1

Kolaborasi antarmapel (Mungkin) Sebuah Solusi? (0)

handri zakki pratama February 2, 2021

Kita terus berdo’a dan berikhtiar supaya Pandemi Covid-19 ini segera usai, agar ruang kelas dapat segera dibuka kembali tanpa ada perasaan takut dan curiga akan terpapar resiko Virus Corona. Sudah hampir 11 bulan sejak Kemendikbud memutuskan untuk Belajar Dari Rumah (BDR), interaksi Guru, Siswa, dan Orangtua dibatasi oleh sekat virtual, walaupun dibeberapa titik ada juga yang menyelenggarakan pertemuan tatap muka untuk sekedar drive through tugas. Begitupun di Sekolah kami.

Disela-sela mengelola pembelajaran daring, Guru kami ada yang iseng bertanya, “jenuh gak sih dengan kondisi pembelajaran seperti ini?” Brilian! Saya pikir pertanyaan yang terlalu keren untuk disikapi. Pola pembelajaran tatap muka yang dibawa ke ruang virtual bisa jadi penyebabnya.

Mari kita cek aktivitas rutin daring harian. Dipagi hari Wali Kelas/Guru BP/BK akan membagikan presensi daring, selanjutnya program pembinaan karakter rutin dipantau secara daring, dan bisa ditebak setelahnya, yap, pergantian mata pelajaran dari jam ke jam akhirnya menggenapkan kewajiban struktur kurikulum darurat.

Berbagai media pembelajaran virtual hasil dari serangkaian kegiatan webinar sudah dicoba untuk diimplementasikan ke anak-anak, penugasan yang sifatnya kontekstual juga sudah disampaikan, dari yang sulit sampai ke yang mudah bahkan, hanya untuk menjaga tingkat keikutsertaan/partisipasi anak dalam BDR, namun tetap saja anak-anak mengeluh tentang tugas yang terlalu banyak, hingga terjadi penumpukan tugas di akhir pekan (dugaan saya penyebabnya adalah: tiap mata pelajaran membebankan tugas sesaat setelah pemberian materi)

Seperti biasa, dipermulaan semester genap di TP. 2020/ 2021 kami awali dengan evaluasi menyeluruh terkait dengan pelaksanaan BDR baik daring maupun luring, salah satu topik yang diangkat pada saat itu adalah “Bagaimana kalau kita merubah pola BDR Daring khususnya untuk mata pelajaran Muatan Nasional, dari semula ‘berdiri sendiri’ kita ubah polanya jadi ‘kolaborasi antar mapel?’, mungkin ini akan menjadi penawar dari kegelisahan siswa dalam pengerjaan tugas yang berlipat. Kata “mungkin” saya sematkan karena belum ada data empiriknya, untuk membuktikan sejauhmana efektivitas ide ini. Hemat saya kenapa tidak dilaksanakan saja dulu, lalu nanti kita cermati dan evaluasi kembali.

Langkah Pertama; Guru-guru dibuatkan ruang diskusi, untuk memutuskan mengambil Kompetensi Dasar Essensial dari setiap mata pelajaran. Kurikulum menjadi moderator dalam diskusi ini, menjembatani antarmapel yang saling berkaitan. Guru diminta untuk menetapkan Tujuan Pembelajaran dan indikator yang ingin dicapai. Selain itu Guru diminta untuk menjabarkan langkah-langkah pembelajaran, membuat timeline bagaimana anak-anak harus memanajemen waktu guna menyelesaikan target pembelajaran tepat waktu.

Langkah Kedua: Setelah dirumuskan mana saja mapel yang cocok untuk dikolaborasi, maka pada pertemuan pertama Guru mengundang siswa secara virtual untuk menyampaikan makna pembelajaran. Pertemuan selanjutnya masih dalam ruang virtual Guru memonitor Pembelajaran, sambil membantu anak-anak yang menemui kesulitan. Oh iyaa.. Pemantauan dilaksanakan sesuai dengan jam mengajar para Guru.

Langkah Ketiga: Siswa mulai memenuhi tugas kolaborasi, Guru menyeleksi Tugas, jika ada tugas yang dirasa kurang maskimal, Guru akan mengembalikan tugas tersebut kepada anak-anak untuk diperbaiki sesuai indikator yang sudah ditetapkan pada saat virtual meeting. Walaupun hanya ada satu tugas untuk siswa, namun Guru tetap mengukur kemampuan anak-anak dan mengkonversinya dalam refleksi pembelajaran baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

Contoh Konkret:

Langkah Keempat: Bagaimana cara Guru menilainya? dalam satu pembelajaran kolaborasi di atas, ada tiga mata pelajaran yang berkolaborasi; B. Inggris, PA-BP, PPKn. Guru Bahasa Inggris akan menilai kefasihan anak-anak dalam berkomunikasi dalam bahasa inggris tentunya. Guru PA-BP, akan menilai dalam adab berperilaku, dan tatacara bagaimana memulai aktivitas dari awal hingga akhir, sementara Guru PPKn menilai dalam hal tanggungjawab, integritas siswa dalam mengerjakan tugas, serta kepercayaan diri mereka.

Sekali lagi ini pola baru, pastilah banyak kekurangannya, tapi tidak salah kan? kalau kita mencoba membuat terobosan? Pendemi ini mengajarkan kita banyak hal, salahsatu diantaranya adalah inovasi. Teruslah berinovasi Guru-Guru Hebat di Indonesia! Kabarkan inovasi tersebut, terus berproses kearah yang lebih baik, tampung semua masukan, hingga akhirnya inovasi tersebut bernilai, setidaknya ada pengalaman untuk mencoba hal yang baru.

untuk melihat hasil silakan kunjungi: https://padlet.com/handrizakkipratama/resumepjblyakavhs atau https://www.instagram.com/p/CKdjhSmgCwS/

Hatur Nuhun 🙂

Kalijati, 2 Februari 2021

Handri Zakki Pratama

Comments (1)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar