24

Ketika umurku 2 tahun (+6)

Bu Etna @gurutematik November 20, 2013

Selamat pagi rekan Guraru. Ketika saya berusaha mengingat masa yang telah silam, Alhamdulillah saya bisa mengingat dengan jelas suatu kejadian pada 60 tahun yang lalu. Satu demi satu kenangan masa lalu bermunculan dipikiranku. Masih terngiang di telingaku suara khas mendiang ibu, ketika suatu hari aku bertanya.

“Ibu, waktu aku pertama kali ingin sekolah, aku diam-diam mengikuti kakak ke sekolah Taman Kanak-kanak. Berapa umurku waktu itu Bu? Dua tahun ya Bu?”

“Iya, 2 (dua) tahun lebih. Sejak itu kamu terus berangkat ke sekolah, meskipun kakakmu selalu marah karena malu dengan teman dan gurunya. Hehehe, namun ibu tidak pernah melarangmu, karena ibu tahu bagaimana sifatmu.”

Ya, itulah yang dikatakan oleh ibu, saat saya masih berumur 2 (dua) tahun lebih dan kakak 5 tahun.  Saya mengendap-endap berjalan keluar rumah membuntuti kakak yang berangkat ke sekolah. Saya tak pernah memakai rok dan belum pernah diajak pergi. Hari itu saya memakai celana monyet.

“Lho mana tadi kakak? Oh itu dia.” Ternyata kakak kalau berjalan tak secepat saya dan tak pernah menengok ke belakang. Jadi tak mungkin saya ketahuan. Dari rumah, saya berjalan lurus ke depan sekitar 100 m, kemudian ada pertigaan jalan, saya membelok ke kiri. Setelah berjalan kurang lebih 30 m, belok lagi ke kiri. Disana ada 4 (empat) rumah berderet dan rumah paling ujung adalah sekolahnya kakak.

Disana ada sebuah ayunan dan sebuah “plorotan” (bahasa Jawa). Ada satu pohon mangga, tak begitu tinggi, namun rindang. Halamannya cukup luas dan berpagar tanaman luntas. Saya bersembunyi di pagar itu. Kulihat, satu demi satu teman-teman kakak pada datang, bu gurunya belum kelihatan.

“Teng … teng … teng.” Oh ternyata teman kakak yang membunyikan bel. Murid-murid berbaris, di depan mereka tahu-tahu sudah ada bu guru. Setelah mereka rapi, terus satu persatu berjabat tangan dengan bu guru dan masuk kelas.

Dari tempat persembunyian, saya melihat mereka mulai belajar. Saya mengendap-endap mendekati pintu kelas. Hehehe … akhirnya sampai di tembok kelas dekat pintu masuk dan saya berjongkok disitu sambil mendengarkan. Karena saya ingin mendengarkan suara bu guru, saya memejamkan mata agar lebih konsentrasi. Ya suara itu makin jelas, murid-murid diminta melipat kertas dan membuat sebuah perahu. Saya sudah bisa, boleh tidak ya masuk ke dalam, ikut sekolah? Saya tak boleh ragu, ya saya ingin sekolah. Saya harus mengetuk pintu, memberi salam. Sopan … ya harus sopan dan tidak boleh sampai ditolak, berjuang sampai diperbolehkan sekolah. Kubersihkan wajah, badan, tangan dan kaki, oh untung saya selalu memakai sandal. Senyum … ya harus senyum. Akhirnya saya berjalan tegap mendekati pintu. Kuketuk pintu itu sambil memberi salam.

“Selamat pagi bu guru.” Wah gurunya dimana ya, kok tidak kelihatan. Oh itu membetulkan perahu murid yang sebelah sana. Kutunggu saja dahulu. Nah … itu bu guru berjalan ke depan.

“Selamat pagi bu guru.”

“Selamat pagi. Eh siapa kamu nak?”

“Nama saya Fifien bu guru, bolehkah saya ikut bersekolah? Saya ingin sekali sekolah, saya dapat membuat perahu itu. Boleh ya bu?” Oh bu guru itu berpikir sejenak, kemudian menjawab dengan tersenyum.

“Fifien, kamu harus memakai rok dan kamu juga masih sangat kecil, ayo bermain di luar, itu ada ayunan. Kamu boleh bermain ayunan.”

“Bu guru besok saya akan memakai rok, mau meminjam roknya kakak. Sekarang saya ingin sekali ikut sekolah, duduk di bawah juga tidak apa-apa bu, kan Fifien tidak membayar uang sekolah. Kalau nanti sudah seperti mereka, Fifien juga akan membayar bu. Boleh kan bu?”

“Ya sudah, duduk di bawah sini, jangan nakal, ibu akan ambilkan kertas lipat untukmu.”

Ya Allah, terima kasih, saya ingin sekolah. Saya akan belajar dengan baik dan menurut pada bu guru.

“Ini kertas lipat untukmu, buatlah mainan terserah kamu. Duduk disini saja, jangan masuk ke dalam, nanti murid-murid yang lain jadi ribut dan tidak belajar.”

“Iya bu terima kasih. Saya disini saja, asalkan saya boleh belajar.”

Selagi saya asyik membuat perahu, tahu-tahu ada murid yang mendatangiku.

“Eh anak kecil, siapa kamu? Mengapa kamu ada disini dan duduk di bawah? Lho kamu kok bisa membuat perahu.”

Saya belum sempat menjawab, eh dia teriak-teriak pada teman-temannya.

“Teman-teman ini ada anak kecil disini, bisa membuat perahu bagus sekali.”

Kemudian mereka berlari mendekatiku, melihatku. Oh kakakku juga mendekatiku. Ya tampaknya dia marah.

“Lho mengapa kamu mengikutiku sampai kesini? Mbak kan sedang sekolah, kamu masih kecil, pakaianmu juga seperti itu, mbak malu lho, nanti mbak di marah sama Bu Anik. Ayo kamu pulang saja, kalau lupa jalannya, mbak yang antar kau pulang.”

Belum sempat saya menjawab, bu guru … ya namanya bu Anik, mendatangiku.

“Ayo anak-anak kembali ke tempat dudukmu masing-masing. Selesaikan perahu kalian, setelah itu kalian akan menggambar. Tidak boleh menggerombol disini ya.”

“Bu ini adiknya Tyas, kok ikut membuat perahu disini bu. Boleh ikut sekolah ya? Duduk sama saya ya Bu, dia dapat membuat perahu dan bagus sekali, saya ingin diajari bu.”

“Jangan Bu Anik, adikku masih kecil, nanti mengganggu. Bu saya pamit pulang dulu mengantar adik.”

“Tyas, biarkan adikmu di situ, tidak mengganggu kok, dia juga bisa membuat perahu seperti kalian, tuh perahunya bagus sekali. Kamu duduk lagi ya, biar nanti bu Anik yang mengurus adikmu.”

“Iya Bu, tapi hari ini saja ya bu, saya malu.”

“Mengapa malu sayang, adikmu ingin sekolah dan dia ternyata pintar.”

“Jangan bu dia masih kecil, belum waktunya sekolah. Nanti dia cepat tua lho Bu.”

“Hahaha, kamu lucu Tyas, sudahlah ayo kembali ke bangkumu lagi.”

Saya tenang saja dibicarakan seperti itu. Untung saya tadi sudah berusaha sopan, tidak nakal seperti yang dikatakan kakak. Semoga saya boleh ikut sekolah terus. Bu Anik kemudian meminta murid-murid mengangkat perahunya dan bu Anik keliling melihat perahu itu.

“Anak-anak, perhatikan perahu teman kalian. Perahu mana yang paling bagus?”

Saya juga ikut mengangkat perahuku. Ternyata ada satu perahu yang bagus, yaitu perahu milik murid yang tadi mau mengajak saya duduk di bangkunya.

“Ita Bu yang perahunya paling bagus.” Teriak murid-murid.

“Iya benar, selamat ya Ita perahumu paling bagus.”

“Tidak bu yang paling bagus itu perahu adiknya Tyas. Itu dia juga mengangkat perahunya. Ayo teman-teman kita lihat perahunya, bagus sekali lho.”

“Iya bu Anik, perahunya bagus.”

“Oh iya, wah … Fifien pandai sekali ya membuat perahu. Selamat ya sayang, besok kamu boleh ke sini lagi.”

Alhamdulillah, saya senang sekali. Ternyata perahuku paling bagus. Mulai besok saya harus sekolah terus dan harus pintar.

“Terima kasih bu Anik, terima kasih semuanya. Besok saya ikut sekolah lagi ya.”

“Bu Anik, adikku sekolahnya pupuk bawang ya, duduk di bawah dan tidak bayar sekolah, iya bu?”

Saya diam saja sambil berdoa, semoga bu Anik tidak merubah lagi keputusannya. Kalau dipikir-pikir, berarti kakakku sudah setuju dengan bu Anik. Ya ya ya, asyik deh.

“Iya Tyas, tidak perlu membayar uang sekolah. Adikmu duduk di bawah karena bangkunya habis dan adikmu kan ingin melihat kalian belajar. Dia tidak mengganggu, jadi ibu membolehkan dia besok datang lagi.”

Begitulah Guraru cerita saat pertama kali saya bersekolah, hehehe ‘pupuk bawang’. Lumayanlah tidak perlu membayar uang sekolah. Tidak apa-apa duduk di bawah. Namun hari demi hari saya makin terampil dan bisa belajar apa saja seperti yang lain. Setiap membuat sesuatu, milik saya selalu terbaik, namun kalau menulis, ehmm … tulisan saya kurang baik, hehehe. Insya Allah kisahku ini bermanfaat. Selamat beraktivitas, salam perjuangan.

About Author

Bu Etna @gurutematik

Saya guru kimia di SMAN 16 Surabaya sejak tahun 1973 hingga Desember 2011. Saya sudah purna tugas sebagai PNS, namun Insya Allah saya tetap mengajar untuk melayani bangsa hingga akhir hayat. Pembelajaran yang saya lakukan dapat melalui blog, sms, email, atau yang lain. Saya selalu berupaya untuk mengajar kepada siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Sebagian dari pengalaman ini sudah saya tulis di blog saya. Insya Allah saya dapat menulis secara rutin, termasuk permintaan pengguna blog.

View all posts by Bu Etna @gurutematik →

Comments (24)

  1. Amin, amin YRA. Ya Allah, terima kasih hamba diberi ingatan yang kuat. Sekarangpun hamba ingat betul wajah bu guru Anik itu, celana monyet kesayangan hamba, meminjam baju kakak yang kedodoran, main ayunan sambil berdiri. Alhamdulillah, Allahu Akbar.

    Terima kasih respon dan doa Guraru semuanya, maaf saya tidak segera online, karena ada orang yang bersedia menerbitkan cerpen pendidikan karakterku yg kutulis di blog, Alhamdulillah. Doakan ya Guraru, saya masih dapat menyelesaikan semua tugas mulia ini, termasuk mendampingi Guraru dalam melayani bangsa. Saya ingin melihat bangsa Indonesia benar-benar menjadi bangsa yang sukses hidupnya, selalu berbuat kebaikan, amin.

  2. Terima kasih tak terhingga kepada pak Isna, pak Yusuf, dan pak Subakri yang telah meluangkan waktu sejenak untuk membaca masa kecilku dan merespon. Rasa indahnya berbagi di sini membuat sayapun setiap hari selalu online. Insya Allah semua sharing kita bermanfaat. Salam perjuangan.

  3. Amin YRA, terima kasih pak Subhan, maaf saya hanya ingin Guraru aware bahwa apapun tak ada yg sulit. Apalagi kita pendidik bangsa. Berjuang tak boleh setengah setengah, harus total dan dimulai dari diri sendiri, kemudian kesuksesan anak kita. Karena guru harus mampu menunjukkan contoh dalam segala aspek kehidupan. Marilah sejak janin, baik anak atau cucu, kita didik dg optimal, Insya Allah dlm hdpnya tak akan pernah mengeluh, kecewa, marah, sakit hati dll. Alhamdulillah mendiang orang tuaku spt itu, hingga pusing atau skt kepala dll tak pernah mampu mendekati kami. Jangan pernah menyimpan obat skt kepala dll, air adalah obat. The power of water is really verry strong, subhanallah. Thx 4 all, see you next.

  4. Amin. Selamat ya pak Sukani. Ini saya amat sibuk, karena ada yg mau nerbitkan cerpenku, hehehe. Saya juga hrs persiapan ke Amerika tahun depan, dapat job menulis pendidikan dalam 2 bahasa, berangkat Insya Allah tahun depan. Pak Sukani terus tingkatkan ilmu dan bhs Inggrisnya, suatu saat bisa ke Amerika. Kalau disana kerasan, mungkin saya dan bapak bisa 3 sd 4 tahun, hehehe. Dg Guraru tetap saya akan sharing online kan bisa dari manapun dan dimanapun. Kalau ada yg ingin studi banding, tidurnya bisa di rumah anakku. OK do the best, plz and take car, be heakthy.

  5. Terimakasih bunda atas ucapan selamatnya. Semua guraru adalah guru hebat.

    Wah, bagus itu bu. Semoga segera terbit bu cerpennya. Luar biasa. Dimanapun Bunda Etna berada saya doakan semoga sehat selalu bunda. Kita tetap sharing dan silaturahmi walaupun secara online. Terimakasih atas tawarannya. Siap laksanakan untuk terus meningkatkan kompetensi.

    Salam hormat,

  6. Bunda Etna… Jika nanti lama di Amerika…jangan lupa dengan lagu wajib “Tanah airku”. Tanah airku tidak kulupakan, kan terkenang selama hidupku, biarpun saya pergi jauh…tidak kan hilang dari kalbu…tanah ku yang kucintakan, engaku kuhargakan. Begitulah Dr Merlyna (orang Indonesia buangan jadi rebutan dan luar biasa di Amerika) dan ketika di Kick andy beliau menyanyikan lagu ini, wah bangga sekaligus haru mendengarnya, semoga patriotik tetap kuat bu.http://www.youtube.com/watch?v=I3dgwdi8Rbo

  7. Iya pak Sukani, terima kasih, Insya Allah bapak bisa.

    Pak Subhan, Insya Allah. Di sana tiap hari saya akan berbahasa Indonesia juga. Saya Insya Allah kembali pak. Sebenarnya dahulu saya minta pensiun dini, ternyata ditolak karena masih diperlukan. Sekarang saya sudah purna tugas dari PNS, namun masih saya tunda, karena sebenarnya sata ingin di Indonesia saja. Paling cepat berangkat tahun depan, mungkin sekitar 2 tahun saja. Iya Insya Allah tidak lupa pak. Terima kasih diingatkan.

  8. menurut referensi yang pernah saya baca memory usia 4 tahun ke bawah akan terhapus dengan sendirinya, kecuali ada media lain seperti foto kenangan atau cerita masa lalu dari sumber lain. maka dari itu kita lupa bagaimana dulu kita belajar berbicara, membaca atau lainnya. ini merupakan hal yang luar biasa! salam super

  9. Amin YRA. Terima kasih responnya pak. Saya tidak pernah di foto pak, bahkan sampai sekarang tak begitu suka foto. Saya waktu kecil bisa melihat jin, namun saya mohon pada Allah untuk tidak melihatnya lagi. Alhamdulillah setelah doa, sampai saat ini saya hanya merasakan adanya energi. Saya juga dapat melihat sesuatu seperti ada TV di otak kecil saya. Kakek, ibu, anak putri bungsuku juga demikian. Indera ke 6 saya sering bekerja walau saya tidur. Shg sy sering tahu banyak kejadian. Insya Allah kami sekeluarga dapat menggunakannya utk hal yg positif. Terima kasih pak perhatiaannya. Salam super.

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar