0

KUINGIN KAU BAHAGIA (0)

Dyna Rukmi Harjanti Soeharto April 5, 2021

            Menjadi orang tua adalah pengalaman luar biasa bagi saya. Meskipun sudah berkali-kali mengikuti pelatihan maupun seminar parenting dan berusaha mengaplikasikannya, tetapi praktek di lapangan tidaklah semudah berteori. Ini semua karena anak bukanlah barang yang bisa diperlakukan seenaknya. Dia adalah titipan Allah yang diciptakan dengan sifat dan keunikannya masing-masing. Trial and error dalam parenting itu hal yang wajar, asalkan tidak kebablasan. Salah satunya adalah saat mendampingi anak belajar.

            Saya punya pengalaman yang luar biasa berkesan dalam mendampingi anak pertama saya belajar. Pengalaman yang membuat saya sendiri juga belajar bagaimana menjadi orang tua yang baik dan memahami anak dengan berbagai potensinya.

            Saya seorang guru di sebuah SDIT yang pada tahun 2012 itu sedang mempersiapkan diri untuk meluluskan siswa pertama kalinya. Meskipun saya tinggal satu kota dengan mertua dan mertua juga tidak keberatan ‘momong’ anak saya, tetapi saya dan suami sudah berkomitmen untuk tidak merepotkan orang tua dalam hal pengasuhan anak. Maka dengan izin kepala sekolah, anak pertama saya saya bawa mengajar, karena yayasan kami belum memiliki tempat penitipan anak. Setelah Azka, anak pertama saya, berumur 3 tahun, TKIT yang satu yayasan dan kebetulan dekat dengan rumah membuka program Kelompok Bermain. Maka kami putuskan untuk mendaftarkan Azka ke KBIT tersebut. Waktu itu pertimbangan kami adalah agar Azka ada kegiatan di pagi hari dan minimal ada ilmu yang bisa dia dapatkan dari sekolahnya. Harapan saya potensi Azka bisa berkembang dengan sekolah, meskipun saya juga tidak berharap terlalu tinggi  karena umurnya baru 3 tahun.

            Tetapi kenyataan di lapangan tidak sesederhana anggapan saya. Jadi di sekolah Azka sudah diperkenalkan belajar membaca dengan metode “Cantol Roudhoh.” Setiap anak mendapatkan 1 paket pembelajaran berupa CD pembelajaran dan lagu, buku menulis, dan kartu baca. Buku menulis ditinggal di sekolah, CD pembelajaran dibawa pulang untuk belajar di rumah, sedangkan kartu baca dibagi sesuai kemampuan anaknya. Diawali dari kartu ‘baju’ yang isinya ‘ba bi bu be bo’ dan kata-kata yang dibentuk dari suku-suku kata tersebut. Jika anak sudah mampu membaca semua kata yang ada dalam kartu dia akan lanjut ke kartu berikutnya yaitu ‘cabe’, jika belum mampu membaca maka dia akan terus mengulangi satu kartu itu sampai mampu. Begitu seterusnya sampai dia mampu membaca kartu terakhir yaitu kartu ‘nyamuk’ atau ‘nya nyi nyu nye nyo’.

            Setiap Azka pulang sekolah saya tidak pernah mengulangi pelajaran membacanya dari sekolah, saya tidak ingin membebaninya yang masih kecil itu untuk harus bisa membaca. Saya hanya mengulangi do’a-do’a harian dan hafalan Al Qur’annya saja. Saya merasa belum perlu untuk menambah jam belajar membacanya di rumah. Saya ingin dia merasa bahagia di sekolah dan di rumah, serta menganggap sekolah adalah tempat yang menyenangkan bagi dia untuk bermain dan bersosialisasi.

            Masalah mulai muncul ketika sampai satu bulan kemudian Azka belum lanjut ke kartu ‘cabe’, masih berkutat di kartu ‘baju’ saja. Sampai kartu yang semula mulus dan rapi itu jadi ‘lecek’ karena terlalu sering dipakai. Dalam satu kelas kelompok bermain yang isinya 6 anak itu hanya dia saja yang tertinggal jauh, teman-temannya semua sudah lanjut ke kartu-kartu berikutnya. Beberapa kali guru wali kelasnya menyampaikan bahwa Azka ketinggalan jauh dari teman-temannya. Karena kami satu yayasan dan sudah kenal baik, maka saya sampaikan kepada gurunya bahwa saya tidak punya target terhadap kemampuan membaca Azka. Beliau memaklumi, hanya menyarankan bahwa saya harus fotokopi lagi kartu Azka, karena kartunya sudah ‘lecek’ dan hamper sobek karena terlalu sering digunakan. Bukan saya tidak mau mengajari Azka di rumah, tetapi saya berpikir jika saya masih harus menggemblengnya dengan pelajaran membaca itu belum sesuai dengan umurnya yang baru 3 tahun. Anak seumur dia seharusnya masih lebih banyak bermain daripada belajar.

            Seperti yang saya sampaikan di awal bahwa menjadi orang tua itu juga merupakan perjalanan belajar yang tidak ada habisnya. Setiap saat ada hal baru dari anak-anak yang bisa kita pelajari. Begitu juga saya saat menghadapi Azka. Saya ingin Azka bisa membaca tanpa harus merasa terbebani. Saya tidak ingin pengalaman saya di masa kecil dulu dialami oleh anak saya. Dulu bapak saya selalu menekan saya dalam belajar. Belajar harus di meja tulis menghadapi buku dan kertas dengan dahi berkerut karena takut. Belum lagi jika mendapat nilai jelek dan ranking lebih dari 2, pasti akan ada sidang sepulang sekolah.

            Saya tidak ingin Azka mengalami apa yang saya rasakan dulu. Saya ingin mendampingi dia menemukan potensi terbaiknya tanpa harus merasa tertekan. Dari sejak lahir sampai usia 3 tahun, dalam interaksi keseharian saya yakin bahwa Azka bukanlah anak yang bodoh dan lamban dalam belajar. Pertanyaan-pertanyaan ajaibnya sehari-hari menunjukkan bahwa dia adalah anak yang cerdas. Mengapa dia belum bisa membaca? Mungkin karena kami para orang tua di sekitarnya belum menemukan cara yang pas dalam mengajari dia membaca.

            Maka dimulailah perjuangan saya mencari cara yang pas dalam mengajari Azka membaca, tentunya dengan mempertimbangkan kenyamanan dirinya. Buku-buku belajar membaca dengan berbagai  metode saya beli dan berikan pada Azka, tetapi belum juga menarik perhatian dan menambah kemampuannya. Perjuangan mulai menemukan titik terang justru dari Azka sendiri. Saat itu di televisi ada acara anak-anak di pagi hari yang berjudul “Monster ABC” yang tayang setiap hari pukul 05.30-06.00. Jadi memang di jam tersebut Azka dan adiknya yang baru berumur 1 tahun saya beri kesempatan menonton televisi sambil menunggu saya selesai mempersiapkan keperluan mereka. Jam 6 mereka akan mulai mandi dan bersiap-siap ke sekolah. Film kartun “Monster ABC” itu mengisahkan tentang petualangan huruf-huruf dan kata yang dibentuk darinya. Azka sangat menggemari film tersebut. Dia ikut bernyanyi dan menirukan tingkah huruf-huruf yang ada di sana, bahkan ikut menghafalkan kata-kata dari film itu. Dan sejak itu jika menemukan tulisan yang besar dan menarik dia akan membaca dengan keras, dan tepat. Dari situ saya mulai memberikan gambar-gambar yang ada tulisannya pada Azka, dan Alhamdulillah dia bisa membacanya. Bahkan Azka sendiri yang meminta kepada saya untuk dibelikan buku cerita.

            Di sekolah juga demikian. Sejak kenal “Monster ABC” kemampuan membaca Azka di sekolah mengalami kemajuan pesat, satu kartu baca bisa diselesaikannya dalam waktu sekitar satu sampai dua pekan saja. Target sekolah bisa dia lampaui dengan mulus. Tak terkira rasa syukur saya kepada Allah atas kemajuan yang dialami Azka. Dia telah menemukan jalannya sendiri untuk mengembangkan potensinya. Dan dia melakukannya tanpa tekanan sama sekali, dan pada akhirnya dia suka membaca dengan perasaan bahagia.

            Sejatinya setiap anak dilahirkan dengan membawa potensinya masing-masing, kita sebagai orangtuanyalah yang harus mendampingi dengan sabar agar potensinya tergali. Selain itu juga dibutuhkan keteguhan hati dari orang tua dalam mendidik anak, agar tidak terpengaruh lingkungan sekitar.

            Dalam kasus Azka, saya harus teguh menghadapi pertanyaan dari para guru di sekolah Azka dan juga rekan-rekan saya sendiri di sekolah, karena kebetulan anak salah seorang rekan guru di SDIT adalah teman sekelas Azka dan kemampuan membacanya sudah melampaui dia. Saya harus meyakinkan diri saya dan suami bahwa saya tidak boleh memaksakan kehendak kepada Azka, apalagi usianya masih 3 tahun, perjalanannya masih panjang di sekolah. Saya tidak ingin dia merasa tertekan saat itu yang akan mempengaruhi perjalanan sekolahnya di kemudian hari. Dan yang paling penting adalah yakin dan memasrahkan segala urusan kepada Allah. Yakin, inilah kuncinya. Yakin kepada Allah, yakin atas jalan yang kita pilih, dan yakin terhadap potensi anak kita.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar