4

Kredit Oemar Bakri – 2 (0)

Darwis Kadir December 23, 2020

Pesan itu kemudian tertanam kuat dan aku pun bertekad mengikuti jejak abang.
Kakak perempuan pun kini ikut abang melanjutkan pendidikan pada universitas swasta. Ketidakmampuan kakak menembus perguruan tinggi negeri tak membuat ayah berang. Dengan semangat membaja ayah pun tak tanggung-tanggung menyarankan memilih jurusan yang disukainya pada universitas apa saja di kota. Kakak pun memilih jurusan keperawatan. Kelak dia akan jadi suster pada rumah sakit atau puskesmas dan dokter bagi kami orang-orang yang di rumah.
Tinggallah kami bertiga. Sarapan pagi sebelum ke sekolah dengan ikan teri kering menjadi menu sehari-hari. Kemarin ibu membisikku untuk sabar sisa gaji ayah hanya mampu untuk membeli lauk ikan kering. Dari ibu juga tahu kalau SK PNS ayah sudah tergadai di Bank. Aku jadi maklum betapa kesabaran seorang ibu harus teruji dengan menu ala kadarnya setiap hari. Ibu rumah tangga yang hanya mampu membantu suami di rumah.
Tak terasa kini diriku sudah kelas 6 SD dan tak lama lagi akan mengenakan seragam putih biru.Telepon abang Muis dan kakak Sarah sering berdering pada hp berlayar monokrom itu. Dengan setia dan sabarnya ayah pun menyanggupi setiap permintaan mereka. Dan besoknya aku akan melihat ibu keluar entah ke bank atau kemana.
Menjelang sore ayah baru pulang,masih dengan seragamnya. Dia tak bersama si butut.Aku pun maklum si butut pasti ada di bengkel bang Jagis. Tanpa ditanya ayah lebih dulu mengabari. Dugaaanku tak meleset.
Ayah nampak rapi lengkap dengan baju kebesaran Pgrinya,rupanya hari ini dirgahayu kemerdekaan RI yang 73. Ayah hendak mengikuti upacara di kecamatan. Kali ini dia tak bersama si butut. Seorang temannya datang menjemputnya. Ayah kelihatan berwibawa dengan peci hitam bertengger di kepalanya.
Sepulang dari kota raut wajah ayah kelihatan berseri-seri. Wajah seorang Oemar Bakri yang tahan banting akan kerasnya hidup. Sepertinya ada kegembiraan yang hendak disampaikan pada ibu. Dengan lahap ayah menyantap menu makan siang yang disediakan. Beberapa menit yang lalu ibu keluar katanya ada keperluan dan berpesan agar ayah segera makan dan itu sudah tersedia di atas meja.
Sepulangnya ibu dari luar,ayah pun dengan sukacita mengabarkan kalau pemerintah lewat pidato bapak presiden menaikkan gaji pokok para abdi negara. Tidak tanggung-tanggung kenaikannya 15 % . Berita itu langsung disambut gembira teman-teman ayah. Ibu yang mendengarnya pun bersyukur. Masih ada lagi berita lainnya. Katanya ada pemegang merk motor baru masuk ke Indonesia dan mempromosikan kendaraan itu. Menyasar pada para pegawai negeri. Karena merk baru mereka mencari konsumen dengan syarat kredit yang sangat longgar kerja sama dengan leasing. Merk motor dari negeri tirai bambu. Masa cicilan bisa sampai 10 tahun. Beberapa teman ayah pun tanpa banyak pertimbangan langsung mendaftar. Ayah belum sempat mendaftar untuk minta pendapatnya ibu terlebih dahulu. Kali ini aku melihat ibu terdiam. Aku menduga ibu tak setuju.

About Author

Darwis Kadir

Seorang guru biasa yang ditakdirkan mengabdi di daerah pelosok negeri. Pengabdian yang biasa saja dari kacamata orang, namun bagi kami itu merupakan pengabdian yang luar biasa. Salam kenal.

View all posts by Darwis Kadir →

Comments (4)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar