6

Legenda Karang Beureum (0)

Tantri January 5, 2021

Pada suatu masa daerah Lebak Selatan mengalami masa-masa kejayaan. Pada saat itu wilayah tersebut dipimpin oleh seorang yang bernama Ancala Baswara. Dia bergelar Sunan Sawarna. Gelar itu pemberian dari gurunya,
Sunan Bonang. Sunan Sawarna berguru selama dua puluh tahun lamanya Sunan Sawarna berguru kepada Sunan Bonang.


Sunan Sawarna memiliki dua putera. Mereka bernama Rupasani dan Risangdaru. Saat mereka beranjak dewasa, Sunan Sawarna
menyuruh kedua anaknya merantau. Merantau sangat penting untuk membekali mereka pengalaman dan ilmu kehidupan.
“Pergilah mengarungi dunia, anak-anakku.


Supaya kalian bisa melihat luasnya dunia. Tuntutlah ilmu sampai kehidupan yang membawa kebahagiaan dunia dan akhirat”
pesannya pada kedua anaknya.


Kedua anaknya mengangguk dalam- dalam. Risangdaru mengingat betul pesan ayahnya. Sedikit terbayang bagaimana beratnya kehidupan di perantauan. Selama ini dia hidup serba berkecukupan di kampungnya.
Namun di negeri orang, belum tentu tersedia semua kebutuhannya. Namun hari Risangdaru mantap. Pasti akan ada jalan bagi siapapun
yang berusaha mencari ilmu.


Setelah pamitan, Rupasani bertolak ke pelabuhan Sunda Kelapa. Sementara, Risangdaru bertolak ke daerah timur Pulau
Jawa timur.


Pada masa itu pelabuhan Sunda Kelapa banyak disinggahi kapal dagang. Di sana, Risangdaru belajar perniagaan. Dalam waktu
singkat, Rupasani memiliki kemampuan berdagang yang mumpuni.

Namun, Rupasani pun tidak takut. Keduanya pun sering kali berseberangan. Perseteruan itu berlangsung hingga bertahun-tahun.
Akan halnya Risangdaru, dia bermaksud mengikuti jejak ayahnya berguru kepada Sunan Bonang di Tuban. Di sana Risangdaru tidak langsung belajar agama. Dia diserahi tugas mengurus taman padepokan.

Pekerjaan itu dijalaninya dengan ikhlas. Meskipun dia seorang anak pembesar di daerahnya, tidak ada sedikitpun memandang rendah pekerjaan itu. Lima tahun lamanya pekerjaan itu dilakoninya.
Melihat pengabdian yang tulus, Sunan Bonang memberikan hadiah. Risangdaru diajar langsung oleh sang sunan. Risangdaru ditempa
dengan ilmu agama, kebatinan, kanuragan, dan kepemimpinan. Risangdaru cepat menguasai


Rupasani banyak membeli hasil alam dari penduduk dan menjualnya kepada saudagar dari bangsa lain. Sayangnya, kehidupan pelabuhan yang keras juga membentuk watak keras juga. Dalam berdagang, Rupasani selalu
mementingkan untung belaka. Demi meraih keuntungan, dia tidak segan melakukan banyak cara.


Seperti memaksa petani Banten Selatanuntuk menjual hasil alamnya dengan harga murah. Tidak jarang, dia melibatkan jawara untuk memaksa dan menakut-nakuti penduduk.
Para penduduk pun tidak ada pilihan lain. Mereka mengadu pada Sunan Sawarna.

ilmu-ilmu itu. Dia pun semakin cerdas dan matang. Kebijaksanaannya mewarisi guru dan ayahnya. Tidak lama kemudian, Risangdaru
menjadi murid kesayangan Sunan Bonang.


Risangdaru sering menjadi pengganti sang Sunan mengajar di padepokan atau tempat lainnya. Sunan Sawarna semakin tua. Dia merasa perlu segera menggantikan kepemimpinan kepada anaknya. Seharusnya, kepemimpinan itu jatuh kepada Rupasani.

Namun memandang perangai Rupasani, Sunan Sawarna tentang tidak mau memberikankepemimpinan itu kepada Rupasani. Dia khawatir Rupasani menghianati amanah kepemimpinan. Maka dia berharap
Risangdaru-lah yang menggantikannya.

Comments (6)

  1. wah ternyata legenda dari Lebak Selatan yah ….legenda ini sangat cocok untuk dibuatkan filmnya sehingga bisa ditonton dengan baik. teringat dengan film-film 90’an yang menampilkan film-film laga legenda Indonesia…

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar