2

Kisah Pelajar yang Buntung Tangan dan Kaki (+2)

Kusnandar Putra February 11, 2014

بسم – الله – الرحمن – الرحيم

Dengarkan ini,

“Seekor burung di pohon tidak pernah khawatir dahan yang ia injak patah, sebab ia percaya pada (kemampuan) dua sayap miliknya.”

Apakah kita termasuk golongan manusia yang senantiasa percaya pada diri sendiri?

Pernahkah kita percaya diri pada segala rincian nikmat Alloh subhanahu wa ta’ala dalam diri?

Mari kita simak contoh profil manusia yang bernama Abu Qibalah:

‘Abdullah bin Muhammad berkata:

Aku keluar menuju tepi pantai untuk memantau kawasan pantai (dari kedatangan musuh). Tatkala tiba di tepi pantai, tiba-tiba aku telah berada di sebuah dataran lapang di suatu tempat (di tepi pantai). Di dataran tersebut ada sebuah kemah, yang di dalamnya terdapat seseorang yang telah buntung kedua tangan dan kedua kakinya. Pendengarannya telah lemah dan matanya telah rabun. Tidak satu anggota tubuhnyapun yang bermanfaat baginya, kecuali lisannya.

Orang itu berkata,

“Ya, Allah. Tunjukilah aku agar aku bisa memuji-Mu, sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, dan Engkau sungguh telah melebihkan aku di atas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan.”

‘Abdullah bin Muhammad berkata,

“Demi Allah, aku akan mendatangi orang ini, dan aku akan bertanya kepadanya bagaimana ia bisa mengucapkan perkataan ini. Apakah ia memahami dan mengetahui yang diucapkannya itu? Ataukah ucapannya itu ilham yang diberikan kepadanya?”

Akupun mendatangi, lalu mengucapkan salam kepadanya. Kukatakan kepadanya:

“Aku mendengar engkau berkata,
‘Ya, Allah. Tunjukilah aku agar aku bisa memuji-Mu, sehingga aku bisa menunaikan rasa syukurku atas kenikmatan-kenikmatan yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, dan Engkau sungguh telah melebihkan aku di atas kebanyakan makhluk yang telah Engkau ciptakan’.

Nikmat manakah yang telah Allah anugerahkan kepadamu, sehingga engkau memuji Allah atas nikmat tersebut? Kelebihan apakah yang telah Allah anugerahkan kepadamu, sehingga engkau menysukurinya?”

Orang itu menjawab:

“Tidakkah engkau melihat yang telah dilakukan Robbku kepadaku? Demi Allah, seandainya Ia mengirim halilintar kepadaku sehingga membakar tubuhku, atau memerintahkan gunung-gunung untuk menindihku sehingga menghancurkan tubuhku, atau memerintahkan laut untuk menenggelamkan aku, atau
memerintahkan bumi untuk menelan tubuhku, maka tidaklah semua itu, kecuali semakin membuat aku bersyukur kepada-Nya, karena Ia telah memberikan kenikmatan kepadaku berupa lidahku ini….”

(Disadur dari Kitab ats-Tsiqot, karya Ibnu Hibban)

Siapakah orang ini? Dialah Abu Qilabah al Jarmi -rohimahulloh- sahabat Ibnu ‘Abbas. Dia sangat cinta kepada Allah dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Saudaraku, dimana hari ini orang-orang yang senantiasa bersyukur terhadap segala nikmat dari Alloh subhanahu wa ta’ala? Dimana hari ini sosok-sosok yang senantiasa memanjatkan doa-doa tanda kesyukuran?

Jangan sampai kita hanya berdoa meminta kekayaan, meminta kesempurnaan, meminta kesuksesan?

Sungguh amat jauh ternyata esensi doa Abu Qibalah -rohimahulloh-, seorang pelajar dari tuntunan al-Qur’an dan assunnah, daripada doa-doa duniawi kita.

Wallohul musta’an…[]

–Parepare, 8 Rabiul Akhir 1435 H

Tagged with:

Comments (2)

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar