3

Kredit Oemar Bakri – 1 (0)

Darwis Kadir December 23, 2020

( Cerpen )

Aku menatap punggung ayah yang semakin menjauh. Asap motor bututnya meninggalkan bau yang menusuk hidung. Motor bebek tahun 90 – an yang masih terus dirawatnya. Motor yang setia menemaninya dalam menjalankan tugasnya sebagai abdi negara. Bukannya ayah tak mau menggantinya namun keterbatasan penghasilan membuatnya harus membetahkan diri bersamanya. Motor yang terkadang terbatuk-batuk melalui medan terjal berbatu dan penuh dengan pendakian. Sekolah dasar tempatnya mengajar terletak dibalik bukit yang jaraknya 10 km dari pondok kami.
Pernah suatu hari ayah mengikutkanku pada saat kenaikan kelas. Sekolah ramai dengan berbagai makanan yang dibawa siswa dan mereka semua bergembira. Alamat tak lama lagi akan libur. Aku pun turut gembira sebab beberapa telur rebus dan nasi kuning itu berpindah ke perut dan aku kekenyangan. Sepulangnya motor ayah pun mogok. Sejak kakak pertama melanjutkan sekolahnya di kota,kini aku yang selalu menemani ayah kemana pun. Kakak perempuanku kini yang sudah kelas tiga sekolah menengah atas lebih suka menemani ibu dirumah. Dia bernama Sarah.
Suatu sore ayah sedang mencuci motornya,aku yang pulang bermain mendekat dan ikut membantu menyiramkan air dari selang.
“Apa tidak sebaiknya motor ini diganti yah”
Kuajukan pertanyaan demikian untuk menolong menjaganya dari mogok yang sudah beberapa kali dialaminya.
“Maunya sih nak begitu,cuma abang kamu itu sudah kuliah dan sekarang perlu biaya”
“Ayah kan bisa mencicil pada Lasimpada” kusebut nama seorang yang terkenal di kampung kami dengan kesukaannya meminjamkan uang. Cuma dengan sistem berbunga.
“Nantilah nak kalau rezekinya ayah melimpah” aku yang mendengar perkataan ayah sepertinya dia hendak mengakhiri perbincangan tentang kendaraan bututnya itu. Perasaan ini tidak tega kalau setiap saat ayah dengan setia mendorong motornya beberapa kali dalam sebulan. Bengkel bang Jagis telah menjadi langganannya. Bang Jagis pun telah piawai mengobati penyakit si butut hitam itu.
Selepas salat isya kami berkumpul di teras rumah. Beberapa bintang tampaknya enggan menampakkan dirinya. Sejak sore langit kampung mendung dan kemungkinan turun hujan. Beberapa saat lamanya mendung namun hujannya tak kunjung turun juga menyiram bumi. Ayah kemudian membuka pembicaraan,tertuju pada ibu yang sementara melipat beberapa pakaian.
“Tadi abang Muis menelpon bulan ini pembayaran kuliahnya harus segera dibayar,ibu bisa mengambil tabungan di BRI besok ?”. Ibu hanya mengangguk lemah tanda mengiyakan.
Kegigihan ayah untuk menyekolahkan abang dari dulu sudah tertanam. Abang Muis harus bersikukuh mengejar mimpinya walau harus merasakan bangku kuliah di universitas swasta jurusan Teknik. Dari beberapa orang aku kemudian tahu kalau biaya kuliahnya terkadang harus menghabiskan gaji sebulan ayah sebagai seorang guru golongan tiga.
“Pendidikan memang mahal nak,namun dengan pendidikan itu kamu bisa menghargai kedua orang tuamu. Kelak ketika engkau telah jadi manusia berguna maka kamu akan berterima kasih pada orang tuamu. Pendidikan itu penting bagaimana kamu dapat memanusiakan manusia lainnya.”

About Author

Darwis Kadir

Seorang guru biasa yang ditakdirkan mengabdi di daerah pelosok negeri. Pengabdian yang biasa saja dari kacamata orang, namun bagi kami itu merupakan pengabdian yang luar biasa. Salam kenal.

View all posts by Darwis Kadir →

Comments (3)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar