2

Melanggar Aturan Perusahaan demi Mendamping Siswa dalam Perlombaan (0)

AfanZulkarnain February 12, 2021

Tulisan ke-64 Tahun 2021

Penulis : Moch Afan Zulkarnain

Peristiwa ini terjadi tahun 2019. Saat itu saya masih berprofesi sebagai guru sekaligus penyiar di salah satu radio swasta. Pagi mengajar, sore hingga malam cuap-cuap di udara.

Ada satu aturan di perusahaan tempat saya bekerja. Aturan yang sangat prinsip. Harus ditaati. Tidak boleh dilanggar. Aturan tersebut adalah : dilarang keras berkunjung ke radio lain. Wajar perusahaan memberlakukan aturan tersebut, karena saat itu, persaingan antar radio di kota saya sangat ketat.

Suatu ketika, saya diminta oleh guru Bahasa Indonesia untuk mengajari beberapa siswa yang didelegasikan untuk mengikuti lomba baca berita yang diadakan oleh radio yang menjadi rival perusahaan saya. Beliau memilih saya sebagai pelatih karena background saya sebagai penyiar. Saya pun pernah menjuarai beberapa lomba baca berita waktu berstatus pelajar SMA dulu.

Saya pun menerima tawaran tersebut. Namun saya mengatakan sejujur-jujurnya, bahwa saya hanya bisa melatih. Saya tidak bisa mendampingi saat lomba berlangsung karena ada aturan yang mengikat saya. Guru Bahasa Indonesia itu menyetujuinya.

Akhirnya, saya pun melatih beberapa siswa. Setiap pulang sekolah kami berlatih banyak hal. Dari latihan vokal, latihan nafas, artikulasi, intonasi, hingga pemenggalan kata. Namun yang lebih penting adalah saya meminta mereka benar-benar memahami maksud dari berita yang dibawakan.

Setiap siswa memilih beberapa berita yang ingin dibawakan. Berita-berita tersebut telah disiapkan oleh panitia. Ada berita pendidikan, politik, kesehatan hingga kriminal. Tak lupa saya juga menjelaskan bahwa pembawaan dalam mebaca barita politik akan berbeda dengan membaca berita kesehatan yang ringan.

Kami melalui beberapa tahap latihan. Pertama, saya meminta mereka menjelaskan maksud dari berita tersebut dengan bahasa mereka sendiri. Alhamdulillah kesemua siswa berhasil melalui latihan ini. Semuanya dapat memahami isi berita yang akan dibacakan.

Kedua, saya meminta mereka membaca berita dengan microphone. Ini penting untuk mengedukasi mereka tentang jarak yang pas antara mulut dengan microphone agar suara yang dihasilkan nyaman di telinga pendengar. Setiap siswa memiliki timbre suara berbeda. Setiap timbre memiliki perlakuan berbeda dalam penggunaan microphone. Suara siswa yang nyaring harus berjarak lebih jauh dari microphone dibanding dengan suara siswa yang cenderung lembut.

Saya juga mengajarkan cara duduk yang baik saat membaca berita. Badan harus tegap, tidak menunduk, agar produksi suara dapat maksimal. Posisi kaki juga harus sopan.

Ketiga, latihan mental. Saya meminta mereka membaca berita di depan semua siswa. Pernah saat ada kegiatan pramuka di sekolah, saya meminta waktu untuk menyilahkan peserta lomba baca berita untuk tampil di depan semua siswa. Tujuan saya adalah mengasah mental agar mereka tidak grogi saat tampil di depan banyak orang. Terlebih pada hari pelaksanaan lomba, mereka akan membaca berita di hadapan banyak orang yang tidak mereka kenal. Latihan ini pun juga untuk mengetes apakah mereka dapat menyampaikan isi berita dengan benar. Caranya adalah setelah mereka membaca berita, saya menanyakan kepada salah satu siswa peserta pramuka tentang isi berita tersebut. Apabila dia dapat menerangkan isi berita dengan benar, maka si pembaca sukses menyampaikan isi berita.

O,ya setiap malam saya juga meminta semua delegasi sekolah untuk merekam suara mereka saat membaca berita, lalu dikirim lewat whatsapp. Dari situ saya bisa mengkoreksi intonasi dan artikulasi mereka.

Hingga tibalah waktu lomba. Saya hanya bisa melihat dari streaming social media radio penyelenggara. Namun ternyata, ada kendala pada jaringan yang membuat saya tak bisa menonton dengan nyaman. Muncul rasa ingin tahu tentang penampilan mereka. Ada sedikit khawatir mereka grogi. Beberapa kali saya menanyakan kondisi mereka kepada guru Bahasa Indonesia yang mendampingi.

Rasa penasaran, khawatir, cemas, ingin tahu bercampur jadi satu.

Terlintas ide untuk melanggar peraturan perusahaan. Saya pun menuju lokasi acara. Sebuah radio swasta di pusat kota. Suasana sangat ramai. Alhamdulillah, saya bisa melihat langsung penampilan siswa-siswa saya. Setidaknya kehadiran saya menjadi penyemangat mereka.

“Puji Tuhan, Pak Afan datang. Kalau ada Pak Afan kan saya jadi gak grogi.” kata salah satu siswa.

Saya hanya tersenyum , namun dalam hati saya takut sekali. Takutan dan cemas jikalau nanti saya ketahuan berkunjung ke radio rival.

Ah sudahlah. Cuek. Bila ketahuan pun saya akan terima segala macam konsekuensinya. Ini demi mendampingi siswa lomba baca berita.

Alhamdulillah dari sekian banyak delegasi sekolah, hanay satu siswa yang masuk final. Namanya Alex. Anak berdarah Belgia ini sangat pintar dalam memilih berita. Ia memilih berita yang memuat lebih banyak kata-kata asing. Kemampuan berbahasa Inggrisnya membuat juri terpesona. Secara bule, pasti pronounce-nya bagus, dong.

Di final, saingan Alex sangat berat. Mereka kebanyakan telah berpengalaman mengikuti lomba serupa. Alex sempat berkecil hati, tapi saya terus memotivasinya untuk tetap bersemangat. Alhamdulillah, ia meraih juara harapan 2. Tak apa, toh ini pencapaian luar biasa bagi seorang anak yang tak pernah mengikuti lomba baca berita.

Beruntung, kedatangan saya di radio rival tak menjadi masalah berarti. Saya tidak ketahuan melanggar aturan hehehe.

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar