2

Kredit Oemar Bakri – 3 (0)

Darwis Kadir December 23, 2020

Keyakinan itu kemudian terbukti besoknya,aku tak sengaja mencuri dengar sepulang dari bermain.
“Ibu tahu bapak perlu kendaraan baru,cuma apa tidak dipikir ulang lagi pak. Kebutuhan anak-anak semakin banyak.”
“Ya..namun setidaknya ini waktu yang tepat,gaji bapak juga naik. Kapan lagi ada promo motor seperti itu.”
Ibu kelihatan mendesah.
“Ya bapak sajalah kalau itu terbaik,bapak kan kepala rumah tangga,bapak juga yang cari uang.”
Ibu mengalah. Menyudahi pembicaraan itu. Tak lama kemudian terdengar bunyi piring berdenting pertanda ibu sedang membereskan piring-piring kotor untuk dicuci.
Satu bulan motor yang ditunggu belum datang. Ternyata peminatnya banyak. Ayah termasuk belakangan mendaftar kemungkinan bulan depan kata sales pemasarannya. Selama itu ayah masih menunggangi si butut. Suatu hari selepas hujan motor ayah tergelincir di selokan pinggir sawah yang cukup dalam. Untungnya ayah tidak tercebur dalam selokan itu. Rangka motor butut itu kemudian patah. Peleknya terlipat nyaris membentuk angka 8. Tak dapat dipergunakan lagi kecuali harus ganti yang baru. Ayah pasrah,secercah pembenaran muncul akan perlunya mencicil motor baru. Ibu kini jadi pendengar setia.Motor butut kini jadi rongsokan.
Pagi itu dengan gagahnya ayah nangkring di atas sepeda motor baru mengkilap,tadi malam baru di antarkan.Warna merah mengkilap dengan tulisan JRG pada dua sisinya. Dengan pelek bintang berwarna hitam berpalang empat. Kini ayah tidak takut lagi dengan kemogokan yang sering melandanya. Sekali starter tangan bunyi mesin kedengaran lembut siap mengantar ayah kemana saja.
Satu tahun pembayaran lancar. Menu makan setiap hari tak banyak berubah. Ibu masih seperti dulu tak banyak bicara. Telepon kakak masih setia menyapa hp berlayar monokrom itu. Besoknya atau lusa ibu akan keluar rumah. Entah kemana.
Memasuki pembayaran tahun kedua,ayah nampak murung. Setelah di desak sama ibu kini tahulah kami penyebabnya. Pembayaran motor dipercepat. Ada perubahan dari kantor pemasaran pemegang atas merk dan leasing tersebut. Dari 10 tahun menjadi maksimal 5 tahun dan pembayaran setiap bulan ikut berubah. Ayah kecewa. Mereka tidak konsisten dengan kesepakatan yang telah dibuat. Padahal menurut ayah alasan waktu yang panjang itulah yang membuatnya tertarik. Setiap bulan ayah hanya mampu membayar seperti di awal tahun pertama. Beberapa kali petugas dari kantor pemasaran pemegang merk bersama dengan leasing yang mereka jalin kerja sama datang ke rumah dengan tujuan menagih. Ayah bergeming dengan alasan tak memiliki uang cukup untuk itu.
Setiap mereka datang ayah pun tetap bersikukuh. Mereka hendak mengambil motor itu namun ayah mengancam akan melaporkan ke polisi dengan alasan pencurian. Mereka pun tak berani melanjutkan niatnya. Mereka pulang dengan tangan hampa. Ibu pun kini selalu mengingatkan ayah agar berhati-hati di jalan. Sepertinya ibu merasa was-was akan keselamatan ayah.

About Author

Darwis Kadir

Seorang guru biasa yang ditakdirkan mengabdi di daerah pelosok negeri. Pengabdian yang biasa saja dari kacamata orang, namun bagi kami itu merupakan pengabdian yang luar biasa. Salam kenal.

View all posts by Darwis Kadir →

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar