8

Kisah Tempe Sebagai Sejarah Ketahanan Pangan dan Perjuangan Rakyat Indonesia (0)

oloan January 4, 2021

Tempe, siapa tidak kenal dengan makanan yang sudah merakyat dan melegenda di Tanah Air yang kita cintai ini? Tempe adalah makanan ciri khas Indonesia dan menjadi makanan pokok teman nasi maupun pengganti nasi. Jikalau kita telisik sejarah panjangnya, maka kita akan sangat menyayangi makanan khas yang sudah tidak asing lagi di lidah kita ini.

Tempe terbuat dari bahan pokok bernama kacang kedelai. Ya, makanan ini semakin langka ditemukan di tanah air hingga kita harus mengandalkan impor agar tempe makanan pokok sehari-hari bisa kita nikmati hingga sekarang. Padahal jika kita melihat sejarah dari tempe ini, maka kita akan sangat miris dengan harganya yang melambung tinggi akibat harus kita impor dari Amerika Serikat.

Tempe yang terbuat dari kedelai adalah makanan favorit di kalangan masyarakat Indonesia. Dari kalangan menengah ke bawah ataupun ke atas akan sangat menikmati tempe berbahan dasar kacang kedelai. Soal kandungan gizi? Tidak usah ditanya, sebab penelitian menunjukkan bahwa kandungan gizi dari tempe lebih kaya dari kedelai itu sendiri.

Sejarahnya, perjalanan tempe ini sangat panjang sekali, dimana ada menyebut sejak zaman kerajaan-kerajaan di Jawa abad ke-16. Konon, tempe diproduksi dari kedelai hitam. Makanan ini berasal dari masyarakat pedesaan tradisional Mataram Jawa Tengah dan sudah berkembang sebelum abad ke-16. Tempe dibuat dengan berbahan dari sagu, berwarna putih, dinamakan tumpi.

Tapi cerita lain menyebutkan tempe sudah menjadi makanan khas di masa tanam paksa yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda. Konon, tempe menjadi sejarah ketahanan pangan bagi para pekerja Indonesia, hingga kata โ€œtempeโ€ diabadikan dan ditemukan dalam Manuskrip Serat Centhini yang ditulis pada awal abad ke-19. Dalam Bab 3 dan 12, terdapat penyebutan nama hidangan yaitu jae santen tempe dan kadhele tempe srudengan.

Rujukan yang ditemukan tahun 1875 dalam sebuah kamus berbahasa Jawa โ€“ Belanda semakin memperkuat tempe adalah makanan tradisional Indonesia, dimana pada masa itu, masyarakat Jawa terpaksa memanfaatkan pekarangan rumah untuk bertahan hidup dengan menanam singkong, ubi dan kedelai.

Kedelai sebagai sumber pangan, kemudian difermentasi menggunakan kapang aspergilius. Tekhnik ini kemudian menyebar ke seluruh Indonesia bersama penyebaran masyarakat Jawa yang terpaksa bermigrasi ke penjuru Tanah Air akibat penjajahan.

Belum ada satupun petunjuk siapa yang pertama kali menemukan kedelai bisa difermentasi dengan kapang aspergilius (ragi tempe). Nyatanya, dari berbagai literatur kesehatan gizi, kasiat tempe jauh lebih kaya dari kedelai itu sendiri. Protein, lemak, dan karbohidrat pada tempe menjadi lebih mudah dicerna di dalam tubuh dibandingkan yang terdapat dalam kedelai.

Pada masa penjajahan dulu, masyarakat Indonesia mensiasati asupan gizi dengan memakan tempe. Dengan kandungan protein yang tinggi, rakyat Indonesia mencoba bertahan hidup di tengah kesulitan ekonomi yang dihadapi, karena himpitan kebijakan Kolonial Belanda yang menindas rakyat.

Maka sejarah tempe bukan lagi hanya sebentuk makanan, tetapi tempe sudah ratusan tahun jadi benteng terakhir rakyat kecil dalam ketahanan dan kedaulatan pangan, sekaligus menjadi simbol perjuangan hidup dan sanggup menghadapi penindasan para penjajah yang terus menerus menggerogoti kekayaan alam kita.

Begitulah kisah tempe menjadi makanan tradisional Indonesia yang kini sudah menjadi bahan makanan yang sudah melegenda dan dinikmati oleh seluruh dunia. Tempe yang mulanya hanya dikonsumsi oleh rakyat Indonesia, kini sudah dikonsumsi oleh seluruh penduduk di dunia. Tempe bisa menjadi panganan pengganti daging bagi mereka yang vegetarian (bukan pemakan daging).

Begitulah kisah tempe menjadi makanan paling diminati hingga ke luar negeri seperti Amerika Serikat hingga Jerman dan akankah harga kedelai mengakibatkan tempe sebagai makanan tradisional kita akan menjadi kenangan?

Ketika benteng terakhir itu jebol dan tak bisa lagi didapat, siapa lagi yang akan bertahan untuk berjuang?

Comments (8)

  1. ia bu Fitriyani, kini hadir lagi dengan semangat baru di tahun baru 2021 ini, benar bu, saya juga lebih suka tahu daripada tempe, tapi bagaimanapun tempe adalah makanan tradisional kita yang harus dilestarikan..

  2. benar bung….dan saya hanya mengingatkan kita bahwa tempe itu sudah ada sejak zaman kerajaan, kolonial dan bahkan sudah mendunia, semoga tempe bisa tetap menjadi bahan makanan sampai ke anak cucu kita..

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar