0

Mari Latihan Vokal (part2) (0)

AfanZulkarnain February 28, 2021

Apabila pada artikel sebelumnya, saya membahas tentang artikulasi dan intonasi, di artikel ini saya akan membahas hal-hal yang harus diperhatikan saat latihan vokal.

Pertama, kita harus menggunakan suara diafragma alias perut. Berbeda dengan suara tenggorokan yang cenderung mengeluarkan suara cempreng dan tipis, suara diafragma ini dapat membuat kita memproduksi suara yang bertenaga, powerfull, tebal, lebih bulat, jelas, keras tanpa harus berteriak. Suara diafragma juga memberi kesan kewibawaan dan tak mudah membuat suara habis atau serak jika difotsir.

Berikut ini adalah cara untuk melatih suara perut. Lakukan kegiatan ini dalam posisi tubuh yang tegap dan rileks.

  • Tariklah nafas, tahan sembari mengembungkan perut. Kemudian keluarkan perlahan-lahan lewat mulut. Lakukan berulang-ulang hingga tenang.
  • Tariklah nafas, keluarkan lewat mulut sambil menggumam “mmm…mmm…”. Metode ini disebut humming. Lakukan sampai bibir bergetar dan sampai membuat bibir terasa gatal.
  • Sama dengan latihan kedua, hanya keluarkan dengan suara mendesis,”sssshhh…….”. Lakukan kegiatan ini dalam satu hembusan napas.
  • Hirup udara banyak banyak, kemudian keluarkan vokal “aaaaa…….” sampai batas nafas terakhir yang dihembuskan. Ingat lakukan dengan nada tetap.
  • Sama dengan latihan sebelumnya, hanya tinggi rendahnya nada saja yang diubah-ubah . Lakukan ini dalam satu tarikan nafas.
  • Latihan tembak suara, dengan cara keluarkan vokal “a…..a……” secara terputus-putus hingga nafas yang terakhir.
  • Keluarkan suara vokal “a i u e o”, “ai ao au ae ”, “oa oi oe ou”, “iao iau iae aie aio aiu oui oua uei uia ……” dan sebagainya dalam satu hembusan napas.

Kedua, hilangkan aksen kedaerahan alias medok. Hal ini menjadi sebuah kewajiban untuk kita yang ingin tampil maksimal di atas panggung. Bila anda orang Bali upayakan hindari aksen Bali. Jikalau anda orang Jawa, upayakan hilangkan aksen Jawa. Atau lain sebagainya. Alasan kita harus hilangkan aksen kedaerahan adalah karena pendengar kita berasal dari khalayak luas dan berbagai suku. Tentunya penyampaian menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta aksen normal sangat penting untuk diperhatikan. Terlebih jikalau ada istilah-istilah asing yang harus kita ucapkan. Akan terasa lucu jika kita mengucapkannya dengan aksen medok.

Beberapa daerah memiliki ciri khas tersendiri dalam mengucapkan pesan. Orang Bali misalnya, identik dengan ciri khas pengucapan huruf “T” . Orang Sunda cenderung kesulitan dalam pengucapan huruf ‘f’ yang melebur menjadi huruf ‘p’.

Saya pernah kesulitan dalam menghilangkan aksen kedaerahan. Saya suku Using. Suku asli Banyuwangi. Huruf u pada akhir suatu kata dalam bahasa using akan dibaca au. Misalnya “banyu” yang artinya air akan dibaca “banyau.” Huruf i pada akhir kata akan dibaca ai. Misal “kelendi” yang artinya bagaimana, akan dibaca “kelendai.”

Alhamdulillah, setelah banyak berlatih, sedikit demi sedikit saat siaran , saya dapat hilangkan aksen tersebut. Latihannya adalah dengan sering mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Indonesi dengan benar. Namun tetap, saat berkomunikasi dengan kerabat dan keluarga, aksen using tetap melekat.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi Bapak Ibu semua. Salam Literasi.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar