2

maaf yang berharga (+1)

nia April 7, 2015

belajar membuat cerpen.. ^^

Maaf.. yang berharga

Lama rasanya aku terdiam di ruangan ini. Bukan terdiam karena melamun. Tatapanku terkunci pada pemandangan di balik jendela ruangan ini. Pemandangan di luar sana, di seberang bangunan sekolah ini..baru saja ada seorang ibu paruh baya terjatuh akibat seorang yang mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Pengendara itu langsung pergi secepat teriakan ibu itu. Saat itu juga ada seorang anak berseragam putih abu dengan logo sekolah ini di bahunya. Anak itu menghentikan sepeda motornya tepat saat dia sampai di depan sekolah.

Dia sangat cekatan membantu ibu itu, bahkan satpam sekolah pun kalah cepat dari anak itu. Dari dalam tasnya  dikeluarkan botol minum berisi air putih, disuapinya ibu yg tengah terduduk di pinggir jalan itu dengan hati-hati agar tak membasahi pakaian ibu tersebut. Tak lama terjadi percakapan antara mereka bertiga, entah apa yang sedang mereka bicarakan.. yang jelas siswa tersebut bergegas pergi membonceng ibu itu setelah sebelumnya menitipkan tas dan botol minumnya kepada satpam sekolah.

Bukannya aku tak mau terlibat dalam kejadian tadi, entah kenapa melihat kejadian itu aku tak bisa berbuat apa-apa. Ada rasa yang berbeda ketika aku melihat anak itu.. Anak itu adalah siswa di sekolah ini. Ah.. anak itu tak asing bagiku !

Sudah 30 menit aku di ruangan ini, di lantai dua bangunan sekolah ini aku bisa mengawasi setiap aktivitas di luar sana. Sekolah masih hening, sama seperti 30 menit yang lalu. Saat ini jam di ruanganku menunjukkan pukul 08.30. Sesekali kulihat ke arah luar jendela, tapi.. Anak itu masih belum datang juga.

Tepat pukul 08.40, kulihat anak itu masuk ke gerbang sekolah. Tak seperti biasanya, Satpam dan tim kedisiplinan membiarkan anak itu masuk begitu saja. Biasanya jika ada yang terlambat, para siswa akan diberikan punishment agar tak terulang kembali sekaligus membawa efek kebugaran dengan olah raga lari atau push-up.

Sudah seringkali siswa itu kupanggil ke ruangan ini. Alif. Ya! Namanya Alif. Nama yang paling awal dalam daftar absensi kelasnya. Alif tak jauh berbeda dengan siswa sebayanya yang pernah dipanggil ke ruang BK, mulai dari sering terlambat, membuat gaduh kelas, bahkan dulu pernah berhari-hari tak pulang ke rumah dan entah dimana tidurnya. Tapi walaupun tak pulang ke rumah, Alif tetap pergi ke sekolah. Ibunya yang datang ke sekolah mencari keberadaan Alif.

Aku berjalan menuruni anak tangga, seolah tak mengetahui kejadian tadi pagi. Aku tak berreaksi heboh seperti biasanya, jika ada kejadian di luar kebiasaan. Pagi ini aku lebih bisa menenangkan diri.

Kulewati setiap pintu ruangan di selasar sekolah ini. Ada beberapa yang pintunya tertutup. Ada juga yang masih terbuka.

“Pagi, Pak…! “ ucap salah seorang Guru yang menyadari kehadiranku di depan pintu kelasnya, seakan menghampiriku.

“Ya. Selamat Pagi Bu Tita ! silakan dilanjutkan saja mengajarnya “ ucapku sambil terus berjalan dengan penuh wibawa.

Sebelum meninggalkan pintu ruangan kelas itu, aku sempat melihat Alif di dalam. Dia tampak menunduk melihatku melewati kelasnya. Mungkin dia akan mengira setelah jam istirahat akan dipanggil ke ruanganku, seperti biasanya jika dia terlambat ke sekolah. Itu Nampak jelas terlihat dari sudut matanya mengikuti arahku berjalan meninggalkan sudut selasar depan kelasnya.

Di depan taman sekolah, tempat para siswa beristirahat..

Kulihat beberapa petugas kebersihan dan seorang satpam sempat mengobrol santai. Begitu melihatku, mereka seperti salah tingkah. Tapi aku biasa saja. Aku tak ingin begitu menunjukkan kesan berbeda dengan mereka.

Baru tiga tahun berada di sekolah ini, namun aku merasa begitu dekat dengan orang-orang di sekolah ini. Aku tak pernah canggung ketika berada di sekitar mereka. Hal ini kulakukan agar aku bisa dengan mudah menerapkan disiplin positif yang selama ini aku jadikan prinsip dalam membangun sekolah ini.

Tiga tahun pula aku rasakan banyak perubahan yang terlihat di sekolah ini. Terutama perubahan pada kedisiplinan guru-gurunya. Setiap pagi, pukul 06.30 aku sudah siap di gerbang sekolah dengan para guru untuk menyapa siswa saat memasuki gerbang sekolah. Walaupun pada awal-awal tahun sebelumnya hanya beberapa guru saja yang tepat waktu, namun lama kelamaan semua guru terbiasa hadir tepat waktu. Sampai pukul 07.00 bel masuk sekolah dibunyikan, para guru pun masuk ke ruang Guru untuk mendapatkan briefing sebelum masuk ke kelasnya.

Ini adalah impianku yang sudah lama kubangun sejak menjadi Guru honorer. Impian membangun sekolah yang disiplin, harmonis dan bersahabat. Namun impian itu sebenarnya kurasakan belumlah cukup sempurna. Ada hal kecil yang mengganjal dalam benakku sebagai pemimpin di sekolah ini.hal kecil yang sebenarnya bermula dari diriku sendiri. Hal kecil yang sering aku dengungkan pada para siswa, namun tak berlaku bagi diriku. Hal kecil yang seharusnya menjadi teladan, tapi tak ada padaku.

“Pak Hendar! Apa Kabar? “ seseorang memanggil dari arah belakangku, membuyarkan pikiranku.

“Oh.. Pak Tiar! Saya kira siapa? Bikin kaget saja.. ayo ke ruangan saya! Kok sampai menyusul kemari.. “ ternyata sahabat karib yang sama-sama kepala sekolah di kota ini datang juga setelah kemarin kami membuat janji untuk bertemu.

Kami banyak berbincang tentang pembangunan di sekolah masing-masing. Bahkan sampai membicarakan beberapa program pelatihan untuk para guru di acara family gathering PGRI akhir tahun pelajaran ini. Pak Tiar merupakan sosok yang penuh ide-ide inspiratif. Pantas saja beliau menjadi kepala sekolah di sekolah unggulan di kota ini. Sikapnya yang supel membuat siapapun tak canggung berada di dekatnya. Aku sendiri banyak belajar darinya. Banyak mendapat nasehat darinya. Betapa sosok yang patut dibanggakan. Bahkan kabarnya beliau akan dipromosikan menjadi salah satu pengawas di provinsi. Hebat bukan !!

Tapi sehebat-hebatnya karibku ini, ada saja kekurangan yang dimilikinya. Beliau memiliki idealisme yang sangat tinggi. Bagiku itu adalah kekurangan. Kusebut kekurangan karena dengan tingginya idealisme seorang Pak Tiar, seringkali dia tak melihat kondisi real di lapangan. Kondisi yang tak dinginkannya akan menjadi alasan bahwa dia tipe orang no excuse. Sehingga sulit baginya untuk menerima ketika kalah dalam berkompetisi.

“Ya sudah, kapan-kapan kamu lah yang ke sekolah saya. Oke !” Pak Tiar berlalu  dengan sepeda motornya. Dia tetap santai berkendara dengan sepeda motor itu, apapun celotehan orang sekeliling tentangnya, dia tetap terlihat menikmati perjalanan dengan idealismenya. Termasuk idealismenya mempertahankan sepeda motor itu di tengah-tengah rekanan kepala sekolah lain yang berkendara mobil.

Ya!  begitu yang kurasakan selama tiga tahun ini di sekolah ini. Mulai tertular oleh tingginya idealisme itu. Sampai aku hampir menutup mata melihat kenyataan bahwa dalam diri ini banyak kekurangan. Hingga hari ini aku bisa mulai membuka mata kembali melihat di sekitarku banyak hal kecil yang seharusnya kusentuh. Termasuk Alif.

Bel istirahat telah berbunyi. Tak terasa akhirnya tugas administrasi telah selesai. Saat aku akan pergi memesan makanan, tiba-tiba…

Assalamu’alaikum..” Suara seseorang di luar ruanganku

Wa’alaikumsalam.. “ sahutku sambil kubuka pintu

—–

Hampir sepuluh menit Alif hanya terdiam duduk di ruanganku. Rasanya aku pun bingung harus mulai dari mana pembicaraan ini. Di luar dugaanku, Alif yang biasanya kupanggil kini datang dengan sendirinya.

“Lif, gimana kabar Ibu di rumah?” tanyaku membuka pembicaraan.

“Baik Pak. Hmm.. anu pak” jawab alif terbata-bata.

Aku diam mendengarkan apa yang akan dia katakan. Sesekali kupandangi anak ini dari ujung kaki sampai rambutnya. Ingin sekali aku mengusap kepala anak ini.

“tadi pagi pak, saya terlambat lagi. Maaf..” ucapnya lirih.

“Bapak boleh hukum saya, tapi saya punya satu permintaan..” sambungnya.

“ga apa-apa Lif, Bapak sudah terbiasa dengan kamu datang kesiangan, Walaupun Bapak malu, tapi Bapak yakin kamu punya alasan.. Kamu mau minta apa? Apa uang saku dari Ibumu sudah habis?”  aku berusaha bersikap sewajarnya, tanpa emosional.

“ya sudahlah Pak. Nanti saja pulang sekolah. Saya mau ke kelas lagi” kata-katanya terhenti entah karena bel masuk atau karena ucapanku yang terakhir menyinggungnya.

Setelah Alif pergi, kubuka kembali pesan singkat dari Ibu Alif.

“Alif itu ingin kuliah ke Ilmu Sosial, kenapa harus ke Ilmu Pendidikan? Sebagai orang tua yang bijak, tentunya bisa memahami minat anak sendiri, jangan bersikap egois”

 

Sms pagi itu tak kubalas. Kubaca berulang kali pesan dari Ibu Alif, Wanita yang pernah menjadi bagian hidupku itu. Pesannya begitu membuatku banyak berpikir hari ini. Aku berpikir tentang apa yang sudah kulakukan selama ini, ternyata hanya untuk kepentinganku sendiri. Memang, minggu lalu aku berpesan pada Guru BK agar Alif didaftarkan saja ke Jurusan Pendidikan agar dia bisa mudah bekerja, karena kupikir prospek kerjanya akan memudahkan ketika nanti dia lulus bahkan berpeluang menjadi Guru PNS.

Tapi kedatangan Alif tadi, sepertinya tak hanya permintaan maaf Alif karena datang terlambat. Sepertinya dia ingin membicarakan sesuatu. Apa memang dia tak mau kuliah sesuai dengan harapanku sebagai ayahnya??

Kuingat kembali wajah anak itu, rasanya seperti tak banyak berubah. Kuingat lagi saat SMP dulu keinginannya adalah menjadi Guru Matematika, sepertiku. Tapi sekarang, rupanya dia telah berubah. Dia telah menemukan keinginannya sendiri. Walaupun sebenarnya dia memiliki nilai akademik sosial yang tak cukup baik. Tapi memang kegiatan ekstrakurikuler yang diikutinya banyak melibatkan kegiatan sosial. Akan kudengarkan baik-baik apa yang nanti akan dikatakan oleh Alif. Hingga akhirnya Aku harus menghargai keputusannya.

Sepulang sekolah, kutunggu Alif namun tak kunjung datang. Walaupun masih pukul 15.00 tapi hari sudah gelap seperti waktu maghrib. Sekolah telah sepi, tak seperti biasanya. Mungkin semua orang berpikir ingin bergegas segera sampai ke rumah.

Kulaju mobil dengan cepat, entah kenapa rasanya mengantuk sekali. Sampai di pertigaan, tiba-tiba kakiku menginjam rem mendadak… ccciiiiitttt… suara ban mobil berdecit berhenti.

“Braaakkk!!!” mobilku tak tertahan dan menabrak seorang anak dengan sepeda motor merah.

“Alif!!” Aku kaget ternyata korban yang tertabrak adalah anakku!

Aku bergegas berlarir keluar dari mobil. Kupeluk tubuh anak ini, tak peduli penuh darah. Betapa teledornya diriku ini!

Orang-orang di sekitar hanya memperhatikan, tak ada yang menolong. Mereka hanya menontonku saja. Sampai ada seorang lelaki ikut memegangi Alif.

“ayo pak, bantu anak saya ke Rumah sakit pak” pintaku mengiba pada lelaki itu.

“Pak, sudah ikhlaskan saja.. ini sudah tak tertolong pak “ucapnya lesu..

“Aliiff!!! “ aku berteriak histeris

—–

“Pak, maaf.. pak.. bangun pak! “

Sepertinya aku kenal suara ini. Kubuka mataku perlahan.

“Pak, maaf saya kira bapak sudah pulang. Ini saya mau beresin ruangan Bapak, tapi bapak sepertinya ketiduran di kantor..” Mang Ucup, Penjaga Sekolah membangunkanku.

Aku masih memandangi wajah mang Ucup dan sekeliling ruangan. Nafasku masih terengah-engah mengingat kejadian tadi, kejadian yang ternyata hanya mimpi. Kuusap keringat di keningku sambil meminum air yang dibawakan oleh Mang Ucup.

Hatur nuhun, Mang! “

“Oh.. mangga pak. “ Jawab Mang Ucup sambil terheran-heran melihatku.

“Mang, saya pulang duluan ya. Silakan saja kalau masih beberes mah “ Aku bersiap untuk segera pulang.

Hari memang masih sudah gelap, pertanda hujan segera turun.

Saat menuruni anak tangga, pikiranku tak lepas-lepasnya membayangkan Alif. Ada kekosongan yang kurasakan sejak pecahnya keluargaku. Bukan hanya kosong karena tak ada lagi pendamping, namun juga kosong, karena aku tak pernah bisa lagi dekat dengan anak-anakku. Bagaimanapun usahaku untuk mendekati mereka, selalu saja sikapku yang kaku mempersulit diriku sendiri. Aku terlalu malu untuk sekedar menghampiri mereka.

Di perjalanan pulang, di pertigaan jalan yang tadi muncul dalam mimpiku.. kulaju perlahan mobil ini. Setelah menemui jalan utama, kubelokkan ke arah rumah Alif tinggal. Saat ini Alif, adik dan Ibunya tinggal di rumah Neneknya. Aku telah memutuskan untuk menuntaskan pembicaraan dengan Alif. Aku ingin membangun kembali kekosongan hati anak-anakku yang selama ini kering oleh idealisme yang kubangga-banggakan di depan orang-orang. Padahal tanpa mereka ketahui, aku rapuh sendirian. Memiliki jabatan karier, mobil dan orang-orang yang patuh padaku, bukanlah membuat hatiku nyaman. Semua ini kenapa membuat diriku makin tak karuan. Aku bertekad harus memperjelas tujuan.

Tujuanku saat ini yang pertama, adalah memberikan kebebasan kepada Alif, anakku. Agar ia bebas melanjutkan kuliah sesuai dengan keinginannya. Aku tak perlu lagi menghalangi dia dengan obsesi pribadiku. Biarkanlah dia menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang berguna bagi negeri ini, setidaknya membanggakan bagi dirinya sendiri.

Ini pelajaran berharga bagiku. Pelajaran yang seharusnya ada dalam diri seorang Guru. Ketika tak menghalangi siswanya untuk berlari hanya karena dia terlihat lemah. Namun memberikan jalan agar menjadikan siswanya merasa bangga akan kemampuannya sendiri. Menjadikan dia bangga berada di bumi ini.

“Alif.. maafkan Bapak, Nak! “ .

Hujan masih mengenangi sepanjang jalan ini.

Selesai.

Comments (2)

  1. Saya sangat suka dengan bagian ini : Pelajaran yang seharusnya ada dalam diri seorang Guru. Ketika tak menghalangi siswanya untuk berlari hanya karena dia terlihat lemah. Namun memberikan jalan agar menjadikan siswanya merasa bangga akan kemampuannya sendiri. Menjadikan dia bangga berada di bumi ini.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar