0

Ki Hajar Dewantara, Guru Abad 21, dan Pendidikan Guru Penggerak (0)

Ahmad Maulidi January 1, 2022

Ki Hajar Dewantara adalah sosok bapak pendidikan Indonesia. Sejarah bangsa ini telah mencatat bahwa sosoknya memberi sumbangsih pemikiran yang sangat besar untuk pendidikan Indonesia. Cara pandangnya mengenai nilai-nilai pendidikan dituangkan dalam pernyataan ing ngarso sang tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Gagasan filosofis ini kemudian menjadi pondasi yang kuat dalam konsep pendidikan Indonesia.

Ing ngarso sang tuladha bermakna bahwa yang berada di depan harus memberi teladan, contoh, panutan yang baik. Ing madya mangun karsa memiliki makna yang di tengah harus memberi dorongan atau semangat menciptakan prakarsa dan ide. Sementara itu, tut wuri handayani berarti bahwa yang dibelakang harus senantiasa mendukung dengan segala daya kekuatan yang dimiliki. Pernyataan ini lalu menjadi semboyan pendidikan yang cukup akrab di telinga para pendidik hingga saat ini.

Ki Hajar Dewantara dan filosofi pendidikannya berhasil menciptakan sisi humanis yang cukup kuat dalam pendidikan kita. Hasil pemikirannya menjadi saluran dalam memanusiakan manusia yang berbudaya dengan mengembangkan daya cipta, rasa, dan karsa yang dimiliki oleh manusia. Nilai inilah yang kemudian menjadi tolok ukur bagi pelajar atau siswa Indonesia yang akan menjadi profil pelajar Pancasila. 

Pada kenyataannya selama ini, penguatan pendidikan di kalangan siswa lebih menitikberatkan pada unsur cipta atau ranah pengetahuannya saja. Kedua unsur lainnya seperti kurang diperhatikan. Padahal Ki Hajar Dewantara telah menyatakan bahwa ketiga unsur cipta, rasa, dan karsa menjadi titik tumpu dalam menyeimbangkan pengembangan diri manusia dengan utuh, baik secara individu maupun sebagai mahluk sosial.

Maka peran guru dalam kaitannya dengan masalah di atas sangatlah penting. Dalam hal ini Ki Hajar membedakan istilah ‘pengajaran’ dan ‘pendidikan’. Dalam konteks yang sederhana, pengajaran merupakan bentuk transformasi tugas dari orang tua kepada guru untuk memberikan pengetahuan dan informasi mengenai hal yang belum diketahui oleh peserta didik. Guru menjadi perpanjangan tangan orang tua untuk mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang belum diperoleh sebelumnya dalam hidup siswa.  Sementara itu, pendidikan adalah suatu proses yang bertujuan untuk mengembangkan potensi-potensi individu (peserta didik) baik potensi fisik maupun potensi cipta, rasa, maupun karsanya agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya.

Lebih jauh lagi, beliau mengatakan bahwa pengajaran bersifat memerdekakan manusia dari aspek hidup lahiriah (kemiskinan dan kebodohan). Sedangkan pendidikan mengarah pada memerdekakan manusia dari aspek hidup batin (otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat, mentalitas demokratik). Berdasarkan hal tersebut dapatlah kita katakan bahwa pengajaran memiliki dampak dan tujuan sementara, sedangkan pendidikan akan berdampak panjang di masa yang akan datang. 

Dari situlah para guru harus menyadari bahwa tugas dan perannya sebagai guru abad 21 sangatlah urgen. Guru adalah elemen pendidikan yang memiliki peran penting dalam proses pembelajaran. Sosok guru saat ini telah bertransformasi dengan berbagai macam perannya. Jika dulu seorang guru hanya diidentikkan dengan tugas mengajar dan mendidik maka saat ini guru mengemban tugas yang lebih variatif. Peran yang dijalankan guru kini tidak hanya untuk berproses untuk mencapai tujuan pembelajaran tetapi juga menciptakan sistem pembelajaran yang mengarah pada konsep merdeka belajar. 

Guru menjadi sosok yang tidak tergantikan dalam lingkungan pembelajaran karena tugasnya sebagai pemimpin pembelajaran di kelas. Tidak hanya tugasnya sebagai pengajar tetapi juga mendalami perannya sebagai pendidik. Maka kecapakan guru dalam era abad 21 dapat terwakili  dengan melihat keterampilan guru sebagai pengajar dan pendidik.

Guru tidak hanya sekadar mengajar dan berbagi ilmu pengetahuan bidang tertentu. Para pengajar pun dituntut dapat menjadi alat perekat nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme, cinta kepada tanah air, nilai spiritualitas dan religiusitas. Bahkan guru pun harus menjadi contoh atau teladan bagi siswa, menjadi sosok orang tua di lingkungan sekolah, menjadi fasilitator dan mediator terhadap kendala pembelajaran siswa. 

Penjelasan di atas merupakan sebuah indikator mengenai tantangan yang dihadapi oleh guru saat ini. Ditambah lagi dengan perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat masif. Hal itu pun berdampak langsung pada dunia pendidikan kita. Bagaimana era sekarang guru menghadapi masalah yang jauh lebih beragam, materi pelajaran yang cenderung sulit dan kompleks, standar proses pembelajaran yang semakin tinggi, juga tuntutan mencapai kompetensi keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam diri siswa. Tentu saja hal itu akan membuka ruang kebutuhan guru yang mampu bersaing dengan kreativitas, inovasi, dan katerampilan yang sesuai dengan kebutuhan abad 21. Terkait dengan guru abad 21, Susanto (2010) mengatakan ada 7 tantangan yang harus dihadapi oleh guru, yaitu:

  1. Teaching in multicultural society, mengajar di masyarakat yang memiliki  beragam budaya dengan kompetensi multi bahasa.
  2. Teaching for the construction of meaning, mengajar untuk mengkonstruksi makna (konsep)
  3. Teaching for active learning, mengajar untuk pembelajaran aktif
  4. Teaching and technology, mengajar dan teknologi
  5. Teaching with new view about abilities, mengajar dengan pandangan baru mengenai kemampuan
  6. Teaching and choice, mengajar dan pilihan
  7. Teaching and accountability, mengajar dan akuntabilitas.

Jika dihubungkan dengan filosofi Ki Hajar Dewantara maka ketujuh jenis tantangan yang dikemukakan di atas sebenarnya menjadi representasi dari semboyan ing ngarso sang tuladha, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani. Pun dengan konsep ‘pengajaran’ dan ‘pendidikan’ yang dinyatakan oleh beliau maka macam-macam tantangan tersebut bukan merupakan hal baru dalam kaitannya dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara. Kesemuanya menjadi wujud dari problema pendidikan yang sejak puluhan tahun yang lalu sudah dipikirkan oleh bapak pendidikan kita tersebut. 

Ki Hajar Dewantara sejak jauh hari mengenalkan sistem yang disebut sebagai sistem among. Pendekatan dengan sistem ini berupaya untuk menciptakan pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah, dan asuh. Luaran yang ingin dihasilkan adalah peserta didik yang berkepribadian merdeka, sehat fisik, sehat mental, cerdas, menjadi anggota masyarakat yang berguna, dan bertanggung jawab atas kebahagiaan atas dirinya dan kesejahteraan orang lain di sekitarnya.

Melalui pendekatan among Ki Hajar Dewantara menciptakan profil guru yang humanis dan tangguh menghadapi segala tantangan. Sosok guru abad 21 memiliki keunggulan dalam mengajar; punya keterampilan komunikasi dengan peserta didik dan anggota komunitas sekolah juga relasi yang baik dengan pihak orang tua dan komite; dari segi administrasi sebagai guru; dan yang tidak kalah penting adalah sikap profesionalitasnya. 

Sikap-sikap profesional itu meliputi antara lain: keinginan untuk memperbaiki diri dan keinginan untuk mengikuti perkembangan zaman. Maka penting pula membangun suatu etos kerja yang positif yaitu: menjunjung tinggi pekerjaan; menjaga harga diri dalam melaksanakan pekerjaan, dan keinginan untuk melayani masyarakat. Dalam kaitan dengan ini penting juga performance/penampilan seorang profesional: secara fisik, intelektual, relasi sosial, kepribadian, nilai-nilai dan kerohanian serta mampu menjadi motivator. Singkatnya perlu adanya peningkatan mutu kinerja yang profesional, produktif dan kolaboratif demi pemanusiaan secara utuh setiap peserta didik (Sugiarta, dkk. 2019: 7). Melalui penguatan kapasitas diri di atas maka para guru betul-betul dapat mengejawantahkan nilai-nilai guru abad 21 yang selaras dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara.

Untuk menjembatani antara nilai besar pemikiran Ki Hajar Dewantara, tantangan pendidikan masa akan datang, juga peran guru abad 21 maka dicetuskanlah sebuah program yaitu Pendidikan Guru Penggerak oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pendidikan Guru Penggerak adalah program pendidikan kepemimpinan bagi guru yang disiapkan untuk menjadi pemimpin pembelajaran di lingkungan tempatnya mengajar.

Lahirnya program ini pada tahun 2020 sejalan dengan dimunculkannya program Merdeka Belajar sebagai kerangka baru pendidikan Indonesia. Program Guru penggerak dimaksudkan sebagai wadah pendidik untuk meningkatkan kompetensinya sebagai sosok sentral dalam lingkungan pembelajaran. Sebagai agen perubahan pendidikan, guru nantinya akan menjadi pemimpin pembelajaran yang berpusat kepada murid. 

Melalui program ini para guru berkesempatan untuk menjadi bagian dalam menghadirkan perubahan nyata bagi pendidikan Indonesia. Guru-guru Indonesia juga didukung untuk mengembangkan keterampilan sebagai pembawa perubahan dalam ekosistem pendidikan kita yang semakin menantang di kemudian hari. Guru Penggerak adalah pemimpin pembelajaran yang mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, aktif, dan proaktif. Selain itu, guru penggerak juga diharapkan dapat menjadi pihak yang turut berperan dalam mengajak, mendampingi, dan mengembangkan komunitas di sekitarnya untuk dapat mengimplementasikan nilai pembelajaran yang berpusat kepada murid.

Lahirnya profil Pelajar Pancasila sebagai bagian dari kerangka program Merdeka Belajar juga menjadi tujuan awal dari program Guru Penggerak. Adapun harapan utama yang ingin dicapai adalah:

  1. Guru menjadi motor penggerak komunitas belajar untuk rekan guru di sekolah dan sekitarnya.
  2. Guru menjadi pengajar praktik bagi rekan guru terkait pelaksanaan praktik baik dan pengembangan pembelajaran di sekolah.
  3. Guru mampu mendorong peningkatan kepemimpinan murid di sekolah, sebagai individu juga mahluk sosial, sehingga pembelajaran dapat berpusat kepada murid.
  4. Guru menjadi pihak yang dapat membuka ruang diskusi dan kolaborasi yang positif dengan pemangku kepentingan di dalam dan luar sekolah dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran.
  5. Guru menjadi pemimpin pembelajaran yang dapat mendorong well-being ekosistem pendidikan di sekolah. 

Jika dikaji lebih jauh ternyata dampak dari program guru penggerak memiliki keterkaitan dengan Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen dan permendiknas No. 16 tahun 2007 tentang standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru. Dasar hukum tersebut menyebutkan bahwa dalam abad sekarang ini guru harus memiliki kecakapan akuntabilitas; berkomunikasi; kreativitas; berpikir kritis dalam sistem, kecakapan terhadap informasi dan media, pengajaran yang menarik dan menantang di era globalisasi ini, guru harus mampu menganalisa, mengakses, mengelola, mengintegrasi, mengevaluasi, dan menciptakan informasi dalam berbagai bentuk dan media;Kecakapan hubungan antar pribadi dan kerjasama; Kemampuan mengidentifikasi masalah, penyebaran dan solusi; pengarahan personal, siswa mempunyai karakter atau tingkah laku yang berbeda-beda, guru memiliki kemampuan di dalam menghadapi karakter siswa tersebut dan dapat memberikan sesuai dengan kebutuhan peserta didik dengan baik di dalam pembelajaran dengan berbagai sumber-sumber belajar,serta mentransfer pembelajaran dari satu bidang kebidang lainnya; tanggung jawab sosial, para orang tua di dalam menyekolahkan anaknya tentu mempunyai harapan yang sangat besar agar perkembangan baik karakter maupun komptensi ke arah yang lebih baik.

Apa yang menjadi cita-cita dan harapan dari program ini kiranya dapat tereallisasi nanti setelah beberapa tahun ke depan. Kita perlu optimis bahwa pencanangan program ini akan memberi dampak yang positif bagi kemajuan kualitas pendidikan Indonesia. Tidak hanya itu, buah pemikiran besar dari seorang Ki hajar Dewantara ternyata sesuai dengan kondisi perkembangan pendidikan di zaman sekarang. Nilai-nilai yang diciptakannya periode lalu dapat selaras dengan kebutuhan dan tantangan guru abad 21 saat ini. Maka wajarlah kita mengatakan bahwa pendidikan Indonesia telah memiliki karakternya sendiri. Karakter itu begitu kuat dan tangguh mewarnai perjalanan panjang pendidikan di negara kita. Pada akhirnya karakter itu coba terus dipertahankan dan diperkuat lagi melalui pelaksanaan program Pendidikan Guru Penggerak.  

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar