1

MATEMATIKA DALAM PANDEMI (0)

Iswatun Hasanah October 18, 2020

Pembelajaran Daring

Virus Corona tengah mewabah diberbagai belahan dunia termasuk di Indonesia. Jumlah pasiennyapun semakin bertambah, karena penyebarannya tergolong cepat dan sulit dideteksi. Penyakit karena infeksi virus ini disebut COVID-19. Akibat covid19, Indonesia menerapkan social distancing di segala aspek kehidupan termasuk di dunia pendidikan. Sebagai dampak diterapkannya social distancing, diimplementasikanlah pembelajaran daring untuk menjaga kualitas pendidikan.

Pembelajaran daring merupakan pembelajaran yang dilakukan menggunakan internet.  Bentuk pembelajaran seperti ini dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun tanpa terikat waktu dan tanpa harus bertatap muka. Di era perkembangan teknologi,, pembelajaran daring semakin canggih dengan berbagai apikasi dan fitur yang makin memudahkan pengguna. Pegalaman penulis selama pembelajaran daring adalah menggunakan aplikasi Google Classroom.

Implementasi pembelajaran daring melalui aplikasi Google Classroom yang sudah berjalan beberapa bulan ini mengalami banyak kendala. Salah satunya adalah belajar melalui Google Classroom merupakan hal yang baru bagi sebagian besar siswa di Indonesia. Hal ini menjadikan siswa sulit beradaptasi yang berefek pada minimnya aktifitas siswa selama pembelajaran di Google Classroom. Aktifitas yang dimaksud seperti keikutsertaan diskusi saat pembelajaran, yakni minimnya komentar di setiap postingan baik pada kolom ‘forum’ ataupun pada kolom ‘Tugas Kelas”.

Minimnya komentar siswa bisa dijadikan indicator awal akan ketidaktertarikannya siswa pada konten/ materi yang diunggah guru. Padahal jumlah siswa yang mengabsen online rata-rata 80-90 % per pertemuan. Di saat yang sama, siswa yang sedang hadir  di kelas online tersebut tidak berkomentar pada materi yang diposting guru. Hal ini menjadi kendala yang harus segera dicari solusinya. Guru harus berpikir keras bagaimana agar siswa merasa tertarik belajar di Google Classroom sehingga konsep yang disampaikan guru bisa dipahami oleh siswa, untuk seterusnya menggerakkan mereka aktif berkomentar dan berdiskusi.

Geometri Dalam Google Classroom

Berdasarkan kurikulum 2006, standar kompetensi untuk satuan pendidikan SMP pada mata pelajaran matematika, yang mendapatkan porsi paling besar adalah geometri (41%) dibandingkan dengan materi lain seperti  aljabar (37%), bilangan (15%), serta statistika dan peluang (7%). Berdasarkan data diatas geometri merupakan kajian lebih besar untuk siswa dibandingkan dengan cabang matematika yang lain (Badan Standar Nasional Pendidikan, 2006).

Geometri merupakan salah satu materi pelajaran yang dianggap sulit dan membosankan bagi siswa karena siswa harus membayangkan bentuk-bentuk yang abstrak. Menurut Abdusakkir (2010 : 2) menyatakan “ Dari sudut pandang psikologi, geometri merupakan penyajian abstraksi dari pengalaman visual dan spasial, sedangkan dari sudut pandang matematika geometri menyediakan pendekatan-pendekatan untuk pemecahan masalah”.

 Menyelesakan soal geometri ruang menjadi masalah tersendiri bagi siswa. Dari hasil wawancara dengan beberapa guru matematika di SMPN 1 Taliwang berpendapat bahwa siswa mampu menentukan luas permukaan  atau volume bangun ruang jika soal yang diberikan memuat bangun ruang utuh dengan ukuran alas dan tinggi yang sudah diketahui. Hal ini terjadi karena siswa hanya menghapal rumus luas permukaan dan volume saja tanpa memahami konsepnya. Memahamkan konsep geometri ke siswa menjadi semakin menantang karena harus dilakukan secara daring (non tatap muka). Apalagi ditambah kondisi dengan minimnya keaktifan siswa di Google Classroom. Guru berpikir keras bagaimana agar pembelajaran geometri ini menjadi menarik bagi siswa terlebih dalam pembelajaran online.

Menyadari permasalahan tersebut, perlu adanya strategi yang tepat dalam pembelajaran Matematika, terutama pada pembelajaran secara daring dalam masa pandemi covid 19 ini Salah satu strategi yang guru lakukan adalah dengan membuat video menarik. Contoh video yang dibuat penulis bisa diakses melalui link https://drive.google.com/drive/folders/1Q5krtgFdY-t43_wupsg5ugT9cfxJwTbw?usp=sharing

Secara garis besar, video berisikan konsep permukaan dan volume bangun ruang prisma. Penulis menyiapkan delapan lembar kartu bridge. Penulis menjelaskan bahwa dari delapan lembar kartu tersebut dirakitlah menjadi dua model prisma berbeda bentuk seperti gambar berikut (Gambar 1. Dua model bangun ruang prisma).

Penulis menanyakan prisma manakah yang memiliki volume lebih besar. Di sini terlihat ketertarikan siswa meningkat dengan sangat signifikan, yakni meningkatnya jumlah siswa yang memberikan pendapatnya pada materi tanpa video dan materi dengan video. Seperti terlihat pada capture laman Google Classroom berikut (Gambar 2. Tangkapan layar laman google classroom):

Terlihat pada video ini, jumlah siswa yang berkomentar hampir 90 % dari jumlah seluruh siswa di kelas. Berbagai versi jawaban siswa kemukakan. Siswa dengan kemampuan tinggi langsung menjawab dengan benar. Siswa dengan kemampuan sedang menjawab akan bisa mencari volume terbesar jika diberikan ukuran kartu bridgenya. Siswa kemampuan rendah langsung menjawab volume prisma bentuk dua lebih besar dari prisma bentuk satu. Alasan yang dikemukakan karena prisma bentuk dua lebih tinggi dibanding prisma bentuk satu. Dan secara langsung ketiga karakter kemampuan siswa ini berdiskusi dengan sukarela tanpa diminta. Melalui diskusi tersebut terjadi pentransferan informasi matematika dari siswa satu ke siswa lainnya.

Bertitik tolak dari uraian di atas, dalam upaya meningkatkan pemahaman siswa akan konsep geometri ruang perlu diambil langkah-langkah untuk perbaikan kualitas pembelajaran matematika. Bagaimana memberikan pembelajaran yang kaya akan aktivitas bermakna dan penuh kreativitas sehingga siswa lebih memahami apa yang mereka pelajari untuk menjadi aktif dan terampil dalam pemecahan masalah

Kesimpulan

Pandemi Covid-19 memaksa semua aktivitas dilakukan di rumah, termasuk proses belajar mengajar. Bukan hal yang mudah untuk beradaptasi, hampir setiap orang memulainya dengan kendala.

Begitu pula guru yang awalnya gagap teknologi dipaksa cepat menyesuaikan diri dengan beragam aplikasi, membuat video-video pembelajaran dan kegiatan lain.  Adaptasi ini harus dilakukan untuk tetap memberikan hak pendidikan karena guru jelas tidak bisa digantikan oleh mesin apapun, perannya akan selalu hadir dan dibutuhkan. Dengan demikian, proses belajar dari rumah tetap membutuhkan keaktifan guru agar masa belajar menjadi efektif, guru harus kreatif dan berinovasi.

Cukuplah pandemic ini menjadikan Indonesia darurat kesehatan, jangan sampai menjadikan Indonesia darurat matematika!

Daftar Pustaka

Abdussakir. 2010. Pembelajaran Geometri Sesuai Teori Van Hiele. El-Hikmah: Jurnal  Kependidikan dan Keagamaan, Vol VII Nomor 2, Januari 2010.

BSNP. 2006. Permendiknas RI No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta

https://drive.google.com/drive/folders/1Q5krtgFdY-t43_wupsg5ugT9cfxJwTbw?usp=sharing

#WritingCompetition

#NewNormalTeachingExperience

Comments (1)

  1. Selamat Malam 🙂
    terima kasih banyak atas partisipasi pada Guraru Writing Competition 2020.

    Semoga #sharing pengalaman dan ilmu diatas dapat bermanfaat bagi rekan guru lainnya dan semoga beruntung untuk memenangkan salah satu hadiah dari Guraru!

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar