SMA, dan S1. Sampai saat ini, aku belum mampu membayar semua ilmunya, dan cinta kasih para guru terdahuluku. Sekarang, kulanjutkan tongkat estafetnya untuk mendidik generasi milenial di era revolusi industri 4,0.

Selamat hari guru kepada guruku terdahulu dan guruku sekarang. Terima kasih guruku di SD N. 164520 Tebing Tinggi, guruku SMP N. 4 Tebing Tinggi, guruku SMA N. 3 Tebing Tinggi, dan dosenku di Unimed serta guru-guru di daerah terpencil, terluar, terdalam, dan termaju.

Foto merayakan Hari Guru sebelum pandemi

#KeJaRu #KenapaJadiGuru #HariGuruNasional

@Guraru @guraruid

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar