0

MASIH TENTANG BELAJAR (0)

Dyna Rukmi Harjanti Soeharto February 22, 2021

Gaya orang tua kita dulu dalam mendampingi kita belajar, akan mempengaruhi gaya kita dalam mendampingi belajar anak-anak kita. Seperti dalam tulisan saya terdahulu, saya tidak mau mengadopsi gaya pendampingan bapak saya, karena saya merasa tersiksa.

Tetapi tampaknya hal ini tidak berlaku bagi kakak saya. Agaknya kakak saya, seorang laki-laki, mengadopsi penuh gaya pendampingan bapak terhadap anaknya. Apakah ini karena pengaruh gender? Saya tidak tahu. Yang jelas, saat saya melihat kakak mendampingi anaknya belajar, bayangan bapak dulu begitu saja melintas di benak. Persis.

Mungkin kakak menganggap bapak berhasil membuat prestasinya melejit. Bahkan berkat bimbingan bapak, dia berhasil menjadi juara cerdas cermat tingkat kabupaten, yang akhirnya melenggang ke tingkat karesidenan. Ya, bapak membuat kakak saya optimal dalam belajar dan meraih prestasi, dan itulah yang diadopsinya untuk diterapkan kepada anaknya yang hanya satu. Saat anaknya merosot prestasinya dia akan menyampaikan kekecewaannya dan mengatakan bahwa seharusnya bisa lebih baik dari itu.

Yang tidak diketahui oleh kakak saya adalah bahwa anaknya tidak nyaman dengan perlakuannya yang begitu. Saya tahu keponakan saya ini cerdas, tetapi sepertinya potensinya tidak bisa berkembang sesuai harapan, dan akhirnya dia menjadi kurang percaya diri. Kenapa? Karena setiap kali nilai akademiknya tidak sesuai harapan, kakak saya akan membandingkan keponakan saya ini dengan dirinya dan istrinya di masa lalu. Ya, keduanya punya prestasi akademik yang bagus di sekolah.

Saya pernah menguping obrolan keponakan saya yang saat itu kelas 10 dengan anak saya yang saat itu kelas 3,

“Aku itu gak pinter, Ka. Gak kayak papa, mama, dan ibumu. Keluarga kita itu kata papa pinter semua, selalu ranking di sekolah. Kamu juga harus pinter, jangan kayak aku. Aku gak suka belajar kayak papa dan ibumu.”

“Tapi kata ibuku dia gak suka belajar.”

“Tapi ibumu itu memang pinter kata papa.”

“Terus Mbak Lyris sukanya apa?”

“Aku pengen belajar bikin film atau music saja. Aku gak suka pelajaran yang bikin pusing itu. Kamu jangan kayak aku ya.”

Anak saya yang mungkin waktu itu belum paham betul apa yang dibicarakan kakaknya hanya manggut-manggut saja.

Dari obrolan bocah itu saya bisa menangkap keresahan keponakan saya karena perlakuan orangtuanya. Dia merasa tertekan dengan gaya pendampingan yang dilakukan kakak saya yang akhirnya menimbulkan keyakinan bahwa dia tidak mampu..

Yang ingin saya sampaikan di sini adalah bahwa anak kita itu bukanlah kita. Dia sepenuhnya pribadi yang berbeda, yang menyimpan potensi berbeda. Janganlah kita paksa menjadi seperti kita dulu yang bertabur prestasi, atau malah sebagai ajang balas dendam, karena kita dulu tidak berprestasi kita paksa dia untuk berprestasi. Biarkan dia berkembang secara wajar dan bahagia sesuai potensinya. Bahagia itulah kuncinya. Jika dia berkembang dengan bahagia, maka tidak akan sulit mengarahkannya di masa depan. Tetapi jika dia merasa terpaksa dan tertekan, maka potensinya tidak akan tergali dengan sempurna.

Semoga dengan semakin banyaknya ilmu-ilmu parenting tersebar di media social, kita juga bisa menjadi orang tua yang semakin bijak dalam mendampingi anak kita belajar.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar