5

MELAJU MELAWAN GALAU (+5)

Wendie Razif Soetikno May 17, 2015

Perkembangan dunia ICT yang begitu pesat yang ditunjukkan dengan perkembangan komputasi awan (cloud computing) dan aplikasi sistim operasi Android telah membuat banyak guru, termasuk saya, menjadi gaptek (gagap teknologi). Maka tidak heran ketika Mendikbud Anies Baswedan akan menerapkan Ujian Nasional Online, banyak sekolah yang tidak siap dan banyak guru bingung dengan kemajuan digitalisasi di bidang pengajaran dan pembelajaran ini. Padahal computer-based TOEFL test sudah lama diterapkan dalam pengukuran kemampuan berbahasa Inggris para murid kita yang akan melanjutkan studi ke luar negeri, tapi kita abai dan tak hirau karena tidak menyangkut kepentingan sekolah dan guru. Begitu juga ketika e-Learning mulai disosialisasikan satu dasa warsa yang lalu, kita tidak menanggapinya secara serius, apalagi menerapkannya, jauh panggang dari api. Terbukti dari tidak terakomodasinya digital library dan teknologi web didalam sarpras (sarana dan prasarana) sekolah atau persiapan mengajar kita.

Maka saya tercenung ketika mendengar paparan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dalam acara d’Preneur dengan BRI bulan Maret lalu di Lemhanas : “Bangsa kita sudah menjadi konsumen terbesar di dunia, makin lama makin konsumtif. Kita membelanjakan Rp 18 trilyun untuk gawai (gadget). Banyak orang punya 2 sampai 3 HP, masih beli iPad dan iPhone. Bagaimana rupiah mau menguat kalau kita hanya hobby berbelanja? Padahal teknologinya tidak kita kuasai, sehingga kalau gawai kita rusak, ya langsung beli yang baru”
Paparan Menteri Susi ini langsung menohok rasa nasionalisme kita, bukankah ketergantungan pada teknologi asing ini merupakan bentuk penjajahan yang jauh lebih dahsyat dari ketergantungan ekonomi kita pada negara-negara donor?
Sebagai guru, saya merasa bahwa selama ini saya tidak melakukan apa-apa untuk generasi muda yang lebih baik dan tidak menyumbang apa-apa untuk masa depan republik ini. Saya bahkan tidak peduli bahwa negeri ini telah lama tidak lagi menjadi negara produsen, semua kita impor : beras Vietnam, jambu Bangkok, batik Cina, lagu-lagu K-pop, film Hollywood, bahkan aneka permainan impor di Dunia Fantasi Ancol, Timezone, Kidzania dan Trans Studio telah lama menggusur aneka permainan tradisional kita yang kaya akan filosofi pendidikan dan etika kehidupan.

Inspirasi dari Guraru telah membangunkan saya dari tidur panjang, sadar bahwa harus ada yang kita lakukan menghadapi sikap konsumtif dan penurunan kualitas pendidikan kita, yang terlihat dari penurunan hasil evaluasi matematika dan sains dalam TIMMS (Trends in International Mathematics and Science Study), penurunan kemampuan bernalar siswa kita dalam PISA (Programme in International Students Assessment) dan penurunan kemampuan membaca siswa dalam PIRL (Progress in International Reading Literacy Study)
Saya teringat pada satu pepatah Latin : Tempora mutantur, et nos mutamur in illis (waktu terus berubah dan kita berubah didalamnya). Jika tidak cekatan, kesempatan akan hilang di tengah dunia yang lari tunggang langgang. (Kaum Cerdik Pandai, Antara Ilmu dan “Ngelmu”, Kompas, Senin 14 Juli 2008 hal.1)
Adagium di atas tepat diterapkan dalam situasi nasional kita dewasa ini – untuk mengatasi krisis pendidikan dan keterdidikan ini, kita harus berubah dan bergerak cepat – Change Your DNA, kata Rhenald Khasali, pakar manajemen UI. Jadi yang diperlukan saat ini adalah berubah dengan cekatan dengan memanfaatkan internet yang sudah menghabiskan dana trilyunan rupiah seperti paparan Menteri Susi Pudjiastuti itu, sehingga belanja gawai itu dapat dipetik manfaatnya, bukan sekedar menjadi alat bermedia sosial (Facebook, Twitter, Instagram, dll), tetapi bisa juga berguna bagi peningkatan kualitas SDM kita.
Oleh sebab itu, harus ada yang saya lakukan untuk mendidik generasi yang kreatif dan peduli akan masa depan negeri ini. Tapi bagaimana? Satu-satunya yang bisa saya lakukan sebagai seorang guru yang terbatas ruang geraknya adalah terus belajar, terinspirasi dari kesuksesan miliader Ray Dalio : “Orang-orang beranggapan kesuksesan saya karena apa yang saya ketahui. Bukan, Ini lebih pada bagaimana saya berhasil mempelajari apa yang tak saya ketahui.”

Maka saya mulai membandingkan mengapa gaji para guru asing di sekolah-sekolah internasional di Jakarta jauh lebih tinggi dari gaji para guru kita di sekolah-sekolah favorit. Ternyata ada tiga hal edukatif penting yang membuat perbedaan gaji itu mencolok, yaitu para guru kita tidak lagi belajar tentang Filsafat Pendidikan, Ilmu Kurikulum (Curriculum Design) dan Manajemen Kelas berbasis IT. Sejak masa Orde Baru dulu, para guru terbiasa menerima dan menjalankan kurikulum yang di drop oleh Pemerintah, ganti menteri ganti kurikulum, tanpa mempertanyakan kesahihan (validitas) dari kurikulum baru itu, para guru hanya tinggal melaksanakan saja apa yang sudah digariskan oleh pemerintah. Akibatnya kemampuan analisis para guru sampai ke tingkat yang lebih tinggi (Higher Order of Thinking) menjadi tidak terlatih.

Oleh sebab itu saya mencoba menimba pengetahuan dari para guru asing itu dan mulai belajar menggabungkan ketiga hal itu (Filsafat Pendidikan, Ilmu Kurikulum (Curriculum Design) dan Manajemen Kelas berbasis IT) dalam satu paket perancangan Disain Kurikulum Digital, yaitu cara mendisain kurikulum berbasis local wisdom dan keunggulan lokal (yang dapat bersaing dengan kurikulum internasional) sehingga memenuhi standar ISO 9000:2001.
Mengapa? Karena kita hanya sibuk dengan content pembelajaran (sibuk dengan penyiapan materi presentasi di kelas dan buku-buku ajar, serta edutainmnet), padahal content pembelajaran hanya salah satu dari isi kurikulum. Masih ada metode, strategi dan model pembelajaran untuk implementasi pendidikan holistik. Oleh sebab itu, agar tidak terjebak pada pembelajaran kognitif dan metode itu-itu saja, dan agar guru dapat menerapkan PAIKEM GEMBROT (Pendidikan Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan, serta Gembira dan Berbobot), maka filsafat pendidikan yg sudah lama tidak diajarkan di FKIP perlu digali lagi : Untuk apa saya mengajarkan A dan bukannya mengajarkan B? Kenapa topik A harus diajarkan 4 jam dan bukannya 3 jam? dll

Berlandaskan filsafat pendidikan, maka pendidikan holistik dan kontekstual mempunyai pijakan yg sahih. Hal ini dapat dicapai melalui DISAIN KURIKULUM DIGITAL : program Excell yg terdiri dari 23 sheet, yg mengintegrasikan Kurikulum KTSP Bimtek, Kurikulum PPR (Paradigma Pendidikan Reflektif), Kurikulum Entrepreneurship, Kurikulum PKB (Pendidikan Karaktger Bangsa), Kurikulum PLH (Pendidikan Lingkungan Hidup), Kurikulum berbasis Multiple Intelligence, dan Kurikulum Sekolah Alam.
Dengan Disain Kurikulum Digital, guru akan mampu membuat diktat dan modul berbasis keunggulan lokal (bukan sekedar mencipta kelas kreatif) sehingga diharapkan mampu mengasah penalaran halus (fine tuning) guru dan siswa. Oleh karenanya mereka siap menerapkan SKS (Sistim Kredit Semester) menyongsong globalisasi dan liberalisasi pendidikan lewat MEA 2015 dan APEC 2020
Disain Kurikulum Digital merupakan program excell yang memungkinkan pendidikan karakter, pengembangan minat dan bakat dan penilaian kelakuan serta kerajinan siswa yang selama ini sifatnya kualitatif sehingga cenderung subyektif DAPAT DIUBAH menjadi kuantitatif dan lebih obyektif.
Aspek Disain Kurikulum Digital yang tidak mudah ditiru pihak lain adalah penerapannya membutuhkan pendampingan lintas ilmu (inter-disipliner) padahal umumnya pendidikan di Indonesia bersifat spesialis (hanya menguasai kimia, biologi, akuntansi, dll)
Aspek lain adalah : sheet yang pertama merupakan prerequisite untuk sheet yang kedua, dst-nya. Kalau sheet pertama salah, maka pekerjaan yang tak akan terselesaikan tanpa pendampingan lintas ilmu (sheet kedua tak mungkin dibuat)

Sudah tentu, sosialisasi dari Disain Kurikulum Digital ini pada awal mulanya ditentang oleh banyak Pengawas Sekolah dan Pengawas Mata Pelajaran di berbagai daerah karena dianggap menyalahi kebijakan kurikulum tunggal dan seragam yang sudah digariskan pemerintah. Namun melalui pendekatan pribadi dan pendekatan legal formal melalui Pasal 38 ayat 1 dan ayat 2 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) dimana dinyatakan bahwa kewajiban pemerintah hanyalah menyusun kerangka dasar dan struktur kurikulum, oleh sebab itu sekolah bisa mengembangkannya sesuai relevansinya, sehingga penyusunan Silabus dan RPP tunggal serta penggunaan buku-buku yang seragam itu sebenarnya menyalahi UU, maka akhirnya Dinas Pendidikan di berbagai daerah mengijinkan diselenggarakannya program pelatihan guru dalam Disain Kurikulum Digital dibawah pengawasan Kepala Seksi Kurikulum Dinas Pendidikan setempat. Sampai akhirnya muncul ketentuan Pasal 1 dan Pasal 2 ayat 3 Permendikbud No. 160 Tahun 2014 yang menghentikan pelaksanaan kurikulum tunggal dan seragam melalui implementasi Kurikulum 2013, sehingga kran kebebasan dan kreativitas guru kembali dibuka dan semangat otonomi pendidikan kembali ditegakkan. Maka pelatihan guru agar dapat menDisain Kurikulum secara Digital dapat berlangsung dengan lancar tanpa hambatan.

Pengalaman yang sungguh menyenangkan sebagai guru yang biasa-biasa saja adalah sosialisasi dan pelatihan guru dalam Disain Kurikulum Digital, serta pencetakan buku panduan cara menDisain Kurikulum secara Digital ini berhasil mendapat bantuan hibah (grant) program CSR PT Bank Mandiri Tbk. di 10 provinsi sehingga menyadarkan banyak pihak akan perlunya perbaikan kurikulum untuk menciptakan generasi Z (generasi yang memiliki kemampuan tinggi dalam mengakses dan mengakomodasi informasi sehingga mendapatkan kesempatan lebih banyak dan terbuka untuk mengembangkan dirinya, yang melahirkan anak-anak yang cerdas dan bermental juara), bukan sekedar puas dengan melahirkan generasi Y (generasi milenium yang sangat menguasai teknologi baru dan dipenuhi dengan ide-ide brilian dengan mengusung manajemen multi tasking). Sosialisasi Disain Kurikulum Digital ini juga dibantu oleh para insan pers yang tertarik pada ide dan terobosan baru dalam dunia pendidikan, seperti Flores Pos, Kalteng Pos, Kawanua Post dan Tribun Manado serta Majalah Educare, dll sehingga makin banyak sekolah yang tertarik untuk menerapkannya.

Pengalaman belajar-mengajar di luar kelas yang paling mengesankan bagi saya, yang bukan termasuk guru inti (guru yang ditunjuk Kemdikbud untuk menatar guru lain dalam Kurikulum 2013) adalah dipercaya oleh banyak Yayasan dan pimpinan sekolah untuk melatih para guru dalam cara menDisain Kurikulum secara Digital, padahal pada saat yang bersamaan, Kemdikbud sedang gencar-gencarnya mengadakan sosialisasi pelatihan Kurikulum 2013. Dengan susah payah, saya menjelaskan kepada para Kepala Dinas Pendidikan di berbagai daerah dan para Pengawas bahwa penyusunan kurikulum secara mandiri oleh para guru adalah amanat Pasal 39 ayat 2 dan Pasal 36 ayat 2 UU No.20 Tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) dan Pasal 20 butir (a) UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UU Guru dan Dosen) dimana guru profesional wajib menyusun sendiri perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, mengevaluasi dan mendampingi siswa dalam proses pembelajaran. Hal ini juga sejalan dengan ketentuan dalam Pasal 77 M ayat 1 dan ayat 3 di PP No. 32 Tahun 2013 yang menyatakan bahwa para guru wajib menyusun kurikulumnya sendiri.(bukan menunggu dropping silabus dan buku dari pemerintah). Dasar hukum dari Kurikulum 2013 itu (PP No.32 Tahun 2013) menyatakan bahwa tidak ada kurikulum tunggal dan seragam untuk seluruh Indonesia..
Berbekal pendekatan legal formal ini, akhirnya para Kepala Dinas di berbagai daerah bersedia mengijinkan adanya pelatihan guru diluar adanya pelatihan Kurikulum 2013 yang sedang berjalan, bahkan mereka bersedia menanda tangani sertifikat pelatihan Disain Kurikulum Digital sehingga pelatihan Disain Kurikulum Digital ini mempunyai civil effect bagi para guru dan diakui dalam upaya peningkatan profesionalitas guru di berbagai daerah pada program sertifikasi guru.

Pengalaman yang menggembirakan sekaligus membanggakan bagi saya adalah adopsi Disain Kurikulum Digital ini oleh beberapa Dinas Pendidikan dan berbagai sekolah di 10 provinsi, sehingga para guru dapat siap menghadapi globalisasi dan liberalisasi pendidikan yang sudah dicanangkan dalam Perpres No. 77 Tahun 2007 (dimana sektor pendidikan termasuk sektor jasa yang terbuka bagi modal asing) dan Pasal 5 Permendikbud No.158 Tahun 2014 (sekolah yang terakreditasi A, dapat menerapkan SKS (Sistim Kredit Semester), serta MEA 2015 (Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015) dan APEC 2020 (yang membebaskan lalu lintas modal, barang dan jasa pendidikan dalam regio ASEAN di tahun 2015 dan Asia Pasifik di Tahun 2020).

“Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guraru untuk Bulan Pendidikan berhadiah Acer One 10” (http://guraru.org/guru-berbagi/lomba-menulis-bulan-pendidikan-guraru-berhadiah-acer-one-10/)
Pelatihan data entry portofolio

Comments (5)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar