0

Makalah Penelitian: Penggunaan Media “Gigi Cantik” dalam Meningkatkan Kesadaran Menjaga Kesehatan Gigi pada Siswa Kelas I (Link Download di bawah post) (0)

Alfina Nurcahyani March 31, 2021

Penggunaan Media “Gigi Cantik” dalam
Meningkatkan Kesadaran Menjaga Kesehatan
Gigi pada Siswa Kelas I SDN Panjunan,
Duduksampeyan, Gresik.
Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh penggunaan media “Gigi Cantik” dalam
meningkatkan kesadaran menjaga kesehatan gigi pada siswa kelas I
SDN Panjunan, Duduksampeyan, Gresik.

Ketua Tim Peneliti
Nama Lengkap:Alfina Nurcahyani
NIM:15010644038
Jurusan:PGSD
Anggota Peneliti
Nama Lengkap:Sri Wahyuni
NIS:15010644081
Jurusan:PGSD

JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2017
i
Penggunaan Media “Gigi Cantik” dalam
Meningkatkan Kesadaran Menjaga Kesehatan
Gigi pada Siswa Kelas I SDN Panjunan,
Duduksampeyan, Gresik.
Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh penggunaan media “Gigi Cantik” dalam
meningkatkan kesadaran menjaga kesehatan gigi pada siswa kelas I
SDN Panjunan, Duduksampeyan, Gresik.

Ketua Tim Peneliti
Nama Lengkap:Alfina Nurcahyani
NIM:15010644038
Jurusan:PGSD
Anggota Peneliti
Nama Lengkap:Sri Wahyuni
NIS:15010644081
Jurusan:PGSD

JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2017
ii
PENGGUNAAN MEDIA “GIGI CANTIK” UNTUK MENINGKATKAN
KESADARAN MENJAGA KESEHATAN GIGI PADA SISWA KELAS I SDN
PANJUNAN, DUDUKSAMPEYAN, GRESIK
ABSTRAK
Penyakit gigi dan mulut dapat menyerang semua umur, mulai anak-anak
sampai orang dewasa. Penderita yang paling banyak adalah anak-anak karena
mereka sangat sulit untuk diberi pengarahan bagaimana cara merawat gigi yang
baik agar gigi tetap bersih dan sehat. Oleh karena itu, kami membuat alat peraga
edukasi kesehatan gigi untuk anak-anak yang kami beri nama “Gigi Cantik”.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan
media “Gigi Cantik” dalam meningkatkan kesadaran menjaga kesehatan gigi pada
siswa kelas I SDN Panjunan, Duduksampeyan, Gresik.
Untuk mencapai tujuan tersebut maka kami menggunakan beberapa
metode penelitian yaitu, metode literatur, metode eksperimen, metode penyebaran
angket, dan wawancara.
Manfaat penggunaan media “Gigi Cantik” dalam pembelajaran adalah
memberikan edukasi cara menjaga kesehatan gigi pada siswa kelas I SD dengan
cara yang menyenangkan, menciptakan media baru bagi guru dalam menjelaskan
materi kesehatan gigi di kelas, membantu peran orang tua dalam membiasakan
anak untuk menjaga kesehatan gigi di rumah. Penggunaan media ini sangat efektif
untuk meningkatkan kesadaran menjaga kesehatan gigi pada anak.
Kata Kunci: Kesehatan Gigi, Media Kesehatan Gigi, Edukasi Kesehatan Gigi
Anak
iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami haturkan atas kehadirat Allah Yang Maha Esa atas segala
rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penelitian yang
berjudul “Penggunaan Media Gigi Cantik dalam Meningkatkan Kesadaran
Menjaga Kesehatan Gigi pada Siswa Kelas I SDN Panjunan, Duduksampeyan,
Gresik” yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media tersebut.
Tidak lupa pula kami menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya
kepada:
1. Bapak Pujianto, M.Pd selaku Kepala SDN Panjunan, Duduksampeyan,
Gresik yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian di SDN
Panjunan.
2. Ibu Darminingsih, S.Pd selaku Wali kelas I SDN Panjunan, Duduksampeyan,
Gresik yang telah memberikan izin dan membantu pelaksanaan edukasi
kesehatan gigi di kelas.
3. Serta, teman-teman yang telah membantu dan mendukung kami selama
penelitian
Kami berharap penelitian ini dapat digunakan sebagai media pembelajaran
kesehatan gigi bagi guru di kelas dan dapat dijadikan referensi oleh penulis
lainnya dalam mengembangkan media pembelajaran yang lebih kreatif dan
inovatif.
Peneliti menyadari bahwa penelitian ini belum sempurna dan masih
banyak kekurangan, oleh karena itu kami berharap kritik dan saran yang
membangun guna kesempurnaan penelitian ini.
Kami berharap semoga penelitian ini bermanfaat bagi kami secara pribadi
dan bagi yang membutuhkannya.
Surabaya, 07 November 2017
Peneliti
iv
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL
HALAMAN JUDUL ……………………………………………………………………….. i
ABSTRAKSI………………………………………………………………………………….. ii
KATA PENGANTAR……………………………………………………………………… iii
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………………….. iv
DAFTAR TABEL …………………………………………………………………………… vi
BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………………………. 1
1.1 Latar Belakang Masalah……………………………………………………….. 1
1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………………….. 2
1.3 Tujuan Penelitian ………………………………………………………………… 2
1.4 Manfaat Penelitian ………………………………………………………………. 2
1.5 Batasan Masalah …………………………………………………………………. 2
1.6 Hipotesis……………………………………………………………………………. 3
BAB II KAJIAN PUSTAKA ……………………………………………………………. 4
2.1 Cara Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut ………………………………… 4
2.2 Penyakit Gigi dan Mulut pada Anak-anak ……………………………….. 5
2.3 Pentingnya Menjaga Kesehatan Gigi Sejak Dini……………………….. 8
2.4 Edukasi Kesehatan Gigi ……………………………………………………….. 8
2.5 Media Edukasi Kesehatan Gigi Anak-anak………………………………. 12
BAB III METODE PENELITIAN ……………………………………………………. 17
3.1 Jenis Penelitian …………………………………………………………………… 17
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian…………………………………………………. 17
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian……………………………………………… 17
3.4 Metode Pengumpulan Data …………………………………………………… 17
3.5 Teknik Analisis Data……………………………………………………………. 18
3.6 Desain Penelitian ………………………………………………………………… 18
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN……………………………………………… 20
4.1 Hasil …………………………………………………………………………………. 20
4.2 Pembahasan ……………………………………………………………………….. 20
v
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ………………………………………………. 22
5.1 Kesimpulan………………………………………………………………………… 22
5.2 Saran…………………………………………………………………………………. 22
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN 1 ANGKET
LAMPIRAN 2 BIODATA PENELITI
vi
DAFTAR TABEL
Tabel Hasil Angket Sebelum dan Sesudah Edukasi
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Gigi merupakan salah satu alat pencernaan mekanik yang terletak
di dalam rongga mulut. Peran gigi dalam sistem pencernaan manusia
sangatlah penting. Gigi melakukan fungsinya untuk mengunyah atau
memecah makanan menjadi bagian yang lebih kecil sehingga lebih mudah
dicerna lambung. Oleh karena itu, gigi merupakan salah satu bagian tubuh
yang sangat penting untuk dijaga kebersihan dan kesehatannya. Mengingat
letaknya, gigi yang bersih dan sehat mampu memberikan kepercayaan diri
kepada pemiliknya. Di kalangan masyarakat Indonesia sendiri, kesehatan
gigi menjadi hal yang kurang diperhatikan. Masyarakat baru sadar akan
pentingnya merawat kesehatan gigi setelah gigi terserang penyakit.
Padahal seperti yang kita ketahui, mencegah itu jauh lebih baik daripada
mengobati. Pencegahan penyakit gigi dan mulut dapat dilakukan dengan
cara menggosok gigi secara teratur minimal dua kali sehari. Selain itu,
pemeriksaan gigi secara rutin enam bulan sekali juga menjadi syarat wajib
agar gigi tetap terjaga kesehatannya.
Penyakit gigi dan mulut dapat menyerang semua umur, mulai
anak-anak sampai orang dewasa. Penderita yang paling banyak adalah
anak-anak karena mereka paling suka makan makanan manis atau
makanan yang memiliki kandungan gula sangat tinggi seperti coklat,
permen, lolypop, dan lain-lain. Namun, mereka seringkali malas untuk
membersihkan atau menyikat gigi. Selain itu, kebanyakan dari mereka
sangat anti dengan segala hal yang berhubungan dengan pemeriksaan gigi.
Akibatnya banyak anak-anak yang mempunyai masalah dengan gigi
seperti gigi berlubang (karies), perubahan warna gigi menjadi coklat,
karang gigi, pembengkakan gusi, bau mulut, dan penyakit gigi lainnya.
Meskipun anak-anak rentan terhadap berbagai masalah gigi, mereka juga
2
sangat sulit untuk diberi pengarahan bagaimana cara merawat gigi yang
baik agar gigi tetap bersih dan sehat. Hal tersebut dikarenakan sifat alami
anak-anak yang sulit untuk fokus terhadap hal-hal yang mereka anggap
kurang menarik dan membosankan. Anak-anak sangat menyukai hal-hal
yang lucu, menarik dan menyenangkan. Oleh karena itu, kami membuat
alat peraga edukasi kesehatan gigi untuk anak-anak yang kami beri nama
“Gigi Cantik” Alat peraga ini kami buat dengan tujuan menarik perhatian
anak-anak agar mereka dapat lebih fokus dalam menyerap materi
kesehatan gigi yang diberikan. Sehingga dapat meningkatkan kesadaran
untuk menjaga kesehatan gigi sejak dini.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana pengaruh penggunaan media “Gigi Cantik” dalam
meningkatkan kesadaran menjaga kesehatan gigi pada siswa kelas I SDN
Panjunan, Duduksampeyan, Gresik?
1.3 Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui pengaruh penggunaan media “Gigi Cantik” dalam
meningkatkan kesadaran menjaga kesehatan gigi pada siswa kelas I SDN
Panjunan, Duduksampeyan, Gresik.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Memberikan edukasi cara menjaga kesehatan gigi pada siswa kelas I
SD dengan cara yang menyenangkan.
2. Menciptakan media baru bagi guru dalam menjelaskan materi kesehatan
gigi di kelas.
3. Membantu peran orang tua dalam membiasakan anak untuk menjaga
kesehatan gigi di rumah.
1.5 Batasan Masalah
Agar penelitian ini dapat dilakukan lebih fokus dan mendalam maka
penulis memandang permasalahan penelitian yang diangkat perlu dibatasi
3
variabelnya. Oleh sebab itu, penulis membatasi permasalahan hanya
berkaitan dengan pengaruh penggunaan media Gigi Cantik dalam
meningkatkan kesadaran menjaga kesehatan gigi pada siswa kelas I SD.
1.6 Hipotesis
H0: Penggunaan media Gigi Cantik tidak berpengaruh dalam
meningkatkan kesadaran menjaga kesehatan gigi pada siswa kelas I
SDN Panjunan, Duduksampeyan, Gresik.
Ha: Penggunaan media Gigi Cantik berpengaruh dalam meningkatkan
kesadaran menjaga kesehatan gigi pada siswa kelas I SDN Panjunan,
Duduksampeyan, Gresik.
4
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Cara Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut
Sebagai bagian tubuh yang memiliki peranan penting, yaitu
sebagai alat komunikasi dan juga konsumsi baik makanan maupun
minuman, kebersihan mulut harus kita perhatikan.
Oral Hygiene (kebersihan mulut) adalah upaya melaksanakan
kebersihan rongga mulut, lidah dari semua kotoran/sisa makanan.
Kebersihan gigi dan mulut yang buruk tidak hanya menyebabkan bau
mulut, kerusakan gigi dan radang gusi, tetapi juga meningkatkan resiko
penyakit jantung dan masalah kesehatan lainnya.
Merawat gigi dan gusi perlu dilakukan sedini mungkin. Langkahlangkah yang dapat dilakukan dalam merawat kebersihan gigi dan mulut
adalah sebagai berikut:
 Sikatlah gigi dengan benar minimal 2 kali sehari; pagi sehabis
sarapan dan malam sebelum tidur. Pastikan sikat gigi Anda bersih
sebelum digunakan.
 Jangan tunggu sikat gigi Anda mekar. Ganti sikat gigi setiap 3-4
bulan sekali. Pilih sikat gigi berbulu lembut dengan kepala sikat
yang dapat menjangkau semua bagian gigi.
 Sebagai indera pengecap yang terbilang sensitif, lidah adalah
bagian yang paling sering terpapar makanan yang masuk ke mulut,
karenanya rajinlah menyikat lidah.
 Gunakan pasta gigi yang mengandung fluoride.
 Gunakan cairan antiseptik untuk berkumur setelah gosok gigi.
 Gunakan benang gigi sekali sehari untuk mengangkat plak yang
tidak dapat disentuh oleh sikat gigi dan obat kumur.
 Kunyah permen karet tanpa gula untuk meningkatkan aliran air liur
yang dapat membersihkan partikel makanan dan asam penyebab
kerusakan gigi.
5
 Hindari makanan yang banyak mengandung gula dan manis.
 Minum air putih setelah makan.
 Biasakanlah untuk makan buah-buahan segar karena seratnya dapat
membantu menghilangkan kotoran yang ada di gigi.
 Konsumsi makanan yang seimbang dan kaya kalsium, seperti susu,
keju, telur, ikan teri, bayam, katuk, sawi, dan agar-agar.
 Hindari stres dan jaga daya tahan tubuh, antara lain dengan
mengonsumsi vitamin C dan makan makanan bergizi.
 Melakukan pemeriksaan berkala ke dokter gigi setiap enam bulan
sekali.
2.2 Penyakit Gigi dan Mulut pada Anak-anak
Penyakit gigi dan mulut disebabkan karena kurangnya kesadaran
dalam menjaga kebersihan serta kesehatan gigi dan mulut. Anak-anak
seringkali mengalami penyakit gigi dan mulut karena kurangnya
pengetahuan dan kesadaran dalam merawat gigi dan mulut. Padahal anakanak rentan sekali terserang penyakit gigi dan mulut mengingat kebiasaan
mereka menyantap makanan yang mengandung gula tinggi. Penyakit gigi
dan mulut akan berdampak pada proses tumbuh kembang anak. Anak-anak
yang terkena penyakit gigi dan mulut rawan kekurangan gizi. Rasa sakit
pada gigi dan mulut jelas menurunkan selera makan mereka. Dampak
lainnya, kemampuan belajar mereka pun turun sehingga jelas akan
berpengaruh pada prestasi belajar. Anak pun akan enggan beraktivitas fisik.
Sehubungan dengan itu, berikut adalah beberapa masalah gigi susu
yang sering dijumpai pada anak dan cara mengatasinya:
1. Gigi Berlubang
Lubang gigi, disebut juga karies gigi, disebabkan karena
infeksi bakteri. Jika tidak dirawat, lubang gigi akan semakin besar
dan dalam hingga akhirnya infeksi mencapai persyarafan gigi.
Lama kelamaan gigi menjadi mati (non-vital).
6
Jika ada gigi yang berlubang, anak pun akan mengalami
kesulitan mengunyah makanan. Apabila kejadian ini berlanjut, bisa
berujung pada penurunan nafsu makan dan dalam jangka panjang
anak dapat mengalami kurang gizi. Selain itu infeksi gigi yang
berlanjut ke jaringan lunak dapat menyebabkan terjadinya abses
(seperti bisul berisi nanah).
Penanganan:
Segera periksakan ke dokter gigi agar dapat ditangani
sedini mungkin. Meski akan digantikan dengan gigi
tetap/permanen, gigi susu yang berlubang harus tetap dirawat
karena gigi susu berfungsi sebagai panduan untuk pertumbuhan
gigi tetapnya nanti.
Dokter akan menjelaskan berbagai alternatif yang sesuai
dengan masing-masing kasus untuk penanganan lubang gigi pada
anak. Bergantung pada tingkat keparahan kasus, perawatannya
dapat berupa tindakan pencegahan, penambalan, atau perawatan
syaraf jika infeksi sudah mencapai rongga syaraf gigi (pulpa gigi).
Jika gigi sudah tidak dapat dipertahankan lagi maka terpaksa
dilakukan pencabutan.
2. Gigi Tidak Rata
Gigi bisa menjadi tidak rata jika ada gigi susu yang tanggal
secara dini sebelum waktunya dan mengakibatkan gigi
tetap/permanen yang menggantikannya kehilangan panduan untuk
tumbuh. Akhirnya gigi tumbuh di luar posisi yang normal. Selain
itu bisa juga terjadi gigi tetap tumbuh di belakang/depan gigi susu
yang seharusnya sudah tanggal. Gigi menjadi berjejal dan makanan
yang terjebak sulit dibersihkan. Jika tidak dibersihkan dengan baik,
daerah ini beresiko mengalami karies gigi.
7
Penanganan:
Jika ada salah satu gigi susu yang tanggal secara dini,
ruangan bekas gigi yang dicabut harus tetap dipertahankan untuk
tempat pertumbuhan gigi tetapnya nanti. Dokter gigi akan
mencetak gigi pasien dan membuatkan alat yang disebut “space
maintainer” Gigi yang posisinya tidak rata juga dapat diperbaiki
dengan perawatan orthodontik yaitu menggunakan kawat gigi
(awam menyebutnya behel). Namun untuk pasien anak-anak
sebaiknya perawatan orthodontik dilakukan oleh dokter gigi
spesialis gigi anak (drg. Sp.KGA).
3. Gigi Susu Tinggal Akar
Anak yang terbiasa minum susu botol, terutama sebagai
pengantar tidur, umumnya mengalami karies yang disebut karies
rampan. Ciri khasnya adalah hampir seluruh mahkota gigi depan
rusak dan tinggal akarnya saja. Akar gigi rusak tersebut sebaiknya
dicabut, sebab berpotensi menjadi tempat berkumpulnya kuman
penyebab infeksi yang menyebabkan terjadinya pembengkakan
atau tonjolan seperti bisul di gusi (abses). Abses ini berisi nanah
penuh kuman yang sangat mungkin menyebar lewat pembuluh
darah menuju organ-organ vital seperti ginjal, jantung, hingga ke
otak (focal infection).
Penanganan:
Pasien anak yang mengalami karies rampan biasanya
diobservasi oleh dokter gigi. Apabila dilakukan pencabutan, dokter
gigi menganjurkan dibuatkan space maintainer untuk mencegah
terjadinya pertumbuhan gigi tetap yang tak beraturan.
4. Gusi bengkak
Gusi bengkak bisa disebabkan karena banyak hal. Di
antaranya karena gigi berlubang atau karena akar gigi susu yang
tertinggal. Namun penyebab yang umum terjadi adalah karena akar
8
gigi susu yang tak dicabut sempurna dan menyebabkan gusi
membengkak
2.3 Pentingnya Menjaga Kesehatan Gigi Sejak Dini
Menjaga kesehatan gigi anak merupakan salah satu hal yang tidak
dapat kita abaikan begitu saja. Memang tampak wajar jika seorang anak
mempunyai gigi yang rusak, namun sebenarnya hal itu tidak baik jika
dibiarkan terlalu lama. Ada banyak dampak yang dapat ditimbulkan oleh
kerusakan pada gigi anak, salah satu di antaranya ialah berubahnya bentuk
mulut dan tatanan gigi pada saat anak dewasa nanti. Maka dari itu, perlu
adanya pencegahan terhadap resiko kerusakan gigi anak. Hal ini akan
sangat bermanfaat bagi mereka terlebih saat mereka dewasa. Karena pada
umumnya, kesehatan dan kebersihan mulut dan gigi adalah salah satu
penunjang rasa percaya diri yang paling utama pada mereka terlebih saat
masa remaja.
Hingga saat ini, sudah terdapat banyak kasus mengenai kerusakan
gigi pada anak. Hal ini seolah-olah sudah menjadi hal yang wajar dan
banyak orang tua yang merasa tidak perlu melakukan perubahan apapun
untuk menyikapi hal tersebut. Kerusakan gigi pada anak saat ini sudah
menjadi salah satu ancaman terbesar dalam kesehatan mereka setelah asma
dan demam. Kejadian seperti ini adalah sebagai akibat dari kelalaian orang
tua dalam menjaga kesehatan gigi anak. Padahal, kesehatan gigi dan mulut
yang baik pada orang dewasa juga tergantung pada keadaan gigi dan mulut
mereka saat masih kanak-kanak. Mengingat efek jangka panjang yang
dapat dirasakan oleh anak-anak terkait dengan gigi dan mulut, maka orang
tua perlu mengantisipasi resiko tersebut sedini mungkin.
2.4 Edukasi Kesehatan Gigi
Pendidikan kesehatan adalah suatu penerapan atau aplikasi konsep
pendidikan dan konsep sehat. Konsep sehat adalah konsep seorang dalam
9
keadaan sempurna baik fisik, mental dan sosialnya serta bebas dari
penyakit, cacat, dan kelemahannya.
Adapun konsep pendidikan kesehatan adalah proses belajar
mengajar pada individu atau kelompok masyarakat tentang nilai – nilai
kesehatan sehingga mereka mampu mengatasi masalah kesehatan.
Pendidikan kesehatan adalah suatu proses belajar yang timbul
karena adanya kebutuhan akan kesehatan, dijalankan dengan pengetahuan
mengenai kesehatan dan menimbulkan aktivitas perorangan dan
masyarakat dengan tujuan menghasilkan kesehatan yang baik.
Beberapa pengertian pendidikan kesehatan yang dikutip oleh
Tarsilah (1978) antara lain:
 Nyswander mengatakan bahwa pendidikan kesehatan adalah suatu
proses perubahan manusia yang ada hubungannya dengan
tercapainya tujuan kesehatan perorangan dan masyarakat.
Pendidikan kesehatan bukanlah sesuatu yang dapat diberikan oleh
seseorang kepada orang lain dan bukan pula suatu rangkaian tata
laksana yang akan dilaksanakan ataupun hasil yang akan dicapai,
melainkan suatu proses perkembangan yang selalu berubah secara
dinamis yang di dalamnya seseorang dapat menerima atau menolak
keterangan baru, sikap baru dan perilaku baru yang ada
hubungannya dengan tujuan pendidikan.
 Menurut Stoll pendidikan kesehatan adalah hasil usaha yang
dilakukan suatu organisasi untuk belajar hidup secara sehat.
Dari definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan pendidikan
kesehatan adalah alat bantu untuk mencapai taraf kesehatan setinggi
mungkin, sedangkan orang yang dididik hendaknya diikutsertakan secara
aktif untuk mengubah sikap terhadap kesehatan pribadinya sebagai hasil
pengalaman belajar, yang kemudian dilaksanakan dalam kehidupan seharihari. Pendidikan kesehatan penting untuk menunjang program kesehatan.
Selanjutnya, perilaku sehat akan berpengaruh terhadap peningkatan
indikator kesehatan masyarakat sebagai keluaran (output) dari pendidikan
10
kesehatan yang membedakan pendidikan kesehatan teori dan praktik.
Teori yang diperoleh langsung dipraktikan untuk mengetahui sampai
sejauh mana penguasaan peserta didik terhadap materi yang telah
disampaikan.
Seperti halnya pendidikan kesehatan, konsep pendidikan kesehatan
gigi juga merupakan penerapan dari konsep pendidikan dan konsep sehat.
Bertitik tolak dari kedua konsep tersebut, maka pendidikan kesehatan gigi
adalah suatu proses belajar yang ditujukan kepada individu dan kelompok
masyarakat untuk mencapai derajat kesehatan setinggi tingginya.
Tujuan Pendidikan Kesehatan Gigi
Mengubah perilaku individu merupakan pekerjaan yang mudah,
dalam hal ini dibutuhkan keterampilan khusus sebab perubahan tingkah
laku individu selalu melibatkan perubahan mental. Perubahan itu
sendiri dapat terjadi secara alamiah yaitu karena lingkungan atau
masyarakat sekitarnya. Namun, ada pula perubahan yang terjadi secara
terencana dan dilaksanakan secara sistematis, yaitu yang dikenal sebagai
perubahan melalui pendidikan.
Menurut Noor (1972), tujuan pendidikan kesehatan gigi adalah :
1. Meningkatkan pengertian dan kesadaran masyarakat tentang
pentingnya pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut.
2. Menghilangkan atau paling sedikit mengurangi penyakit gigi dan
mulut dan gangguan lainnya pada gigi dan mulut.
Jadi tujuan pendidikan kesehatan gigi bertujuan :
1. Memperkenalkan kepada masyarakat tentang kesehatan gigi.
2. Mengingatkan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga
kesehatan gigi.
3. Menjabarkan akibat yang akan timbul dari kelainan menjaga
kebersihan gigi dan mulut.
4. Menanamkan perilaku sehat sejak dini melalui kunjungan ke
sekolah.
11
5. Menjalin kerjasama antara RT, RW, kelurahan dalam memberikan
penyuluhan langsung kepada masyarakat, bila diperlukan dapat
saja dilakukan tanpa melalui puskesmas.
Peran Tenaga Kesehatan dalam Memberikan Pendidikan Kesehatan Gigi.
Peranan tenaga kesehatan dalam pendidikan kesehatan gigi adalah
untuk mengubah perilaku masyarakat dari perilaku yang tidak sehat ke
arah perilaku sehat. Seperti kita ketahui bersama bahwa faktor perilaku ini
mempunyai kontribusi yang cukup besar di samping faktor lingkungan
dalam mempengaruhi masyarakat. Keadaan ini disebabkan oleh kurangnya
pengetahuan masyarakat tentang hal itu. Untuk mengatasi permasalahan
kesehatan yang terjadi di masyarakat, biasanya dilakukan pendekatan
dengan menggunakan metodologi pemecahan masalah. Untuk
memecahkan masalah dengan metode ini seorang tenaga kesehatan harus
mampu menjalankan peran ekspresif dan informatif.
Dalam menjalankan peran ekspresif dan informatifnya, tenaga
kesehatan harus mampu menyadarkan masyarakat tentang permasalahan
yang terjadi. Adapun untuk mengetahui permasalahan-permasalahan yang
sedang terjadi, tenaga kesehatan harus dapat menggali permasalahan yang
terdapat pada masyarakat dengan cara melakukan survei bersama antara
tenaga kesehatan dan masyarakat. Jadi masyarakat betul-betul
menyadari yang sedang terjadi di daerahnya. Setelah masalah dapat
diidentifikasi, tenaga kesehatan perlu memberikan penjelasan mengenai
sebab-sebab timbulnya masalah, bagaimana cara mengatasinya sehingga
masyarakat menjadi tertarik dan ingin segera mengatasi permasalahan
yang terjadi di daerahnya tersebut.
Langkah- langkah yang perlu ditempuh untuk menjalankan peran
ekspresif adalah sebagai berikut :
1. Melaksanakan sensus masalah
Kegiatan ini dapat dilakukan melalui survei epidemiologis
maupun sosiologis. Data yang diperoleh dari hasil survei kemudian
12
diolah dan disajikan. Penyajian data dilaksanakan pada pertemuan
desa yang dihadiri oleh aparat desa, tokoh masyarakat,instansi
terkait serta masyarakat sendiri, sehingga masyarakat mendapat
gambaran tentang masalah yang terjadi di daerahnya.
2. Menentukan prioritas masalah
Dari beberapa masalah yang ditemukan, tentunya tidak
semua dapat diselesaikan sekaligus. Oleh karena itu, perlu
dilakukan penentuan prioritas masalah, untuk menentukan prioritas
masalah biasanya dilakukan analisis, misalnya dengan metode
pembobotan.
3. Memecahkan Masalah
Setelah ditemukan masalah yang diprioritaskan, langkah
selanjutnya adalah menentukan jalan keluar dari masalah tersebut.
Kemudian menentukan beberapa alternatif cara yang dapat
digunakan untuk memecahkan masalah. Setelah itu ditentukan cara
yang paling efektif dan efisien untuk penyelesaian masalah tersebut.
4. Mengambil Keputusan Pelaksanaan
Berdasarkan identifikasi yang dilakukan pada tahap
pemecahan masalah, dibuat keputusan pelaksanaan yang sesuai
dengan kebutuhan. Di dalam keputusan pelaksaan tercakup proses
seperti penentuan tujuan, penentuan sasaran, jenis kegiatan, tenaga
pelaksana, pemilihan metode penyuluhan, penentuan materi
penyuluhan, penentuan rencana penelitian.
2.5 Media Edukasi Kesehatan Gigi Anak-anak
a. Pengertian
Alat-alat yang digunakan oleh peserta didik dalam
menyampaikan bahan pendidikan/pengajaran, sering disebut
sebagai alat peraga. Elgar Dale membagi alat peraga tersebut
menjadi 11 (sebelas) macam, dan sekaligus menggambarkan
tingkat intensitas tiap-tiap alat bantu tersebut dalam suatu kerucut.
13
Menempati dasar kerucut adalah benda asli yang mempunyai
intensitas tertinggi disusul benda tiruan, sandiwara, demonstrasi,
field trip/kunjungan lapangan, pameran, televisi, film,
rekaman/radio, tulisan, kata-kata. Penyampaian bahan dengan katakata saja sangat kurang efektif/intensitasnya paling rendah.
b. Manfaat Media Edukasi
 Menimbulkan minat sasaran edukasi.
 Mencapai sasaran yang lebih banyak.
 Membantu mengatasi hambatan bahasa.
 Merangsang sasaran pendidikan untuk melaksanakan pesanpesan kesehatan.
 Membantu sasaran pendidikan untuk belajar lebih banyak dan
cepat.
 Merangsang sasaran pendidikan untuk meneruskan pesanpesan yang diterima kepada orang lain.
 Mempermudah penyampaian bahan pendidikan/informasi oleh
para pendidik/pelaku pendidikan.
 Mempermudah penerimaan informasi oleh sasaran pendidikan.
Menurut penelitian ahli indra, yang paling banyak
menyalurkan pengetahuan ke dalam otak adalah mata. Kurang
lebih 75-87% pengetahuan manusia diperoleh/disalurkan
melalui mata, sedangkan 13-25% lainnya tersalurkan melalui
indra lain. Di sini dapat disimpulkan bahwa alat-alat visual
lebih mempermudah cara penyampaian dan penerimaan
informasi atau bahan pendidikan.
 Mendorong keinginan orang untuk mengetahui, kemudian
lebih mendalami, dan akhirnya memberikan pengertian yang
lebih baik.
 Membantu menegakkan pengertian yang diperoleh.
14
c. Macam-macam alat bantu edukasi
 Alat bantu lihat (visual aids);
 Alat yang diproyeksikan : slide, film, film strip dan
sebagainya.
 Alat yang tidak diproyeksikan ; untuk dua dimensi
misalnya gambar, peta, bagan ; untuk tiga dimensi
misalnya bola dunia, boneka, dsb.
 Alat bantu dengar (audio aids) ; piringan hitam, radio, pita
suara, dsb.
 Alat bantu lihat dengar (audio visual aids) ; televisi dan VCD.
d. Sasaran yang dicapai alat bantu pendidikan
 Individu atau kelompok
 Kategori-kategori sasaran seperti ; kelompok umur,
pendidikan, pekerjaan, dsb.
 Bahasa yang mereka gunakan
 Adat istiadat serta kebiasaan
 Minat dan perhatian
 Pengetahuan dan pengalaman mereka tentang pesan yang
akan diterima.
e. Merencanakan dan menggunakan alat peraga/media edukasi
Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :
1. Tujuan pendidikan, tujuan ini dapat untuk :
 Mengubah pengetahuan/pengertian, pendapat dan
konsep-konsep.
 Mengubah sikap dan persepsi.
 Menanamkan tingkah laku / kebiasaan yang baru.
2. Tujuan Penggunaan Alat Peraga
 Sebagai alat bantu dalam latihan / penataran
pendidikan.
15
 Untuk menimbulkan perhatian terhadap sesuatu
masalah.
 Untuk mengingatkan sesuatu pesan / informasi.
 Untuk menjelaskan fakta-fakta, prosedur, tindakan.
f. Persiapan Penggunaan Alat Peraga
Semua alat peraga yang dibuat berguna sebagai alat bantu
belajar. Kita harus mengembangkan ketrampilan dalam memilih,
mengadakan alat peraga secara tepat sehingga mempunyai hasil
yang maksimal.
Contoh : satu set flip chart tentang makanan sehat untuk
bayi/anak-anak harus diperlihatkan satu persatu secara berurutan
sambil menerangkan tiap-tiap gambar beserta pesannya. Kemudian
diadakan pembahasan sesuai dengan kebutuhan pendengarnya agar
terjadi komunikasi dua arah. Apabila kita tidak mempersiapkan diri
dan hanya mempertunjukkan lembaran-lembaran flip chart satu
demi satu tanpa menerangkan atau membahasnya maka
penggunaan flip chart tersebut mungkin gagal.
g. Cara Mengunakan Alat Peraga
Cara menggunakan alat peraga sangat bergantung pada
seperti apa alat peraga tersebut. Menggunakan gambar sudah pasti
beda dengan menggunakan film slide. Faktor sasaran pendidikan
juga harus diperhatikan, masyarakat buta huruf akan berbeda
dengan masyarakat berpendidikan. Lebih penting lagi, alat yang
digunakan juga harus menarik, sehingga menimbulkan minat para
pesertanya.
Ketika mempergunakan alat peraga, hendaknya
memperhatikan :
 Tunjukkan perhatian, bahwa hal yang akan
dibicarakan/diperagakan itu, adalah penting.
16
 Pandangan mata hendaknya ke seluruh pendengar, agar
mereka tidak kehilangan kontrol dari pihak pendidik.
 Nada suara hendaknya berubah-ubah agar pendengar tidak
bosan dan tidak mengantuk.
 Libatkan para peserta/pendengar, berikan kesempatan untuk
memegang atau mencoba alat-alat tersebut.
 Bila perlu berilah selingan humor, guna menghidupkan
suasana dan sebagainya.
17
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan subjek
peneitian siswa kelas I SD.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi Penelitian: SDN Panjunan, Duduksampeyan, Gresik.
Waktu Penelitian:
 Tanggal 1-10 Maret 2017
Persiapan dan pembuatan media
 Tanggal 15 Maret 2017
Observasi terhadap subjek penelitian
 Tanggal 20– 27 Maret 2017
Pelaksanaan penelitian
 Tanggal 27 Maret 2017
Penyebaran angket dan wawancara orang tua siswa
 Tanggal 28 Maret 2017 – 14 Juli 2017
Analisis data dan penyusunan karya tulis
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi : Seluruh siswa kelas I SDN Panjunan, Duduksampeyan, Gresik.
Sampel : Siswa kelas IA SDN Panjunan, Duduksampeyan, Gresik.
3.4 Metode Pengumpulan Data
4.2.1 Metode Literatur
Kami mengambil sumber dari internet dan buku-buku yang
relevan.
18
4.2.2 Metode Eksperimen
Kami melakukan eksperimen dengan memberikan edukasi
menggunakan media Gigi Cantik dan mengukur pengaruh
penggunaan media tersebut terhadap peningkatan kesadaran
menjaga kesehatan gigi pada siswa kelas I SD.
4.2.3 Metode Penyebaran Angket
Kami menyebarkan angket kepada orang tua siswa yang
berisi beberapa pertanyaan tentang kebiasaan siswa dalam
menjaga kesehatan gigi di rumah setelah mendapatkan edukasi
dengan media Gigi Cantik.
4.2.4 Metode Wawancara
Kami melakukan wawancara kepada orang tua siswa yang
berisi beberapa pertanyaan tentang kebiasaan siswa dalam
menjaga kesehatan gigi di rumah setelah mendapatkan edukasi
dengan media Gigi Cantik.
3.5 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang kami gunakan adalah teknik kualitatif
dan kuantitatif. Teknik kualitatif digunakan dalam pengambilan angket
dengan data berupa deskripsi. Sedangkan teknik kuantitatif digunakan
dalam mengkonversikan data deskriptif ke dalam skor berupa angka.
3.6 Desain Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain The One Group Pretest –
Posttest (Tes Awal – Tes Akhir Kelompok Tunggal). Sebelum melakukan
penelitian, kami mengadakan tes awal dengan memberikan angket kepada
orang tua siswa untuk mengetahui kebiasaan siswa di rumah dalam
menjaga kesehatan gigi. Setelah tes awal dilakukan, kami memberikan
treatment berupa edukasi tentang kesehatan gigi dengan menggunakan
media Gigi Cantik. Selanjutnya, dengan rentang waktu satu minggu
setelah treatment, kami memberikan angket kepada orang tua siswa untuk
19
mengukur keefektifan media Gigi Cantik dalam meningkatkan kesadaran
menjaga gigi siswa.
20
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Berdasarkan hasil angket yang telah kami berikan kepada orang tua siswa,
diperoleh data sebagai berikut:
Tabel Hasil Angket Sebelum dan Sesudah Edukasi

NoNama SiswaSkor AwalSkor Akhir
1.Dyah Lina Dewi Namiroh6773
2.Christin Marta7783
3.Sunnatul Ainiyah7360
4Yoga Dwiaji Pradita8390
5Anissia Anggun K.7783
6Choirul Efendi7080
7Muhammad Zulkarnain A.5370
8Talitha Amalia7783
9Cindy Novita Sari6093
10Habib Al Hakim8087
11Evita Rahmayanti8793
12Hidayatul Wahyu6780
13Feby Ashanti8076
14Yama Fanani7783
15Wachidiyah8087
16Gita Cahyani7387
17Sofatis Sa’adah Agustina7060

4.2 Pembahasan
Berdasarkan data yang kami peroleh, jumlah siswa yang
mengalami peningkatan skor sebanyak 14 siswa. Sedangkan 3 siswa
21
mendapat skor yang sama. Data ini kami peroleh dengan menghitung skor
dari angket yang dibagikan sebelum dan sesudah edukasi dilakukan. Nilai
skor angket diperoleh dengan pedoman penilaian sebagai berikut:
Skor 3 untuk jawaban sering
Skor 2 untuk jawaban jarang
Skor 1 untuk jawaban tidak pernah
Jumlah skor =
22
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan 82 % dari jumlah siswa
mengalami peningkatan skor setelah diberikan edukasi. Dengan demikian,
hipotesis Penggunaan media Gigi Cantik berpengaruh dalam
meningkatkan kesadaran menjaga kesehatan gigi pada siswa kelas I SDN
Panjunan, Duduksampeyan, Gresik diterima.
5.2 Saran

1.Dari penelitian ini, diharapkan mampu mendorong pihak lain untuk
menciptakan media pembelajaran efektif lainnya.
2.Hasil penelitian ini dapat dikembangkan untuk penelitian
berikutnyadengansubjekyangberbeda.

DAFTAR PUSTAKA
Tauchid, Siti Nurbayani. 2017. Buku Ajar Pendidikan Kesehatan
Gigi. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta.
Rahmadhan, Ardyan Gilang. Serba-serbi Kesehatan Gigi dan
Mulut. Bukune: Jakarta.
LAMPIRAN 1
ANGKET

NoPernyataanSeringJarangTidak
Pernah
1.Anak menyikat gigi setiap pagi
2.Anak suka memakan makanan yang manis
3.Anak menyikat gigi setelah makan
4.Anak menyikat gigi sebelum tidur
5.Anak menyikat gigi tanpa perlu diingatkan
6.Anak tidak menangis saat diajak ke dokter gigi
7.Anak memeriksakan gigi tiap 6 bulan sekali
8.Anak menyikat gigi dengan teknik yang tepat
9.Anak mengajak anggota keluarga lain untuk
menyikat gigi
10.Anak mengingatkan teman untuk menyikat gigi

LAMPIRAN 2
BIODATA PENELITI
Ketua kelompok
Nama : Alfina Nurcahyani
Tempat Tanggal Lahir : Gresik, 06 Juni 1997
Nomor Induk Mahasiswa : 15010644038
Nama Instansi : Universitas Negeri Surabaya
Semester : V
Alamat : Desa Panjunan RT 03 RW 01,
Duduksampeyan, Gresik
HP : 083144260700
Email : [email protected]
Anggota
Nama : Sri Wahyuni
Tempat Tanggal Lahir : Lamongan, 15 Juni 1997
Nomor Induk Mahasiswa : 15010644081
Nama Instansi : Universitas Negeri Surabaya
Semester : V
Alamat : Dsn. Sekaran RT 02 RW 09, Ds.
Balongwangi, Kec. Tikung, Kab.
Lamongan
HP : 085851221238
Email : [email protected]

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar