1

KONVENSIONAL KE DIGITAL : PEDOMAN GURU DALAM MENDAYAGUNAKAN TEKNOLOGI PADA PEMBELAJARAN (+3)

Hardi May 28, 2017

Tahukah ibu bapak, sekolah di Indonesia sudah menggunakan tablet pada tahun 60 -an. Cara penggunaannya mirip dengan tablet modern. Tongkat kecil mirip pensil digoreskan pada permukaan segi empat yang bentuknya mirip talenan. Tablet ini digunakan karena buku tulis masih langka.

Walaupun cara penggunaannya mirip, perangkatnya sangat berbeda dengan tablet modern. Tablet yang penulis maksudkan adalah sabak (ada juga yang menyebutnya lei) dan grip. Sabak adalah tempat menulis dan grip adalah pensilnya. Sabak adalah teknologi sederhana yang terbuat dari batu karbon.

SabakSabak alat tulis kuno (gambar diambil dari https://id.wikipedia.org/wiki/Sabak)

Pada tablet modern, data yang ditulis tersimpan dalam memori. Datanya bisa dibaca kembali kapan saja. Sedangkan pada grip, tulisan harus dihapus dengan kain basah agar bisa membuat tulisan baru, Jadi siswa harus menghafalnya. Ini adalah tantangan belajar mengajar di masa lalu saat teknologi pendukung masih terbatas.

Dari gambaran diatas, bisa dibayangkan betapa susahnya belajar saat itu. Karena hanya menggunakan sabak dan grip, bisa dipastikan metode pembelajaran didominasi oleh metode menghafal. Akibatnya, para siswa harus mengingat materi pelajaran sebelum dihapus dari sabak, tidak ada jalan lain mengulang kembali materi selain menghafalnya.

sekolah-jadul-cersilindonesia.wordpress.com_Murid zaman dulu menggunakan sabak
(gambar diambil dari http://centersoal.blogspot.co.id/2015/09/inilah-rupa-sabak-dan-grip-alat-tulis.html)

Dengan demikian, para siswa lebih terlatih menghafal daripada memahami. Padahal kita tahu, keberhasilan belajar adalah ketika siswa memahami dan menguasai materi (konsep), bukan hanya sekadar sanggup mengulang kembali di luar kepala.

Paragraf diatas hanyalah sebagai pembuka dan pengingat bagi kita semua bahwa belajar di masa lalu tidak semudah seperti di zaman modern ini.

Sejak tahun 2010 keatas, teknologi informasi telah membudaya pada masyarakat. Penyebabnya  teknologi sudah terjangkau oleh hampir semua kalangan. Belum lagi penggunaan internet sudah meluas dan bukan barang mahal lagi.

Fenomena ini mulai mengubah cara belajar mengajar disekolah. Para guru mulai melek menggunakan teknologi sebagai media pendukung mengajar. Contoh kecilnya adalah : guru mulai menggunakan laptop dan memproyeksikan materi pelajaran ke layar daripada menulis ulangnya di papan tulis.

Untuk mendayagunakan teknologi pada pembelajaran, penulis ingin membagikan beberapa tips. Penulis berharap tips-tips yang dipaparkan berguna bagi guru sebagai pedoman dalam mendayagunakan teknologi dalam pembelajaran. Berikut tipsnya:

1. Teknologi Digital Harus Dioptimalkan

Dari fungsinya, teknologi haruslah mempermudah kehidupan manusia dan meningkatkan kualitasnya. Buku tulis lebih maju dari sabak karena bisa menyimpan banyak catatan. Oleh sebab itu, buku tulis seharusnya meningkatkan kualitas belajar siswa dari segi pemahaman, karena siswa tidak perlu lagi terfokus untuk menghafal.

Pada kenyataannya, para guru sering tidak mengoptimalkan penggunaan teknologi. Contohnya adalah pengunaan proyektor. Guru menggunakannya tidak lebih sebagai pengganti papan tulis, proyektor digunakan hanya untuk menampilkan gambar statis. Jika begini, apa bedanya proyektor dengan papan tulis.

Untuk menampilkan materi pelajaran, proyektor lebih interaktif daripada papan tulis. Sebab proyektor bisa menampilkan gambar bergerak, sedangkan papan tulis mustahil melakukan itu.

Misalnya pada pelajaran geografi, daripada menggunakan peta statis (semisal format JPEG), guru dianjurkan menggunakan peta dari Google Earth. Belajar peta dengan Google Earth lebih menyenangkan. Guru dan siswa bisa berinteraksi dengan peta buatan Google tersebut karena itu adalah peta yang hidup.

Hidup artinya karena pengguna bisa berinteraksi dengan petanya, semisal memperbesar peta sehingga permukaan bumi bisa dilihat lebih dekat. Pembesaran peta ini tidak mengurangi detail peta, bahkan bisa melihat detail peta pada jarak yang lebih dekat. Misalnya tampilan monas pada ketinggian 20 meter lebih jelas terlihat daripada ketinggian 100 meter.

peta google earthPenggunaan Google Earth untuk belajar peta lebih optimal menggunakan proyektor

Dengan peta Google Earth kita bisa menyusuri sungai-sungai, jalanan kota, bahkan melihat photo permukaan bumi dari angkasa. Intinya penggunaan proyektor lebih optimal dengan Google Earth pada pelajaran geografi.

Penulis menganjurkan menggunakan Google Earth karena layanan ini gratis dan bisa diakses secara daring (on line).

2. Hindari Konsultasi Siaran Langsung Bila Menggunakan Jejaring Sosial Sebagai Media Belajar.

Disarankan tidak menggunakan fitur siaran langsung bila menggunakan jejaring sosial sebagai media belajar. Sebab, biaya siaran langsung termasuk mahal bagi para siswa, karena video streaming menguras banyak kuota. Selain itu, tidak semua siswa bisa menghadiri siaran langsung, karena siswa mempunyai kesibukan sendiri di luar sekolah.

live_reactions_android_png__9_documents__9_total_pages_fitur facebook live (siaran langsung) dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran, tetapi boros kuota. Disarankan tidak digunakan mengingat kondisi siswa
(Gambar diambil dari http://www.businessinsider.co.id/facebook-live-video-update-2016-4/?r=US&IR=T#SB0HDbqD2tgT6BGp.97)

Untuk mengoptimalkan penggunaan jejaring sosial, guru bisa membuat halaman (page) khusus di facebook. Jangan menggunakan halaman pribadi agar konten pribadi tidak tercampur dengan konten belajar.

Masalah yang muncul saat menggunakan halaman facebook adalah banyaknya anggota. Karena anggota yang banyak, suasana yang dirasakan seperti saat belajar dikelas menjadi kurang terasa. Untuk mensiasati ini bisa menggunakan hastag. Setiap siswa yang mau bertanya wajib menaruh hastag pada kelas dan mata pelajarannya.

Contoh : #kelas_IPA_IIIA
#Biologi
#Soal_rangka
(optional, berguna agar siswa bisa melihat apakah topik ini pernah ditanyakan oleh siswa lain)*

Dengan demikian setiap postingan siswa poada halaman akan lebih rapi dan terarah.

*hastag berguna untuk menghubungkan konten-konten yang sama. Dengan menekan hastag kita bisa melihat orang yang membicarakan topik ini dengan menekan hastag tersebut.

3. Penyajian Materi Harus Benar-Benar Menarik Minat Siswa

Faktor ini juga sangat penting diperhatikan. Secanggih  apapun perangkat yang digunakan, sebagus apapun sistem yang diterapkan, jika kontennya membosankan akan membuat siswa merasa jenuh. Peran guru sangat diharapkan disini. Guru harus belajar membuat konten yang menarik atau bisa mencarinya internet.

Indikator dari konten yang menarik adalah apabila siswa merasa antusias dan bersemangat belajar dengan penyajian materi.

UntitledPenggunaan Media Flash lebih menarik dan memudahkan siswa memahami cara kerja jantung. Klik disini untuk melihat dalam format flash (gambar diambil dari link)

Poin ini terkait dengan nomor satu. Guru harus bisa mengoptimalkan perangkat teknologinya. Misalnya guru bisa menyajikan materi dengan format flash. Kelebihan dari menggunakan fomat flash adalah konten menjadi lebih hidup. Bagaimana konten disajikan bisa menggunakan kreatifitas setiap guru.

4. Guru Harus Tetap Berperan Aktif

Walaupun penggunaan media belajar sudah canggih, peran guru harus tetap bisa mengimbangi teknologi. Teknologi hanyalah alat pendidikan bukan sebagai pengganti guru. Jangan karena teknologi sudah bisa menyajikan materi dengan jelas, mempermudah siswa memahami pelajaran, guru merasa perannya menjadi minimal. Peran guru tetap harus diutamakan dalam pemanfaatan teknologi.

IMGP3192Guru harus tetap menjadi peran utama dalam pendidikan berbasis teknologi
(gambar diambil dari http://sman2batu-audams.blogspot.co.id/2010/05/)

Teknologi tidak bisa memberikan sentuhan nilai-nilai kemanusiaan dalam pendidikan. Guru harus tetap memberikan suasana kelas yang manusiawi dalam ruang kelas. Dididik oleh manusia memberikan sentuhan sendiri kedalam jiwa siswa. Dididik oleh teknologi akan memberikan kekosongan pada diri siswa. Teknologi hanya alat bantu guru mengajar.

5. Pengawasan

Teknologi seperti pisau bermata dua. Pengunaan teknologi dalam proses pembelajaran sangat membantu jika digunakan dengan benar. Sebaliknya teknologi juga bisa membuat siswa menjadi malas dan tergantung pada teknologi.

Misalnya dalam pembuatan tugas. Dari pengalaman, kreatifitas dan usaha siswa dalam menyelesaikan tugas menjadi berkurang. Sebab, materi-materi yang ditugaskan guru pada siswa sudah tersedia di internet. Siswa yang sudah mahir menggunakan internet bahkan bisa mencari tugas yang sudah jadi tanpa harus mengeditnya lagi. Fenomena ini melahirkan budaya copy paste.

Ujian-Berbasis-Komputer-di-Panca-Budi-secara-online.....Pengawasan saat ujian berbasis komputer
(gambar diambil dari http://pancabudi.sch.id/perguruan-panca-budi-medan-laksanakan-ujian-berbasis-komputer-secara-online/)

Guru tetap harus mengawasi siswa dalam penggunaan teknologi. Misalnya: Bila guru menyuruh siswa mencari sumber dari internet, guru sebaiknya mengetest pemahaman siswa pada materi yang ia ambil tersebut. Dengan begini, siswa terpaksa memahami apa yang ia cari, tidak hanya sekadar copy dari internet, serahkan pada guru, lalu selesai.

Teknologi digunakan untuk mempermudah proses pembelajaran supaya lebih efektif dan efisien, itulah esensi dari teknologi dalam pendidikan.

Demikianlah tips yang bisa penulis paparkan. Bapak dan ibu guru bisa menambahkan tips tersebut sesuai dengan pengalaman yang diperoleh saat proses pembelajaran siswa.

Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar