0

Lunturnya Kejujuran dan Jiwa Kompetisi dalam Diri Siswa (0)

IKA HARDIYAN AKSARI April 9, 2021

Dulu, kalau break ujian, pasti yang kupegang adalah buku. Kubaca materi yang sekiranya aku masih belum paham. Nah, kalau siswaku sekarang? Ada break tiga puluh menit, apa yang mereka cari? Bola. Itu untuk anak laki-laki, kalau yang perempuan lebih memilih jajan atau ngrumpi di depan kelas. Aku sangat prihatin, apakah ini tanda kemunduran zaman? Tak ada lagi rasa prihatin apalagi jiwa kompetisi yang menggelora di dalam hati siswaku.

Kemarin, guru kelas 6 bercerita tentang keluhan kelas 6 yang selama dua minggu ini kuawasi saat latihan ujian dan penilaian akhir tahun.

“Bu Ika tuh galak banget, Buk, kalau ngawasi. Namaku dicatat, malah difoto juga katanya mau dilaporin ke bu kepala sekolah kalau pada ribut.” tutur guru kelas 6.

Aku hanya terkekeh. Tak kuambil pusing apa yang disampaikan guru kelas 6 itu. Aku hanya meyakini apa yang kulakukan itu benar, maka akan aku lanjutkan sampai kapanpun.

Aku juga tidak ambil hati atas tujuan guru kelas 6 menyampaikan hal tersebut. Wong kenyataannya memang sangat keterlaluan. Soal baru dibagikan 5 menit saja, mereka sudah heboh mencari contekan ke temannya. Hal yang membuatku makin melongo adalah, kok, ya, temannya dengan senang hati memberikan contekan.

Potret anak-anak saat melaksanakan PAT di masa pandemi

Memang, zamanku berbeda dengan zaman siswaku sekarang ini. Tapi, bukankah yang namanya kejujuran dan jiwa kompetisi itu harus selalu ada dalam diri setiap orang? Lah, rugi dong selama hampir 6 tahun belajar sungguh-sungguh di sekolah, tapi endingnya berbagi contekan dengan teman.

Jujur saja, saat ini, setelah menjadi guru, bukankah jiwa kompetisi itu masih ada dalam diri kita?

Guruku dulu pernah berpesan, “Minta contekan boleh, tapi, ya, sewajarnya, 1 sampai 3 soal saja. Kalau semua minta contekan atau kamu nyontekin teman kamu, itu namanya kamu GOBLOK SEJATI.”

Selama sekolah sampai kuliah, aku bisa menghitung berapa kali aku minta contekan, kuingat betul saat ujian SMA dan saat kuliah aku pernah membuka buku modul untuk nyari contekan. Itupun rasanya, Ya Allah, malu banget dan sampai rumah aku menangis.

Sungguh, dunia pendidikan saat ini sangat mengenaskan.

Oh, jangan salahkan adanya pandemi ini! Ada pandemi ataupun tidak, sama saja lho. Memang makin parah lagi saat ada pandemi ini. Mereka seperti merasa adanya pemakluman. Duh, padahal kan di agama apapun itu yang namanya ‘pemakluman’ tidak boleh.

“Maklum lagi pandemi, jadi, nyolong boleh, ya?”
“Maklum nggak pernah tatap muka, nyontek pas ujian boleh, kan?”

Hahaha.

Wis, bobrok, tenan. Kalau di tempat kamu, bagaimana?

Tak perlu memungkiri, kenyataannya memang seperti ini, bukan?

Kalau boleh mengingat zaman aku sekolah dulu, aku selalu bertemu dengan guru-guru yang disiplin dan memiliki tipe yang sama saat menghadapi ujian. Seperti:
1. Saat ujian, kami diwajibkan menuliskan jawaban di kertas lain, nanti setelah waktunya pulang tidak langsung pulang, tapi membahas soal-soal tersebut. Jadi, kami akan tahu kira-kira nilai yang kami dapatkan berapa.
2. Setelah bahas soal yang selesai diujikan, guru akan mengulas sebentar materi mata pelajaran yang akan diujikan esok harinya.

Jadi, saat ujian, rasanya tuh mantab untuk menjalaninya. Ada rasa tanggungjawab yang lebih. Malu rasanya kalau mau mencontek, apalagi kok nanti selesai ujian dicocokkan. Bakalan malu banget kalau sampai dapat nilai yang jelek. Muncul deh jiwa kompetisi antar siswa dan mau tidak mau kamu berusaha agar paham atas materi yang akan diujikan.

Sungguh, sedih rasanya melihat potret siswa kelas 6 saat ini. Apakah ini juga terjadi di daerahmu? Apa yang harus dibenahi terlebih dahulu?

Tagged with:

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar