6

Langkah-Langkah Menulis Best Practice (0)

oloan December 9, 2020

Banyak muncul pertanyaan seperti ini β€œHal apa yang pertama kali harus dilakukan seseorang ketika hendak menulis best practice?” Jawabannya singkat juga, Refleksi diri. Benar. Ketika hendak menulis best practice, hal pertama yang harus dilakukan seseorang adalah melakukan refleksi diri. Ia harus merefleksi apa saja yang sudah ia lakukan dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang guru, kepala sekolah, pengawas, atau tenaga kependidikan lainnya.

Dalam tindakan refleksi itu, setidaknya ia harus menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini.

1. Kegiatan apa saja yang telah saya lakukan dalam memenuhi tugas saya, baik tugas pokok maupun tugas tambahan?

Agar Anda dapat memilih kegiatan yang benar-benar terbaik, hal yang harus Anda lakukan adaalh mendokumentasikan kegiatan-kegiatan yang pernah Anda lakukan. Karena itu, biasakan mendokumentasikan (tulis, foto, atau video) setiap kegiatan yang Anda lakukan. Kegiatan disini tidak hanya tugas pokok, tetapi dapat juga tugas tambahan. Siapa tau kelak dapat Anda manfaatkan untuk menulis best practice atau lainnya.

Sebaiknya, refleksi pelaksanaan tugas itu dilakukan maksimal 5 tahun surut. Tujuannya adalah agar kegiatan yang kita laporkan sebagai best practice itu masih relevan dengan regulasi yang berlaku saat ini.

2. Bagaimana kualitas hasil pekerjaan saya dilihat dari ketercapaian tujuan?

Untuk menjawab pertanyaan ini kita dapat menentukan keberhasilan dari ketercapaian tujuan. Kita dapat mengklasifikasikan mulai dari kurang berhasil, berhasil, hingga sangat berhasil. Dikategorikan kurang berhasil bila tidak dapat mencapai target yang telah ditentukan.

Dikatakan masuk kategori sangat berhasil bila selain mampu mencapai target atau tujuan yang telah ditetapkan, juga terdapat dampak positif lain di luar ekspektasi (luar biasa).

3. Diantara pencapaian tersebut, manakah yang hasilnya paling baik?

Berdasarkan jawaban pertanyaan nomor satu, kita pilih yang hasilnya paling bagus dan dampaknya paling besar. Bisa jadi, seorang guru, kepala sekolah, atau pengawas memiliki banyak pengalaman baik dalam melaksanakan tugasnya. Dari tiap tugas ia dapat memilih mana yang terbaik. Misalnya, bagi seorang guru, ia dapat memilih pembelajaran materi apa dengan metode, model, pendekatan, atau media apa yang ia yakini sebagai pembelajaran terbaik yang ia lakukan.

Apakah boleh mengangkat masalah nonpembelajaran? Misalnya terkait penilaian. Tentu saja bisa. Sesuai dengan Permendikbud Nomor 15 Tahun 2018, hal ini didasari pada tugas pokok guru yang meliputi mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Misalnya dalam hal penilaian, ia juga dapat memilih mana pelaksanaan penilaian terbaik yang pernah ia lakukan. Di masa pandemi Covid-19, misalnya, seorang guru menerapkan pembelajaran yang berbeda. Tidak hanya penilaian dengan ujian tulis pilihan ganda atau esai singkat, ternyata ia menggunakan penilaian berbasis project.

Pada awalnya, mungkin si guru melakukannya dengan coba-coba, tetapi kemudian menemukan bahwa cara penilaian tersebut sangat tepat untuk mengevaluasi pengetahuan dan keterampilan siswa. Karena itu ia meyakini bahwa yang ia lakukan adalah praktik penilaian terbaiknya.

Semoga bermanfaat…

Comments (6)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar