2

LIKA LIKU BELAJAR DARI RUMAH (0)

Catatan Guru Milenial October 8, 2020

Hampir semua guru memiliki permasalahan yang sama dalam melaksanakan proses belajar-mengajar sebelum pandemi dan selama new normal. Sudah pasti banyak sekali perbedaannya. Saya mengampu mata pelajaran Informatika dan Bimbingan TIK. Dalam melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) karena sekolah kami 2 tahun ini telah melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) sehingga kami memiliki fasilitas komputer yang berjumlah 100 unit yang di bagi menjadi tiga ruang.

Saya mengajar di SMP Negeri 2 Mendoyo yang terletak di Kecamatan Mendoyo Kabupaten Jembrana di Provinsi Bali. Sistem zonasi dalam penerimaan siswa baru sehingga siswa yang mendaftar di sekolah kami banyak yang berasal dari desa dan dari kalangan menengah ke bawah. Dalam 1 kelas terkadang hanya 1 atau 2 orang saja yang memiliki Personal Computer/Laptop. Sehingga mereka benar-benar hanya mengandalkan pelajaran dari sekolah, apalagi mata pelajaran Informatika yang memerlukan fasilitas komputer.

Dalam kegiatan belajar Informatika untuk siswa kelas 7 seperti tahun-tahun sebelumnya hampir sebagian besar siswa masih belum terbiasa menggunakan komputer. Masih banyak dari mereka yang belum bisa memegang mouse dengan benar apalagi mengetik. Sehingga Mata Pelajaran (Mapel) Informatika adalah Mapel yang sangat membantu mereka untuk belajar dan mengenal komputer.

Walaupun pelajaran Informatika hanya 2 jam pelajaran setiap minggu dan 90 menit jika hitungan jam belajar. Hal itu sudah cukup membantu mereka. Dari yang tidak pernah menggunakan komputer menjadi pernah, dari yang tidak bisa memegang mouse menjadi terbiasa, dari yang tidak bisa mengetik menjadi pandai mengetik. Mereka pun cukup antusias ketika pelajaran Informatika berlangsung walaupun sering mendapatkan jadwal di tengah hari yang sebagian konsentrasinya sudah sangat berkurang karena mengantuk dan lapar.

Mereka sangat bersyukur dan senang sekali selain pelajaran Informatika mereka juga mendapatkan kesempatan belajar komputer dalam ekstrakurikuler komputer. Ketrampilan mereka pun semakin bertambah dalam menggunakan beberapa aplikasi di komputer. Akan tetapi semua menjadi berubah ketika penetapan Belajar Dari Rumah (BDR). Siswa kelas 7 yang saya ampu pada tahun pelajaran sebelumnya pada saat bulan Maret sejak diberlakukan BDR mereka masih mendapat kesempatan 9 bulan dari semester ganjil dan setengah semester genap berjalan belajar Informatika di lab sekolah. Sehingga mereka setidaknya sudah mengetahui bagaimana menggunakan komputer.

 Walaupun demikian tidak semua siswa bisa mengikuti BDR secara aktif. Berbagai kendala seperti tidak memiliki fasilitas dan susah sinyal sehingga pembelajaran Informatika yang saya ampu dari 120 siswa yang aktif hanya 70% saja yang efektif berjalan, padahal mereka setidaknya sudah sering bertemu dengan saya sebagai guru dan sudah terbiasa menggunakan komputer di sekolah. Hal itu ternyata belum bisa membantu sebagian dari mereka untuk bisa belajar efektif dari rumah.

Hal tersulit bagi saya adalah ketika tahun pelajaran baru 2020/2021. Di awali dengan pendaftaran online, Masa Orientasi Siswa (MOS) online, pembagian kelas online pembelajaran secara online dan sebagainya semua di lakukan secara daring/online. Hal ini menyebabkan guru dan siswa belum saling mengenal.

Tahun pelajaran baru saat BDR ini kami dari sekolah menyepakati untuk menggunakan Google Classroom di dalam melaksanakan pembelajaran. Setelah pembagian kelas mereka bergabung di WA Group wali kelas. Kode classroom pun di share ke group wali kelas. Saya mengampu 5 kelas untuk siswa kelas 9 dan 3 kelas untuk siswa kelas 7. Dari 8 kelas yang saya ampu permasalahan untuk siswa kelas 9 hanya sekitar 2-3 orang saja per kelas yang tidak bisa bergabung di classroom karena tidak memiliki fasilitas. Akan tetapi sangat berbeda dengan siswa kelas 7, dari 3 kelas yang saya ampu tidak sampai 50% yang bergabung di classroom.

Minggu pertama saya mengira mereka masih kebingungan karena belum terbiasa. Sambil berjalan sudah memasuki minggu ketiga tidak terdapat perubahan yang cukup signifikan akhirnya saya berinisiatif untuk siswa kelas 7 pembelajaran Informatika saya laksanakan melalui WA Group. Dalam membuat WA Group karena di kelas 7 saya hanya mengajar 3 kelas ada 104 siswa yang saya ampu akhirnya 3 kelas tersebut saya satukan di dalam group yang bernama Informatika VIIF,VIIG,VIIH. Dalam minggu pertama yang bergabung di WA Group hanya sekitar 60 orang. Saya cukup kesulitan karena masih ada 65 orang yang belum masuk ke dalam group. Minggu kedua hingga kini sampai tengah semester yang bergabung di group mapel yang saya ampu baru sekitar 85 orang dan masih ada 19 siswa yang belum bergabung.

Saya pun awalnya berfokus kepada siswa yang bergabung di WA Group Saya mulai pelajaran ketika saya mengucapkan salam yang membalas salam hanya 7-10 orang siswa saja. Saya mengirim link materi yang telah saya buat di dalam blog. Saya arahkan mereka untuk membaca dan mengerjakan tugas. Waktu yang saya berikan cukup panjang 3-4 hari.  Setelah waktu pengerjaan berakhir saya mengecek siswa yang mengerjakan tugas. Hasilnya masih banyak siswa yang belum mengerjakan, dari 85 siswa yang mengerjakan hanya 40 siswa. Selebihnya ada yang tidak aktif WA nya, ada yang belum punya paket dan sebagainya.

Pengalaman unik yang saya rasakan ketika saya memberi ulangan harian menggunakan Google Form. Pada saat itu ada salah satu siswa mengatakan jika ia tidak bisa mengklik tombol kirim. Saya mengarahkan agar ia memperhatikan dengan teliti apakah masih ada yang belum ia isi di dalam form. Ternyata benar no absen belum diisi. Siswanya pun bertanya kepada saya berapa no absennya. Saya mencari nama siswa tersebut di dalam daftar absensi siawa akan tetapi tidak ketemu. Sudah berulang kali saya mencari  namanya di absen tetap saja tidak ketemu. Akhirnya saya bertanya kepadanya

“Sekolah di mana Geg?” sebutan untuk anak perempuan di Bali

“Sekolah SD nya Bu?” balasnya

“Nggak, kamu SMP nya di mana?”

Mungkin ia cukup kebingungan pada saat itu, mengapa ia di tanya SMPnya di mana padahal dia sudah menjadi murid saya sendiri.

“SMP 2 Bu” jawabnya

Hal itu untuk meyakinkan saya jika dia benar-benar siswa yang saya ampu karena belum pernah bertemu dan nama tidak saya temukan di daftar hadir. Setelah lebih teliti ternyata benar dia adalah murid saya.

Di lain waktu peristiwa yang unik terjadi lagi ketika saya memberikan soal di quizzis. Dari 85 siswa yang berada di group hanya 40 siswa yang bergabung dan mengerjakan kuis. Sebelum di mulai sudah berulang kali saya ingatkan kepada mereka jika kuis ini akan berlangsung cuma sebentar. 40 siswa bergabung karena sudah menunggu hampir 30 menit akhirnya kuis saya mulai. Setelah selesai pukul 9, ada beberapa siswa yang bertanya mengapa mereka tidak bisa mengikuti kuis. Saya pun menjelaskan jika kuisnya sudah di tutup.

Mereka merasa tidak diberi kesempatan. Saya pun membuka kembali kesempatan kepada siswa yang belum mengikuti keesokan harinya. Sudah saya ingatkan kuis dilaksanakan pukul 8. Akhirnya ada sekitar 30 siswa yang mengikuti kuis. Setelah kuis berakhir  kembali  ada siswa yang bertanya mengapa ia tidak bisa ikut kuis. Hal-hal seperti itu tidak terjadi sekali atau dua kali saja, jika ditanya mengapa mereka baru membuka HP, alasan baru mempunyai paket membuat saya tidak bisa berkata apa pun.

Tentu saja hal ini membuat saya sebagai guru menjadi kesulitan untuk memberi nilai kepada siswa, belum lagi 20 siswa yang masih belum bergabung di group. Permasalahan-permasalahan ini kami diskusikan bersama-sama melalui rapat dewan guru. Setelah mendapat data, siswa yang belum memiliki HP ada sekitar 35 orang. Jadi dalam keluarganya tidak memiliki HP sama sekali dan terdapat 15 siswa yang mengandalkan HP orang tuanya dan 4 HP bersama saudaranya dan 55 siswa yang No dinyatakan tidak aktif. Selain itu ada siswa yang memiliki HP tapi terkendala oleh sinyal.

Akhirnya sekolah pun memiliki program Guru Kunjung dan Klinik Sekolah. Di mana guru kunjung di lakukan untuk mengunjungi siswa yang tidak memiliki fasilitas dan yang kesulitan sinyal dan guru yang mengunjungi adalah guru di bawah usia 40 tahun yang telah melakukan rapid test dan memiliki surat tugas. Sedangkan Klinik Sekolah untuk melayani siswa yang tidak memiliki fasilitas dan kesulitan sinyal dan guru yang melayani adalah guru yang berusia di atas 40 tahun.

Program guru kunjung dan klinik sekolah cukup membantu siswa di dalam mendapatkan hak belajar. Akan tetapi program itu pun tidak berjalan lama, baru berjalan 3 minggu kembali semua harus BDR karena zona Kabupaten yang selalu berubah-ubah warna yang kini menjadi zona merah.

Demikianlah berbagi kisah saya tentang pengalaman mengajar saya di masa new normal. Saya merasakan pembelajaran BDR masih sulit untuk efektif apalagi menyenangkan. Akan tetapi setidaknya kami sebagai guru sudah berusaha sesuai kemampuan kami untuk melaksanakan kewajiban kami dan memberikan hak kepada siswa agar hak belajar siswa tetap terpenuhi. Semoga pandemi segera berlalu agar semua dapat kembali berjalan seperti sedia kala.

#WritingCompetition #NewNormalTeachingExperience

Comments (2)

  1. Selamat Pagi Ibu 🙂
    terima kasih atas keikutsertaan Ibu di Guraru Writing Competition 2020.

    Diatas berbagai macam faktor kendala yang tidak bisa dipungkiri saat ini, Semangat Ibu dan rekan guru lainnya untuk tetap memberikan yang terbaik untuk anak murid sangat patut diapresiasi, dan memberikan kunjungan bagi murid-murid lainnya. Kami berharap beberapa #sharing di Guraru yang serupa bisa memberikan referensi yang lebih baik untuk menunjang keefektifan proses belajar-mengajar bagi Ibu.

    Semangat terus Ibu! dan sehat selalu 🙂

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar