3

Kredit Oemar Bakri – 4 (0)

Darwis Kadir December 23, 2020

Terdengar pintu diketuk. Ibu kemudian mengira ayah pulang dari sekolah. Dibukanya pintu seorang anak muda mengabarkan ayah sementara di Puskesmas menjalani perawatan. Mata ayah bengkak dan merah serta pada keningnya benjol akibat kena bogem mentah. Ibu menjerit histeris memanggil namaku. Aku tergopoh-gopoh kaget bercampur emosi setelah mendengar kabar bahwa ayah dipaksa menyerahkan motor itu. Terjadi tarik menarik dan mereka tak sabar langsung menghakimi ayah dengan pukulan.
Ayah kini terbaring lemah masih dengan baju dinas khakinya menatap dengan sendu pada kami. Pelakunya salah seorang dari mereka yang datang ke rumah dan mau mengambil paksa motor itu. Seorang lagi berperawakan tinggi besar dengan cukur cepak. Mereka berhasil membawa kabur motor ayah setelah mereka menghajar ayah dengan beberapa pukulan. Ayah memang tak mau menyerahkan motor itu dan mereka rupanya habis kesabaran.Untungnya teman ayah lewat dan meminta mereka berhenti.
Adik ayah yang paling muda mendengar berita datang dan kemudian menganjurkan melaporkan perbuatan mereka. Keluarga ayah kemudian berunding dan hari itu meminta visum dan melaporkan peristiwa itu ke polisi.Tak lama berselang datang teman-teman ayah bersama dengan bapak kepala sekolah. Mereka pun menganjurkan hal yang sama dan berencana memberikan bantuan hukum dengan melaporkan peristiwa pemukulan kepada pengurus PGRI kecamatan dan kabupaten.
Berita pemukulan seorang guru sekolah dasar kini jadi viral. Kepala dinas pun besoknya langsung menjenguk dan berjanji akan menyelesaikan masalah pemukulan ayah. Ini katanya sudah masuk dalam ranah kriminal penganiayaan pada guru yang sementara masih bertugas. Kepala dinas berjanji akan memberikan bantuan hukum dengan meminta LKBH Gurindo turun tangan sekiranya masalah ayah ini mengalami jalan buntu.
Polisi yang menangani masalah ini kemudian mencari para pelaku pengeroyokan. Hanya butuh beberapa jam pelaku dapat ditangkap. Sementara di tahan di sebuah ruangan sempit dalam penjagaan polisi untuk mencegah kemarahan keluarga ayah. Motor ayah pun diparkir di halaman kantor polisi sebagai barang bukti. Dalam proses pengusutan dan penyelidikan kasus pemukulan ini,pihak agen tunggal pemegang merk motor JRG melaporkan ayah juga ke polisi. Ayah dianggap tak menepati atas kesepakatan yang telah ditanda tangani. Ayah pun bersikukuh bahwa itu sudah menjadi kesepakatan dalam perjanjian bahwa masa cicilan motor itu 10 tahun dengan cicilan tetap sampai lunas.
Pihak Atpm kembali berkilah bahwa benar kesepakatan itu,namun ada point-point yang senantiasa akan berubah. Jika terjadi perubahan itu maka setiap orang yang telah terikat perjanjian pembelian itu akan tunduk pada aturan baru. Seorang teman guru ayah pun kemudian mengatakan bahwa kasus seperti ini kerap terjadi. Pengalamannya menjadi nasabah pada sebuah bank BUMN berbuah pahit. Katanya dia pernah meminjam sejumlah uang. Pembayaran lancar namun ketika dia berencana hendak menebusnya. Dia kaget aturan penebusan yang berlaku saat itu berubah. Dia harus membayar lebih untuk bunga penebusan beberapa bulan yang dianggapnya sangat memberatkan. Harusnya cuma kena penalty 3 x bunga. Dia komplain namun pihak bank itu menjelaskan bahwa aturan itu berlaku surut. Akhirnya dia membatalkan rencananya itu karena merasa tak mampu menebusnya.
Pada kasus ayah dengan aptm dan leasing itu,point lemahnya perjanjian itu ketika ada pernyataan paling bawah bahwa ayah akan tunduk pada setiap kebijakan dan aturan baru yang ada. Tanda tangan ayah terbubuhkan bersama materai 6000 disitu.
Pgri kabupaten pun mengambil langkah cepat dengan mencari solusi dengan pihak atpm. Rupanya mereka bersikeras tak dapat mengubah kebijakan itu. Apalagi beberapa guru yang mencicil ikut aturan baru tersebut dan sampai sekarang tak ada masalah. Semuanya menerima kecuali ayah. Beberapa teman guru yang prihatin dengan kasus ayah pun kemudian sepakat membantu ayah. Hasil keprihatinan dan patungan teman-teman seprofesi itu ditambah dengan bantuan orang tua siswa,motor itu dapat dilunasi cicilannya lebih cepat.
“Pak Arsyad…ada berita gembira !” seorang teman ayah muncul di pintu.
“Eh…masuk pak Wisnu, kabar apa ?”
Sementara aku dan ibu menatap wajah teman ayah berharap berita gembira itu.
“Motor bapak sudah dilunasi oleh teman-teman,jadi bapak tak ada lagi sangkut pautnya dengan aptm dan leasing itu. BPKBnya sudah bisa di ambil besok.”
“Syukurlah…” ayah dan ibu pun hampir bersamaan mengucapkan kata itu.
Aku kemudian teringat dengan pelaku pemukulan bapak.
“Bagaimana dengan mereka yang telah memukul ayah ?”
“Mereka tetap akan di proses sesuai dengan perbuatan mereka. Pihak atpm dan leasing pun berlepas tangan atas perbuatan kriminal itu.”
Besoknya kepala dinas pendidikan daerah,ketua Pgri kabupaten dan kecamatan bersama dengan seorang polisi menjenguk ayah. Dari polisi itu dipastikan kasus ini akan segera disidangkan. Ayah hanya mendesah. Aku tahu ayah sebenarnya sudah memaafkan para pelaku itu. Kemarin ayah sempat berbicara sama ibu dan ibu pun mendukung agar masalah ini tidak berlarut-larut. Hanya akan menghabiskan energi dan merusak silaturrahmi katanya.
Bukannya aku tak setuju dan tak mau mengikuti saran ibu,cuma pelaku itu harus diberikan efek jera agar tak sewenang-wenang berbuat kriminal. Aku juga tak mau pengorbanan teman-teman ayah,kepala dinas dan pgri sepertinya sia-sia.Mendengar perkataanku ini,ayah sekali lagi mendesah dan ibu hanya terdiam.
Telepon monokrom ayan berdering. Abang Muis rupanya.
“Bagaimana kabar ayah dek ?”
“ Alhamdulillah sudah baikan !”
“Pelakunya bagaimana ?”
“Sudah ditahan dan akan diproses, ucapku lega.
Terdengar ibu beristiqfar.

Tamat.

About Author

Darwis Kadir

Seorang guru biasa yang ditakdirkan mengabdi di daerah pelosok negeri. Pengabdian yang biasa saja dari kacamata orang, namun bagi kami itu merupakan pengabdian yang luar biasa. Salam kenal.

View all posts by Darwis Kadir →

Comments (3)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar