5

Lulus Sertifikasi, Rekan Jadi "korban" (+3)

Mustafa Kamal September 7, 2012

Seorang rekan Guru disekolah, meminta pertimbangan saya. Sebutlah namanya Pak Gilang. Pak Gilang sudah tiga tahun mengajar disekolah kami. Berlatar belakang pendidikan Biologi, namun karena guru Biologi sudah cukup dan sudah bersertifikasi maka untuk memenuhi kebetuhan 24 jam mengajar, maka Pak gilang yang belum bersertifikasi ditugasi mengajar mata pelajaran lain yaitu Muatan Lokal (Mulok).

Dua tahun lebih tugas itu dia lakoni dengan senang hati. Ketika pengurusan kenaikan pangkat golongan, Daftar Usulan Penetapan Angka Kredit (DUPAK) nya pada bagian mengajar nya, menurut asesornya angka kreditnya tidak bisa dihitung, karena tidak mengajar mata pelajaran sesuai latar belakang pendidikannya. Dia mencoba membela, kalau seandainya mata pelajaran Mulok tidak diakui untuk apa ada mata pelajaran mulok? untuk apa saya mengajar mulok dengan bikin silabus, RPP nya segala macam, kalau akhirnya tidak dihitung angka kreditnya? Hingga sekarang kenaikan pangkatnya masih tertunda karena tidak cukup jumlah angka kredit menimal untuk naik pangkat tersebut, karena kena di Mata pelajaran yang diajar itu tidak sesuai latar belakang pendidikan.

Kerisauannya semakin menjadi-jadi karena sebagai syarat untuk mendapatkan sertifikasi harus mengajar mata pelajaran yang disertifikasi minimal 5 tahun berturut-turut, sekarang dia sudah dua tahun lebih tidak mengajar Biologi. Impian untuk bisa ikut sertifikasi semakin samar-samar. Apalagi semakin hari semakin sulit persyaratan untuk lolos sertifikasi.

Akhirnya dia menemui saya untuk mempertimbangkan keinginannya untuk pindah ke sekolah yang baru yaitu SMK yang baru di-launching dan mulai menerima murid baru untuk pertama kali tahun ajaran ini. Dia disana akan mulai dari nol lagi, mengajar mata pelajaran yang sesuai dengan pendidikannya. Keberatannya adalah dia sudah “nyaman” dengan sekolah ini, sedang sekolah baru itu masih “bayi” masih banyak tentu yang akan dikerjakan dan dibenahi.

Sekolah baru berada disebuah pelosok yang sangat jauh dari rumah dan keluarganya , dengan berkendara motor dengan kecepatan 60 km/jam akan menempuh waktu 1 jam. Pulang Pergi maka akan memakan waktu dua jam diperjalanan, ditambah dengan cuaca panas dan jalanan yang sepi. Berbeda dengan sekarang hanya 10 menit dari rumah. Dari segi ekonomi biaya tansportasi seperti minyak motor tentu juga bertambah, “uang sampingan” seperti uang jam mengajar dari komite, uang persenan penjualan LKS, honor wali kelas, pembina esktra kurikeler, tentu tidak akan didapat disekolah baru itu.

Menimbang karirnya untuk kenaikan pangkat dan sertifikasi saya pun memilih baiknya dia pindah saja, karena tidak mungkin sekolah memindahkan guru senior dan sudah bersertifikasi pula. Terpaksa dialah yang harus mengalah. Saya mengusulkan agar pindah ke SMK yang dekat dengan rumahnya, karena menurut informasi sekolah itu baru memiliki satu guru IPA sedang rombongan belajarnya ada sekitar 16 rombel.

Namun, setelah dia meminta rekomendasi ke sekolah itu, kepsek nya menolak. Alasan kepseknya adalah guru IPA nya tahun depan akan bersertifikasi, sedangkan sisa jam sudah diambil dari guru sekolah lain yang sudah bersertifikasi juga. Pak Gilangpun kembali kecewa.

Akhirnya Pak Gilang memutuskan untuk pindah ke sekolah baru itu dengan segala resikonya. Kepala sekolahpun sebenarnya berat untuk melepaskannya tapi demi karir dan urusan sertifikasinya nanti dengan berat hati rekomendasipun diberikan. Saya kehilangan rekan kerja yang enerjik, humoris dan simpatik di sekolah.

Inilah sisi lain dari program sertifikasi guru. Guru yang sudah bersertifikasi lebih diutamakan dalam pembagian jam mengajar, mereka berbahagia dengan dua kali gaji yang mereka terima. Guru yang belum bersertifikasi harus mengalah jam mengajar dikurangi atau bahkan tidak dapat lagi seperti pak Gilang dan harus pindah jauh kepelosok yang kekurangan guru kalau ingin naik pangkat dan bersertifikasi . Apalagi guru honor harus siap-siap berhenti, nasib sedikit lebih baik Guru Tidak Tetap (GTT), masih menerima gaji sesuai kontrak walau tidak mengajar lagi. Saya menyebut mereka “korban” sertifikasi, anda?
 

Comments (5)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar