0

Kesiapan Guru di Era Baru (0)

Agus Wahidi, M.Pd May 12, 2021

Dalam menghadapi perubahan dan perkembangan pendidikan yang sangat cepat, Dr Jebul Suroso menyampaikan tata nilai yang disingkat dengan BAIK, merupakan singkatan dari Budaya Mutu, Akhlak Mulia, Inovatif dan Kolaboratif sebagai formula yang mujarab untuk menghadapi era baru. Budaya mutu yaitu budaya menjaga kualitas sumber daya manusia, pembelajaran dengan terus menerus beradaptasi dengan perkembangan teknologi modern. Akhlak mulia, melalui program pembinaan mental religius. Inovatif, terus berkomitmen memperkuat inovasi dan daya saing melalui pengembangan IPTEK yang bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. kolaboratif, meningkatkan produktivitasnya dengan kerja kolaboratif. membuka lebar peluang berkolaborasi dengan siapapun untuk menciptakan hal yang lebih baik dan lebih besar.

Tentang kesiapan pendidikan kita dalam menghadapi perubahan ke Era baru , Najeela Shihab menyampaikan keprihatinannya tentang kondisi pendidikan kita yang pada saat ini mengalami “Darurat Pendidikan”. Beliau menyampaikan bahwa pendidikan di Indonesia butuh perubahan. Karena apa yang dialami oleh murid-murid di kelas itu semakin tidak relevan dengan apa yang dibutuhkan pada saat mereka melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau ke lapangan pekerjaan dan menjadi seorang yang profesional. Namun perubahan seperti apa yang yang dapat dilakukan dan dapat mengatasi perubahan jaman sekarang ini? Najeela sendiri menganggap bahwa beliau tidak percaya satu-satunya cara melakukan perubahan pendidikan itu dengan cara perubahan kurikulum. Karena kita sudah punya banyak pengalaman, entah itu perubahan kebijakan hingga perubahan kepemimpinan di kementerian pendidikan dan kebudayaan yang dampaknya tidak langsung dirasakan oleh para murid. sehingga kebijakan dan kurikulum yang telah dibuat tersebut hanya sekedar menjadi dokumen dan tidak menjadi praktik yang konsisten di lapangan.

Dari ungkapan ahli dan praktisi pendidikan di atas saya dapat melihat bahwa Indonesia betul-betul memerlukan perubahan pada era baru ini. Dan saya meihat bahwa yang paling pokok diubah adalah pengembangan sumber daya gurunya sebagai aktor dalam pembelajaran di kelas.

Di lapangan oleh penulis yang nota bene adalah juga sebagai seorang guru. Menemui beberapa kali ganti kurikulum dari kurikulum KBK, KTSP, K13 hanya sekedar nomenklatur yang tidak diikuti praktik langsung di garis depan pendidikan yakni di kelas. Seringkali format RPP yang banyak diributkan pada saat pelatihan ketika dalam implementasi menjadi mentah semua karena kembali ke awal atau ke lagu lama. Kita lihat perubahan RPP dari jaman KTSP ke jaman terkini yang mengalami perubahan dari yang berlembar-lembar menjadi 1 lembar tetapi tujuan dari RPP tersebut tidak teraktualisasikan dalam kelas. RPP sebagai kambing hitam sebagai beban administras yang berat karena terlalu banyak sehingga berubah jadi satu lembar tetapi melihat wujudnya ternyata RPP yang 1 lembar itu hanya sebuah ringkasan yang didalamnya juga banyak lampiran-lampiran yang hampir sama dengan RPP RPP sebelumnya.

Menurut saya , yang namanya RPP adalah sebuah skenario pembelajaran yang harus dibuat sedetail dan sepraktis mungkin tentang apa yang dipelari, dan apa yang akan dilakukan oleh guru dan siswa yang menjadi pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran. Terkadang latah mengartikan bahwa RPP yang baik adalah yang mengaktifkan siswa maka kegiatan guru tidak usah ditampilkan. Padahal dengan menampilkan kegiatan guru juga kita dapat melihat dan merencanakan apa yang akan dilakukan di kelas.

Pelatihan-pelatihan yang dilakukan tentang RPP sebaiknya menyesuaikan dengan kondisi lapangan yang terupdate. RPP yang dihasilkan sebaiknya setiap pertemuan mengalami refleksi dan evaluasi sehingga lebih valid ketika dijadikan rujukan untuk pembelajaran selanjutnya dan penyusunan perencanaan pembelajaran selanjutnya.

Praktik lessson study yang sudah banyak dilakukan menjadi alternatif solusi model pelatohan tentang RPP. Lesson study mendasarkan pada data riil tentang kondisi siswa dan infrastrukturnya serta kontek lingkungan yang nyata adanya. Menjembatani teori dan praktik tentang pembelajaran. Peranan LPTK tentu diperlukan di sini. Seorang dosen diharapkan tidak canggung untuk terjun ke sekolah langsung untuk memberikan sumbangsih dalam penerapan teori dan praktik pembeajaran yang menyesuaikan perkembangan jaman. Apalagi sekarang kementrian pendidikan sudah melebur menjadi satu dengan pendidikan tinggi, sehingga intervensi pemerintah akan lebih mudah untuk menjembatani sekolah dengan perguruan tinggi.

No comments yet

You must be logged in to post a comment.

Login to your account

Can't remember your Password ?

Register for this site!

Skip to toolbar