0

Lingkungan Real sebagai Media Pembelajaran Kimia (0)

Agus Wahidi, M.Pd April 7, 2021

Kegiatan pembelajaran di sekolah merupakan bagian dari proses pendidikan yang bertujuan untuk membawa suatu keadaan kepada keadaan baru yang lebih baik. Kegiatan pembelajaran yang berkualitas yang dapat membawa kepada keadaan yang lebih baik. Pembelajaran yang berkualitas menurut pendekatan sistem menuntut berkualitasnya semua komponen dalam pembelajaran. Komponen dalam pembelajaran menurut pendekatan sistem (Mulyati Arifin, 1994:7) adalah “tujuan, siswa, guru, materi pelajaran, metode dan pendekatan, sarana, waktu, lingkungan, dan evaluasi”. Guru sebagai salah satu komponen dalam sistem pembelajaran memegang peranan penting bahwa guru wajib berusaha menciptakan situasi belajar dengan segala cara sehingga dapat diperoleh hasil belajar semaksimal mungkin dengan memperhatikan berbagai kendala yang mempengaruhi dari komponen pembelajaran yang lain. Hal ini disikapi oleh pemerintah dengan menekankan pada peningkatan kualitas guru dalam sistem pembelajaran dengan berbagai pendekatan. “Perhatian pemerintah terhadap guru sangat besar, hal ini dikuatkan dengan adanya Undang-undang Guru dan Dosen tahun 2005, yang menitik beratkan adanya profesionalisme guru untuk menjadi guru yang berkualitas” (Winarno Surakhmad, 2009 : 354).

Guru dalam proses pembelajaran sebagai pendidik diharapkan mempunyai kemahiran dalam melaksanakan proses pembelajaran, termasuk didalamnya adalah kemahiran dalam menyampaikan materi dan membuat media pembelajaran. Menurut pendekatan sistem, media pembelajaran juga berperan penting dalam pencapaian indikator pembelajaran. Media pembelajaran seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat guru memiliki banyak pilihan dalam menentukan media pembelajaran. Media pembelajaran yang digunakan tentu saja harus memeperhatikan kondisi siswa dan kondisi sekolah yang ada, yang tergantung beberapa faktor sarana dan prasarana serta siswanya. Guru sebagai fasilitator dalam pembelajaran harus mumpuni untuk menentukan media pembelajaran apa yang sesuai.

Media yang digunakan salah satunya adalah lingkungan riil. Pemilihan media lingkungan riil sebagai media, seperti yang sudah diteliti oleh Munir Tanrere dalam Journal of Applied Sciences in Environmental Sanitation (2008, Volume 3: 45- 46) melakukan penelitian tentang pembelajaran kimia berbasis masalah lingkungan, di SMA 3 Makasar . Penelitian ini mengungkapkan ternyata dengan menghubungkan pengetahuan anak dengan pengalaman langsung dengan lingkungan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran kimia.

Media lingkungan riil memiliki kelebihan secara emosional dan visual dapat memberikan makna kepada siswa tentang suatu materi pembelajaran. Informasi yang memiliki arti emosional lebih mudah diingat (Yovan P. Putra, 2008: 163). Lingkungan riil merupakan bahan-bahan atau gejala-gejala alam yang terdapat disekitar siswa yang bukan bahan-bahan laboratorium, sehingga untuk mendapatkannya tidak terlalu membutuhkan biaya yang terlalu banyak. Bahan-bahan yang ada disekitar siswa ini selanjutnya menjadi suatu pengalaman yang dapat dinamai oleh siswa, sehingga verbalisme dapat dihindari. Media lingkungan riil ini juga dapat didokumentasikan dalam bentuk gambar atau film yang selanjutnya dapat digunakan untuk media pembelajaran. Bentuk , warna dan dimensi membuat siswa senang.

Media lingkungan riil masih belum banyak digunakan oleh guru untuk mendukung keberhasilan pembelajaran. Pembuatan dan pemanfaatan media lingkungan riil yang cukup sederhana dari sisi ekonomis maupun tingkat kesulitan, apalagi dengan dibantu teknologi informasi dan komputer semakin memudahkan pembuatan dan pengembangan media lingkungan riil. Media lingkungan riil dapat dibantu dengan software presentasi  powerpoint presentation yang keduanya dapat dimasukkan gambar, animasi atau video yang dapat mendukung pembelajaran yang menyenangkan. Kenapa masih banyak guru yang tidak menggunakan ?

Mata pelajaran Kimia perlu diajarkan untuk tujuan yang lebih khusus yaitu membekali peserta didik pengetahuan, pemahaman dan sejumlah kemampuan yang dipersyaratkan untuk  memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi  serta mengembangkan ilmu dan teknologi. Tujuan mata pelajaran kimia dicapai oleh peserta didik melalui berbagai pendekatan, antara lain metode ilmiah.  Proses metode ilmiah bertujuan menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta berkomunikasi sebagai salah satu aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran kimia di sekolah menengah atas menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah (Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006).

Faktor yang  mempengaruhi keberhasilan belajar pada siswa secara garis besar ada dua yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal diantaranya  adalah suasana, lingkungan, dan media belajar. Faktor internal siswa diantaranya adalah kemampuan memori dan kreativitas siswa. Keduanya saling terkait dan tidak bisa diabaikan pada keberhasilan belajar dalam model pembelajaran quantum learning. Faktor internal dapat terpengaruh oleh faktor eksternal, suasana yang rileks dan menyenangkan tentu dapat meningkatkan daya ingat siswa dalam menerima materi pelajaran. Otak dalam kondisi rileks sangat optimal menerima informasi baru. Kreativitas siswa dapat tumbuh ketika emosi dalam kondisi aman, tanpa ada tekanan.

Pembelajaran kimia sebaiknya dapat meningkatkan kreativitas dan pengetahuan kognitif serta afektif siswa secara seimbang. Kreativitas dan kognisi dan afektif siswa ini yang menjadi sasaran utama dalam tujuan pendidikan.

Pembelajaran kimia pada materi koloid yang ada disekolah pada umumnya hanya dalam bentuk ceramah dan menyampaikan informasi saja, sehingga ada kecenderungan kalau mengajar materi koloid harus banyak cerita dan hafalan. Siswa terkadang bosan dan cenderung melewatkan materi ini.  Materi pelajaran yang berupa pengetahuan jika hanya sampaikan untuk dihafal maka yang terjadi adalah permasalahan yang dapat diamati dari pernataan-pernyataan yang dikemukakan siswa sebagai berikut : “ Kami belum pernah mendapatkan materi itu. Saya tidak mengerti apa sebenarnya yang sedang diajarkan. Guru saya menjelaskan sesuatu yang tidak ada hubungannya. Guru saya mengajarkan sesuatu diluar kemampuan kita. Saya tidak mengerti“ (Mulyati Arifin, 1994 : 10).

Materi koloid dalam standar isi disebutkan bahwa kompetensi dasar yang harus dimiliki siswa adalah menjelaskan sistem dan sifat koloid serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa materi koloid sangat penting bagi kehidupan siswa pada khususnya dan masyarakat umumnya untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Jadi tuntutan kompetensi dasarnya adalah menguasai konsep dan penerapannya dalam lingkungan sehari-hari. Materi tentang koloid sangat berperan dalam kehidupan dan dalam peningkatan kesejahteraan hidup manusia. Dalam diri manusia seperti darah, susu dan kolagen yang merupakan contoh koloid biologis yang terdapat dalam tubuh manusia, sehingga pengembangannya meteri koloid ini dalam bidang kesehatan bermanfaat dalam pencucian darah dalam proses dialysis yang juga dapat dialami oleh koloid. Dalam bidang lingkungan hidup, siswa dengan mengetahui koloid aerosol lebih berhati-hati ketika ada kabut asap dari hasil pembakaran hutan untuk pembukaan lahan, sehingga siswa tertanam dalam hatinya untuk memelihara lingkungan. Dalam pengelolaan air bersih untuk konsumsi rumah tangga, dengan belajar koloid tentang bagaimana peristiwa adsorbs dan koagulasi memunculkan pengembangan teknologi penjernihan air untuk mengatasi permasalahan kekurangan air bersih, terutama di daerah Singkawang ketika terjadi musim kemarau air bersih menjadi sangat langka.

Pembelajaran dengan media lingkungan riil pada pokok bahasan Koloid di SMA perlu diadakan dapat memberikan kontribusi informasi pada guru khususnya untuk meningkatkan profesionalitas guru yang selanjutnya akan mencapai pembelajaran yang berkualitas dan pendidikan yang berkualitas yang seperti diharapkan dalam Undang-undang Guru dan Dosen tahun 2005. Pembelajaran kimia dengan media real lingkngan juga memberikan pengalaman belajar kepada siswa yang lebih kontekstual dan mengakyifkan daya kritis siswa terhadap lingkungannya, dan sekaligus menambah kreativitas siswa dalam mengatasi masalah lingkungan, sehingga berpengaruh pada kognitif dan afektif siswa.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar