12

Maaf Pak Nuh, Saya Kecewa. (+2)

Agus Firman April 27, 2012

Selasa siang kemarin, selepas pelaksanaan Ujian Nasional hari ke dua pada tingkat SMP, saya menyempatkan untuk membaca baca soal Bahasa Inggris yang anak anak saya kerjakan pada pagi hari. Kebiasaaan ini sudah saya lakukan selama 3 kali pelaksanaan Ujian Nasional. Bukan hal aneh, sejak ditempatkan di desa ini, saya nyaris tidak punya tempat tinggal, karenanya saya sering menghabiskan waktu di sekolah lebih lama dibanding rekan rekan yang penduduk asli.

Ada perasaan berbeda yang tidak saya rasakan pada tahun tahun sebelumnya, selasa itu saya sangat terkejut saat membaca beberapa teks yang terdapat pada soal soal itu. Saya sempat berfikir, ‘ini saya yang Readingnya jelek atau…’ Saat itu, saya sangat berharap ada teman untuk mendiskusikannya, namun karena sedang berada di tempat tugas, akhirnya saya menghubungi beberepa teman kuliah juga kakak kelas yang saya tahu betul, kemampuan berbahasa Inggris mereka jauh lebih hebat dibanding saya.

Sayangnya, saya hanya bisa menghubungi mereka via media sosial, yang kebetulan saat itu mereka tengah offline. Akhirnya saya memutuskan untuk memotret bagian dari salah satu teks bermasalah itu (karena ga ada scanner di sekolah), dan menguploadnya fotonya ke jejaring sosial, lalu menandai mereka. Disana saya meminta pendapat mereka tentang teks tersebut.
Awalnya, saya sempat lega, karena salah satu teman saya mengatakan bahwa teksnya tidak bermasalah. Meski saya sempat memberikan argumen, namun akhirnya saya mengalah, menyadari bahwa waktu kuliah saya bukanlah mahasiswa pintar.

Namun pagi tadi, beberapa komentar yang saya takutkan bermunculan. Mulai dari teman yang saya kenal salah satu yang paling pinter di angkatan saya. Beliau mengatakan bahwa teks teks pada soal UN tahun ini banyak menjebak (tricky) dan membingungkan. Ia juga menyesalkan adanya lagi teks tentang Jellyfish dan keempat soalnya yang sama persis dengan Soal UN tahun 2009. Terkesan panitia kehabisan ide soal dan meng copas soal tersebut. Ini diperburuk karena ke empat soal Jellyfish tersebut ada di semua paket (A s/d E) di nomor yang sama (no.39 s/d no 42.)

Komentar yang benar benar mengena dan sesuai dengan dugaan saya, datang dari Kaka Kelas saya di UPI, yang merupakan lulusan terbaik di angkatannya. Terbaik, karena selain lulus Cum Laude, ia pun berhasil menyelesaikan gelar Masternya Iowa University, dan sekarang bekerja di sana. Beliau berpendapat, (lihat foto)

a. (Lihat paragraf dua) Pertama, luar biasa sekali sebuah paragraf bisa diawali dengan "but", padahal tanpa itu kalimatnya menjadi efektif (mungkin interferensi dari bahasa Indonesia.)
b. (lihat paragraf tiga) Kedua, kalimat awal di paragraf ketiga fungsinya tidak jelas. Betul Agus, koherensinya hampir tidak ada dengan kalimat lain, apalagi dengan urusan kejadian di paragraf sebelumnya

Komentar komentar lainnya sengaja tidak saya diungkap, karena lebih merupakan rasa kekecewaan pada pemerintah. Kekecewaan yang juga saya rasakan saat ini, betapa tidak, kesalahan seperti ini terlalu fatal untuk proyek 600 Milyar. Jadi, maaf pak Nuh, saya kecewa.

(Temuan lain mengatakan bahwa soal IPA paket C tingkat SMP hanya berisi 39 soal, bukan 40)
 

Comments (12)

  1. salah satu kaidah penulisan soal adalah bahwa ‘pengecoh harus berfungsi’. Namun, tentu saja pengecoh ini harus ada korelasinya dengan soal dan opsi lainnya. Kadang, soal yang ada pengecoh ini asal-asalan saja. Bahwa kerja diknas mengecewakan, begitulah adanya, seperti yang saya ceritakan kemarin. Ketika kita, guru, sudah mencoba maksimal dan idealis, justru merekalah yang bekerja acak-adut. Sayangnya, susah sekali meminta pertanggungjawaban mereka. Dan seperti Anda, saya juga sangat kecewa. Salam, dan terus semangat!

  2. @agusfirman: dulu ada satu yang sayat tahu, yaitu Bu Atika Hatika (untuk tik SMA). Beliau guru SMA 78 Jakarta, kami sering diskusi diMGMP. Sekalinya bedah buku, ternyata itu bukuBeliau dan soal-soal yang keluar UN modelnya serupa dengan yang ada di bukunya(tahun 2007an). Untuk tk SMP saya kutang tahu, ya:D

    Akan tetapi, untuk yang sekarang entahlah karena MGMP juga nggak jalan. Kalau pun jalan sering saya tinggal pulang di tengah jalan karena kadang gak jelas dan hanya promosi(pernah bahkan promosi makanan sulemen):D

    Yang saya tahu,setelah era Bu Tika penyusunan soal adalah dengan cara semacam sayembara untuk seluruh guru dan lkemudian soal-soal dari banyak guru yang mengikutinya diambil dan dikocok menjadi soal UN itu. Kalau yang sekarang entahlah, mungkin @Fallacy Anonimus tahu(summon):D

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar