4

Legenda Karang Beureum (3) (0)

Tantri January 5, 2021

Rupasani mulai menyerang. Risangdaru menghindar dengan gerakan perlahan. Gerakan-gerakan Risangdaru jelas pelan tapi teratur. Namun kekuatan pukulan tangan mampu menghancurkan batu karang. Beberapa jurus berlalu. Sampai saat itu Rupasani belum mampu mendesak adik kandungnya itu. Jangankan mampu merobohkan, menyentuhnya saja bukan hal yang mudah. Bahkan pada satu kesempatan, dorongan tangan Risangdaru tepat di dadanya membuatnya terjungkal hebat.

 Amarah Rupasani makin terbakar. Jika mau, Risangdaru sudah sedari tadi mengalahkan kakaknya. Kemampuan ilmu Risangdaru sebetulnya beberapa tingkat di atas Rupasani. Namun dia masih menahan tangannya untuk melukai atau mengalahkan  orang yang di waktu kecilnya bermain bersama. Saat itu, para anak buah Rupasani telah menjalankan aksinya. Melemparkan racun asap kecubung biru yang dapat menyesakkan jalannya pernapasan. Mengaburkan pandangan mata. Hal ini mempengaruhi kondisi Risangdaru. Berbeda dengan Rupasani yang telah menyiapkan penawarannya. Rupasani menghujani Risangdaru dengan serangan. Pukulan dan tendangan silih berganti mengarah titik-titik berbahaya Risangdaru. Meskipun kali ini konsentrasi berkurang, sejauh ini Risangdaru masih mampu berkelit dan menghindar. Di tengah serbuan kali ini, Rupasani mencabut kerisnya.

Dan itulah pantangan bagi Risangdaru. Dengan hanya didekatkan, cukup  membuat pecah pikiran Risangdaru. Pandangannya perlahan mengabur, tenaganya sedikit demi sedikit terkurang. Terkejut Risangdaru mendapati perubahan ini. Sempat pula dia melihat Rupasani mengambil keris itu. Rupanya itulah muasalnya. Risangdaru pun segera tersadar. Hanya tinggal waktu dia akan dikalahkan. Maka dia merasa perlu menyelesaikan segera pertempuran itu. Nahas, Rupasani lebih cepat memanfaatkan kondisi. Dia terus mendesak dan menyerang. Bahkan keris berlapiskan emas itu berhasil mengoyak lengan kanan Risangdaru. Hanya helaan napas kemudian keris itu ganti mengoyak lambungnya. Mengamuklah Risangdaru bagai singa terluka. Puncaknya dikeluarkanlah ilmu Segara Biru yang menjadi jurus pamungkasnya.

Terasalah bagi Rupasani dorongan datang bergelombang-gelombang. Tubuhnya terdorong ke belakang. Sekuat apapun dikerahkan tenaganya, tak mampu menahan gempuran gelombang itu. Rupasani terpental jauh ke belakang. Tubuhnya berdebam menghantam pasir putih. Darah tersembur dari mulutnya. Rupasani menderita luka dalam parah. Akan lain halnya Risangdaru, saat ini dia menahan perih luka yang mengoyak lengan kanannya. Lebih perih lagi hatinya.

Bingung dari mana kakak kandungnya itu mengetahui kelemahannya. Kakaknya mengalahkan dengan cara licik. Pasti ada yang main belakang. Membocorkan kelemahannya pada sang  kakak. Itu pula yang membuat kekuatannya hilang. Bahkan kekebalannya musnah. Bisa saja Risangdaru menghabisi napas Rupasani yang saat ini tidak berdaya. Namun itu urung dilakukannya.

Dengan penuh kemarahan, Risangdaru berlari dari tempat itu. Dengan tenaga yang tersisa dia memaksa tubuhnya untuk terus berlari. Hingga beberapa lamanya dia kehabisan tenaga, sampailah dia di gugusan batu karang di pantai. Tubuhnya terjerembab. Darah semakin deras menetes. Pakaiannya berubah merah. Dia hampir kehabisan darah. Pada saat matanya akan tertutup itulah dia menyaksikan sebuah keanehan. Tiba-tiba serombongan kelelawar berputar-putar di atas tubuhnya. Kelelawar itu berasal dari Gua Lalay, tak jauh dari pantai pasir putih.

Mata Risangdaru tertutup sempurna saat kelelawar itu menukik kearahnya. Risangdaru tak mampu menghindar. Dia tak sadarkan diri. Tidak tahu berapa lamanya, saat Risangdaru sadar dia mendapati dirinya tergolek di atas karang yang saat ini berubah merah. Terjadilah sebuah keanehan. Warna  merah darah di karang itu tidak hilang. Karang itu tetap berwarna merah. Kelak karang itu dikenal sebagai Karang Beureum. Risangdaru merasakan tubuhnya lebih segar. Tenaganya pulih. Lukanya pun tak lagi mengalirkan darah. Kekuatannya telah kembali. Namun demikian, Risangdaru tak berniat pulang. Hidupnya dihabiskan di sana. Dengan keahliannya, dia bercocok tanam di hutan sekitar pantai. Menanam apa saja, memanfaatkan hasil hutan untuk kehidupannya. Sementara itu, Rupasani terselamatkan hidupnya. Para anak buahnya membawa pulang Rupasani. Dia di rawat dan diobati. Memang dia sembuh. Namun kedua kakinya lumpuh. Dia menjalani hari-harinya yang jauh berbeda dari kebiasaan sebelumnya. Kini tidak ada lagi nafsu menguasai kekayaan alam dari

Comments (4)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar